Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Perempuan Rentan jadi Korban Kejahatan di Honour?

Kenapa Perempuan Rentan jadi Korban Kejahatan di Honour?
Cuplikan drakor Honour (x.com/channel_ena)
Intinya Sih
  • Drakor Honour (2026) menyoroti kisah Yoon Ra Young dan dua sahabatnya yang mendirikan firma hukum untuk membantu perempuan korban kekerasan mencari keadilan.
  • Budaya patriarki, ketimpangan ekonomi, serta dominasi kekuasaan laki-laki digambarkan sebagai faktor utama yang membuat perempuan rentan jadi korban kejahatan.
  • Lemahnya perlindungan hukum dan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan memperparah sulitnya korban mendapatkan keadilan dalam kasus kekerasan dan pelecehan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Drakor Honour (2026) secara khusus menceritakan tentang kehidupan perempuan yang sangat rentan jadi korban kekerasan. Yoon Ra Young (Lee Na Young) menjadi salah satu bukti korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh mantan pacarnya. Dia sadar jika selama ini dunia gak berpihak pada perempuan korban kekerasan dan pelecehan.

Sejak saat itu, Yoon Ra Young dan dua sahabatnya, Kang Shin Jae (Jung Eun Chae) dan Hwang Hyun Jin (lee Chung Ah), mendirikan sebuah firma hukum khusus untuk membantu para perempuan yang mencari keadilan hukum. Lalu, kenapa perempuan sangat rentan jadi korban kejahatan di drakor Honour?

Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.

1. Budaya patriarki yang masih kental

Cuplikan drakor Honour
Cuplikan drakor Honour (x.com/channel_ena)

Sekalipun telah berkembang, budaya patriarki masih jelas terasa di kehidupan sehari-hari. Dengan budaya ini, laki-laki umumnya diberikan akses lebih mudah untuk mendapatkan posisi kuasa yang lebih tinggi. Buktinya, berbagai pelaku kejahatan ini adalah laki-laki yang punya kuasa lebih tinggi daripada korbannya.

Park Je Yeol (Seo Hyun Woo) menggunakan kuasanya sebagai jaksa untuk mendapatkan berbagai akses ke perempuan yang dianggap lemah dan gak bisa melawannya. Buktinya, dia menggunakan akses dari berbagai kasus yang ditangani untuk menekan para perempuan yang terkait untuk lebih mudah lepas dari kasus tersebut dengan berbagai syarat. Hal ini sangat memungkinkan Park Je Yeol mendapatkan banyak akses dengan kuasa dan pekerjaannya sebagai jaksa.

2. Ketimpangan ekonomi dan kekuasaan

Cuplikan drakor Honour
Cuplikan drakor Honour (x.com/channel_ena)

Ketimpangan ekonomi dan finansial ini memang erat kaitannya dengan akses pendidikan dan kekuasaan yang didapatkan perempuan. Salah satu contohnya adalah kasus Jo Yoo Jeong (Park Se Hyun) yang harus berhadapan dengan hukum karena dituduh melakukan pencurian tas. Saat itu, Jo Yoo Jeong harus membayar sejumlah uang.

Sayangnya, Jo Yoo Jeong gak bisa keluar dari kasus tersebut dengan mudah. Seorang detektif, yang belakangan diketahui sebagai Kim Seung Jin (Jung Hee Tae), merupakan sosok yang membuat Jo Yoo Jeong mengunduh aplikasi Connect In tersebut. 

3. Lemahnya perlindungan hukum

Cuplikan drakor Honour
Cuplikan drakor Honour (x.com/channel_ena)

Korban kekerasan dan pelecehan seksual ini umumnya akan sulit mendapatkan keadilan. Mereka biasanya tertekan dengan pandangan sosial dan berbagai narasi buruk mengenai hal ini. Gak hanya itu, pelecehan seksual biasanya lebih sulit untuk dibuktikan karena berada di tempat tertutup atau dilakukan secara diam-diam.

Imbasnya, kasus ini bisa jadi kesulitan mencari saksi mata karena tempat kejadian yang cukup privat. Selain itu, pandangan petugas dan penegak hukum juga menjadi faktor penting dalam berjalannya kasus hukum tersebut, lho.

4. Perbedaan fisik dan kekuatan tubuh

Cuplikan drakor Honour
Cuplikan drakor Honour (x.com/channel_ena)

Umumnya, laki-laki punya kekuatan fisik yang lebih besar daripada perempuan. Kondisi ini bisa menjadikan perempuan lebih rentan jadi korban kekerasan dan pelecehan. Gak hanya itu, kondisi budaya yang menempatkan perempuan untuk lebih pasif dan menjaga stabilitas membuat mereka juga lebih mudah menjadi korban. Hal ini membuat posisi perempuan akan lebih rentan.

Sekalipun ini bukan bentuk generalisasi, sayangnya, praktik ini masih sangat mudah ditemui di berbagai tempat. Buktinya, karakter Yoon Ra Young di usia 20 tahun ini juga mengalami pengalaman yang serupa. Dia menolak dengan tegas sentuhan pacarnya saat itu dan berusaha melawan. Sayangnya, dirinya gak punya kekuatan lebih untuk bisa menumbangkan fisik pacarnya saat itu.

Kondisi ini cukup menarik untuk dipelajari. Penegakan hukum dan perspektif budaya memang wajib dan harus terus dilakukan. Sayangnya, berbagai kasus kekerasan pada perempuan masih belum jadi prioritas pemerintah dari berbagai negara. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Korea

See More