Ada beberapa adegan yang menuai perhatian penonton di dua episode terakhir Perfect Crown (2026). Salah satunya ketika Seong Huiju (IU) menumpahkan teh ke dalam nampan penampung air untuk menolak suguhan Ibu Suri Yoon Yi Rang (Gong Seung Yeon) di episode 11. Penataan tersebut diangap mengarah ke upacara minum teh Tiongkok, bukan Korea Selatan.
Selain itu, netizen juga menyoroti adegan Ibu Suri duduk bersimpuh di hadapan Pangeran Agung Ian (Byeon Woo Seok) yang saat itu belum diangkat menjadi raja. Menurut penonton, adegan tersebut dianggap tidak lazim, lantaran kedudukan Ibu Suri di atas Pangeran Agung. Namun, ada penonton yang membela kalau Yoon Yi Rang melakukan hal itu bukan sebagai Ibu Suri, melainkan seorang ibu.
Selanjutnya, adegan di ending episode 11, saat penobatan Ian sebagai raja dianggap mendistorsi sejarah. Pasalnya, setelah Raja Ian sudah berada di singgasana, kabinet dan keluarga kerajaan bukan bersorak, "Manse", melainkan "Cheonse".
Manse merupakan ungkapan yang diperuntukkan untuk kaisar. Sementara pemilihan ungkapan Cheonse yang memiliki arti sama, tetapi statusnya lebih rendah dianggap merusak status kemerdekaan Korea Selatan sebagai negara bawahan. Selain itu, mereka juga menyadari seharusnya mahkota yang digunakan Raja Ian adalah Sibyeonryugwan (mahkota sepuluh wajah), bukan Goryumyeonryugwan (mahkota yang dikenakan oleh rakyat Tiongkok).
"Kami dengan tulus menundukkan kepala memohon maaf, karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait latar dunia dan masalah keakuratan sejarah. Kami menanggapi dengan serius kritik pemirsa, bahwa adegan selama upacara penobatan di mana Raja mengenakan Goryumyeonryugwan dan rakyatnya meneriakkan 'Cheonse', merusak status kemerdekaan negara kita. Masalah ini muncul karena kami gagal meneliti dengan cermat bagaimana etiket Joseon berkembang sepanjang sejarah," kata tim produksi Perfect Crown (2026), dilansir Chosun.