Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Eun Ho Bosan Hidup di Dunia Manusia dalam No Tail To Tell

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)
Intinya sih...
  • Kehidupan manusia terjebak dalam pola yang monoton, tanpa perubahan berarti selama ribuan tahun.
  • Ambisi manusia tak pernah puas dan menciptakan lingkaran keinginan yang tak pernah selesai.
  • Emosi manusia terasa dangkal dan mudah berubah, membuat Eun Ho sulit menghargai hubungan manusia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di drakor No Tail To Tell, Eun Ho (Kim Hye Yoon) digambarkan sebagai gumiho yang telah hidup ribuan tahun di dunia manusia, dan menyaksikan perubahan zaman dari era Joseon hingga modern. Alih-alih merasa kagum dengan kemajuan peradaban, Eun Ho justru menunjukkan ekspresi jenuh yang semakin jelas seiring berjalannya cerita, seolah dunia manusia tak lagi menawarkan hal baru baginya.

Kebosanan Eun Ho bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan akumulasi panjang dari pengalaman, pengamatan, dan kekecewaan terhadap pola hidup manusia yang terus berulang. Dari rutinitas hingga emosi yang dianggapnya klise, ada lima alasan utama yang menjelaskan mengapa Eun Ho merasa bosan hidup di dunia manusia dalam No Tail To Tell.

1. Kehidupan manusia selalu berputar di pola yang sama

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Bagi Eun Ho, dunia manusia terasa monoton karena selalu terjebak dalam siklus yang berulang. Manusia lahir, tumbuh, bekerja, menua, lalu mati, dan pola ini terus terulang tanpa perubahan berarti. Meski zaman berganti dan teknologi berkembang, esensi kehidupan manusia di mata Eun Ho tetap sama seperti ratusan tahun lalu.

Sebagai makhluk abadi, Eun Ho telah menyaksikan ribuan kehidupan berlalu dengan cerita yang nyaris identik. Apa yang dianggap manusia sebagai pengalaman unik, baginya hanyalah pengulangan yang melelahkan. Inilah yang membuat dunia manusia terasa statis dan sangat membosankan di mata Eun Ho.

2. Ambisi manusia selalu berujung pada kekecewaan

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Eun Ho melihat manusia sebagai makhluk yang dipenuhi ambisi, tetapi jarang benar-benar puas. Mereka mengejar uang, kekuasaan, dan pengakuan, tapi ketika berhasil mendapatkannya, justru merasa kosong dan ingin lebih. Pola ini berulang tanpa akhir, menciptakan lingkaran keinginan yang tak pernah selesai.

Sebagai gumiho, Eun Ho sering memanfaatkan ambisi ini untuk kepentingannya sendiri. Namun semakin lama, ia justru muak melihat manusia yang terus menginginkan lebih tanpa pernah belajar dari kegagalannya. Ambisi yang tak berujung ini menjadi salah satu sumber kebosanan terbesar Eun Ho terhadap dunia manusia.

3. Emosi manusia terasa dangkal dan mudah berubah

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Cinta, benci, marah, dan bahagia adalah emosi yang sering dianggap kompleks oleh manusia. Namun bagi Eun Ho, emosi tersebut terasa dangkal dan cepat berubah. Seseorang bisa bersumpah setia hari ini, lalu mengkhianati keesokan harinya demi kepentingan pribadi.

Sebagai makhluk yang hidup jauh lebih lama, Eun Ho menilai emosi manusia terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan. Ia telah melihat cinta berubah menjadi kebencian, dan persahabatan runtuh hanya karena keuntungan sesaat. Ketidakstabilan emosi ini membuat Eun Ho sulit menghargai hubungan manusia, sekaligus memperkuat rasa bosannya.

4. Kebahagiaan manusia hanya bersifat sementara

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Salah satu hal yang paling membuat Eun Ho jenuh adalah cara manusia memaknai kebahagiaan. Di matanya, kebahagiaan manusia hanya muncul sebagai jeda singkat di antara penderitaan panjang. Setelah satu kebahagiaan tercapai, akan selalu ada masalah baru yang menunggu.

Eun Ho telah menyaksikan manusia tertawa hari ini, lalu menangis esok hari karena kehilangan atau kegagalan. Pola kebahagiaan sementara ini, membuat hidup manusia terasa melelahkan untuk diikuti. Bagi Eun Ho, kebahagiaan seperti ini tidak sebanding dengan penderitaan yang harus dibayar.

5. Dunia manusia terlalu membatasi kebebasan

still cut drama Korea No Tail To Tell
still cut drama Korea No Tail To Tell (dok. SBS/No Tail To Tell)

Meski hidup di dunia manusia memberinya kemudahan tertentu, Eun Ho tetap merasa terkungkung oleh aturan dan norma sosial. Manusia hidup di bawah hukum, moral, dan tuntutan sosial yang membatasi kebebasan mereka sendiri. Hal ini sangat lah bertolak belakang dengan hakikat Eun Ho sebagai makhluk yang terbiasa hidup tanpa batas.

Ia harus menyembunyikan jati diri, menahan kekuatan, dan berpura-pura mengikuti aturan manusia demi tetap bertahan. Kebebasan yang semu ini perlahan menggerogoti minat Eun Ho terhadap dunia manusia. Baginya, hidup dengan terlalu banyak batasan adalah sumber kebosanan yang tak terhindarkan.

Pada akhirnya, kebosanan Eun Ho terhadap dunia manusia menjadi refleksi dari jarak yang tak bisa dijembatani antara makhluk abadi dan manusia fana dalam No Tail To Tell. Dunia manusia mungkin penuh warna bagi mereka yang hidup singkat, tetapi bagi Eun Ho, semua itu hanyalah pengulangan tanpa makna baru. Melalui sudut pandang Eun Ho, No Tail To Tell menghadirkan pertanyaan mendalam tentang arti hidup, kebebasan, dan kepuasan yang berbeda bagi setiap makhluk yang menjalaninya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Korea

See More

5 Kesulitan Keum Bo dalam Penyamaran di Undercover Miss Hong

23 Jan 2026, 10:51 WIBKorea