3 Film Korea tentang Kehidupan Malang Putra Mahkota Era Dinasti Joseon

- The Throne (2015) menceritakan kehidupan malang Putra Mahkota Sado yang diurung ayahnya hingga meninggal.
- Warriors of the Dawn (2017) mengisahkan perjuangan Putra Mahkota Gwanghae dalam peperangan pada masa awal Perang Imjin tahun 1592.
- The Night Owl (2022) menampilkan kisah tragis Putra Mahkota So Hyun yang disandera dan meninggal secara misterius setelah pulang ke Joseon.
Film bertema sageuk memiliki basis penggemar yang cukup banyak, baik di dalam maupun di luar Korea Selatan. Hingga saat ini pun, karya sageuk tidak pernah absen setiap tahunnya dengan latar belakang tokoh utama yang berbeda-beda.
Kisah putra mahkota juga beberapa kali diangkat menjadi cerita utama. Contohnya seperti tiga film berikut ini yang mengungkap kehidupan malang putra mahkota era Dinasti Joseon. Simak, yuk!
1. The Throne (2015)

The Throne merupakan film yang menceritakan kehidupan malang Putra Mahkota Sado (Yoo Ah In). Saat ditayangkan di bioskop Korea Selatan, film yang diarahkan oleh sutradara Lee Joon Ik ini berhasil mencapai 6,2 juta penonton.
Dalam film ini, ditunjukkan bahwa Raja Yeongjo (Song Kang Ho) ingin anaknya, Putra Mahkota Sado, akan menjadi raja yang diakui oleh semua orang. Hal itu didorong oleh ambisi Raja Yeongjo untuk menjadi raja yang sempurna akibat rumor bahwa ia membunuh kakaknya demi takhta.
Awalnya ia senang karena Putra Mahkota Sado memiliki kecerdasan yang luar biasa sejak kecil. Namun, Raja menjadi kecewa karena putranya lebih senang bermain-main daripada fokus pada studi kerajaan seiring bertambah dewasa.
The Throne menampilkan serangkaian peristiwa yang menyebabkan keretakan hubungan Putra Mahkota Sado dan ayahnya. Pada akhirnya, Raja Yeongjo pun mengurung anaknya di peti beras kayu selama 8 hari hingga meninggal dunia.
2. Warriors of the Dawn (2017)

Warriors of the Dawn menggunakan latar waktu pada masa awal Perang Imjin tahun 1592. Saat itu, Dinasti Joseon dipimpin oleh Raja Seonjo (Park Ho San). Namun, sang raja meninggalkan ibukota dan memerintahkan anaknya, Gwanghae (Yeo Jin Goo) yang baru dilantik menjadi Putra Mahkota untuk mengambil alih komando militer.
Gwanghae saat itu masih berusia 18 tahun dan belum berpengalaman. Oleh karena itu, ia tidak bisa berbuat banyak pada awalnya. Isu bahwa Raja Seonjo mencoba membunuhnya semakin membuat Putra Mahkota Gwanghae terpukul. Beruntungnya, tentara pengganti veteran yang bernama To Woo (Lee Jung Jae) membantunya untuk menjadi lebih kuat dalam peperangan itu.
3. The Night Owl (2022)

Kehidupan tragis putra mahkota lain diceritakan di film The Night Owl. Cerita yang diangkat kali ini adalah tentang Putra Mahkota So Hyun (Kim Sung Cheol). Diperlihatkan bahwa anak Raja Injo (Yoo Hae Jin) ini baru pulang ke Joseon setelah disandera selama 8 tahun oleh Dinasti Qing.
Raja Injo memang senang menyambut putranya, tetapi ia juga merasa khawatir karena beberapa alasan. Hingga suatu malam, Putra Mahkota So Hyun mendadak meninggal dunia. Kematiannya disaksikan oleh Kyung Soo (Ryu Jun Yeol), ahli akupuntur buta yang hanya bisa melihat pada malam hari. Ia ingin mengungkapkan kebenaran, tapi malah menemukan sebuah konspirasi besar.
Tampaknya hubungan yang renggang dengan sang raja menjadi penyebab dari kemalangan tiga putra mahkota dalam film-film di atas, ya. Mana cerita yang paling menyayat hatimu, nih?
FAQ Seputar Film Korea Kehidupan Putra Dinasti Joseon
| Apa tema utama dari film-film Korea yang dibahas dalam artikel ini? | Film-film ini berlatar era Dinasti Joseon (sageuk) dan menceritakan kehidupan tragis dan malang para Putra Mahkota yang menghadapi konflik, ancaman, atau nasib buruk. |
| Siapakah tokoh Putra Mahkota yang diceritakan dalam film The Throne? | Film ini mengisahkan tentang Putra Mahkota Sado (diperankan oleh Yoo Ah In), yang dihukum dan dikurung oleh ayahnya, Raja Yeongjo, di dalam peti beras kayu hingga meninggal dunia. |
| Kisah tragis apa yang menjadi fokus utama dalam film The Night Owl? | Film ini berfokus pada kematian mendadak Putra Mahkota So Hyun (diperankan oleh Kim Sung Cheol) setelah kembali dari disandera oleh Dinasti Qing, yang kemudian diselidiki oleh seorang ahli akupuntur buta. |



















