5 Perubahan Budaya Perusahaan Typhoon Trading di Typhoon Family

Drakor Typhoon Family mengambil latar tahun 1997-1998 saat terjadi krisis ekonomi di negara-negara Asia, termasuk Korea Selatan. Pusat cerita drakor ini terletak pada kisah Kang Tae Poong (Lee Junho) yang jatuh bangun dengan usahanya menyelamatkan perusahaan Typhoon Trading yang didirikan ayahnya.
Dalam waktu kurang dari setahun setelah menjadi CEO, Kang Tae Poong tidak hanya bisa perlahan meraih sukses. Namun, ia juga berhasil mengubah beberapa budaya perusahaan Typhoon Trading menjadi lebih positif dan adil. Di antaranya, berkaitan dengan lima hal berikut. Simak, yuk.
1. Aturan berpakaian lebih bebas asal sopan

Di awal Typhoon Family, pegawai Typhoon Trading biasa memakai pakaian formal saat bekerja. Aturan tak tertulis soal berpakaian ini juga tetap ada saat Kang Tae Poong pertama bergabung dengan perusahaan. Kang Tae Poong juga sempat bekerja mengenakan jas dan kemeja lengkap dengan dasi.
Setelah Kang Tae Poong menjadi CEO dengan pegawainya hanya tersisa satu orang, yakni Oh Mi Seon (Kim Min Ha), aturan soal pakaian ini mulai berubah. Kang Tae Poong dan Oh Mi Seon kerap bekerja di kantor dengan pakaian semi formal bahkan kasual.
Saat satu per satu pegawai lama kembali bergabung, mereka juga mengikuti budaya baru ini. Meski aturan soal baju ke kantor lebih bebas, Kang Tae Poong dan pegawai tetap akan tampil formal saat diperlukan. Contohnya, saat mereka pergi ke instansi Jasa Pengadaan Umum untuk mengurus kontrak tender.
2. Perempuan bisa menjadi staf penjualan

Di era 1990an, perempuan kerap dibatasi perihal jenis pekerjaan yang dilakoni. Hal ini tampak dari komentar Go Ma Jin (Lee Chang Hoon) yang bilang perempuan tidak seharusnya bekerja sebagai staf penjualan. Namun, pandangan ini berubah sejak kepemimpinan Kang Tae Poong.
Kang Tae Poong lebih menghargai kompetensi dan kerja keras daripada gelar. Ia juga tidak berpandangan patriarki. Baginya, pria dan perempuan punya hak yang sama di tempat kerja. Melihat kemampuan Oh Mi Seon, Kang Tae Poong sendiri yang pergi merekrut gadis itu sebagai staf senior di divisi penjualan.
3. Tidak ada lagi budaya misogini atau patriarki

Awalnya, budaya patriarki masih kental terasa di kantor Typhoon Trading. Para pegawai, misalnya, suka menyuruh Oh Mi Seon untuk membuat kopi dan membersihkan kantor. Namun, Kang Tae Poong mendobrak stigma dengan ia sering membuatkan kopi untuk pegawai lain atau tamu. Ia juga mengajak pegawai lain untuk bersih-bersih kantor, seperti saat mereka pindah ke tempat baru.
4. CEO bekerja satu ruangan dengan pegawai

Sebelumnya, CEO Typhoon Trading bekerja di ruangan sendiri sama seperti perusahaan-perusahaan kebanyakan. Meski begitu, Kang Tae Poong menolak melakukannya. Alasan pertama, ruangan CEO di kantor ini adalah milik mendiang ayahnya, Kang Jin Young (Sung Dong Il). Alasan kedua, Kang Tae Poong lebih suka berbaur langsung dengan pegawai lainnya sebagai satu tim.
5. Makan siang tidak harus menu yang sama

Pada awalnya, menu makan siang para pegawai Typhoon Trading didasarkan pada suara mayoritas. Saat tahu budaya ini, Kang Tae Poong tak terlalu menyukainya sebab selera orang berbeda-beda. Karena itu, setelah menjadi CEO, Kang Tae Poong membiarkan tiap pegawai memilih menu makanan sendiri dan satu menu yang disukai semua orang saat pesan antar untuk makan siang.
Kang Tae Poong memang masih newbie sehingga ia banyak mengalami kesulitan untuk meraih sukses dengan bisnisnya dalam drakor Typhoon Family. Namun, nyatanya dengan tidak hanya berfokus pada keuntungan, ia juga bisa mengubah beberapa aspek dalam budaya perusahaan Typhoon Trading jadi lebih adil dan positif.


















