5 Prediksi Nasib Jang Geon Young di Akhir Made in Korea

Di tengah dunia gelap drakor Made in Korea yang dipenuhi kompromi, manipulasi, dan kekuasaan tanpa moral, Jang Geon Young (Jung Woo Sung) hadir sebagai anomali. Ia adalah jaksa yang menolak tunduk, sosok yang tetap berdiri tegak ketika hukum justru dipelintir oleh mereka yang seharusnya menjaganya. Keberadaannya bukan sekadar penyeimbang Baek Ki Tae (Hyun Bin), tetapi juga representasi harapan yang rapuh di dalam sistem yang nyaris runtuh.
Namun, drama ini sejak awal memberi sinyal bahwa idealisme tidak selalu berujung pada kemenangan manis. Nasib Jang Geon Young di akhir cerita berpotensi sama kompleks dan pahitnya dengan dunia yang ia lawan. Berikut lima prediksi nasib Jang Geon Young di akhir Made in Korea dan makna yang menyertainya bagi keseluruhan cerita.
1. Berhasil mengungkap kejahatan, tetapi kehilangan segalanya

Prediksi paling tragis sekaligus realistis adalah Jang Geon Young berhasil membongkar kejahatan Baek Ki Tae, tetapi harus membayar harga yang sangat mahal. Ia mungkin kehilangan karier, reputasi, atau bahkan orang-orang terdekat yang selama ini menjadi sandaran emosionalnya.
Dalam skenario ini, kemenangan hukum tidak identik dengan kemenangan pribadi. Jang Geon Young membuktikan kebenaran, tetapi hidupnya hancur dalam proses tersebut. Made in Korea bisa menggunakan akhir ini untuk menegaskan bahwa keadilan di dunia nyata sering kali datang dengan pengorbanan yang tidak sebanding.
2. Disingkirkan oleh sistem yang tidak ingin berubah

Sebagai jaksa yang terlalu jujur, Jang Geon Young juga berpotensi disingkirkan secara struktural. Ia bisa dipindahkan, diturunkan jabatannya, atau dikucilkan dengan alasan administratif yang tampak sah di permukaan.
Nasib ini akan memperlihatkan wajah paling dingin dari sistem hukum. Bukan pelaku kejahatan yang dihukum, melainkan orang yang terlalu keras kepala menuntut kebenaran. Akhir seperti ini menegaskan bahwa sistem sering kali lebih takut pada orang jujur dibanding penjahat yang bisa diajak kompromi.
3. Menjadi simbol perlawanan, bukan pemenang mutlak

Kemungkinan lain adalah Jang Geon Young tidak sepenuhnya menang, tetapi berhasil membuka mata publik. Bukti-bukti yang ia ungkap mungkin tidak cukup untuk menjatuhkan semua pihak, namun cukup untuk memicu keraguan dan tekanan sosial.
Dalam skenario ini, Jang Geon Young tidak menjadi pahlawan yang dielu-elukan, melainkan simbol perlawanan yang sunyi. Ia menyalakan api kecil di tengah gelapnya sistem. Made in Korea bisa memilih akhir ini untuk menekankan bahwa perubahan besar sering dimulai dari tindakan yang tampak gagal.
4. Bertahan hidup, tetapi mengubah prinsipnya

Prediksi yang paling ambigu adalah Jang Geon Young tetap bertahan di sistem, tetapi dengan prinsip yang mulai berkompromi. Ia mungkin tidak sepenuhnya menyerah, tetapi belajar memilih pertempuran dan mengendurkan idealismenya demi bertahan.
Akhir seperti ini akan sangat pahit, karena menunjukkan bagaimana sistem akhirnya berhasil “menjinakkan” orang paling lurus sekalipun. Jang Geon Young tidak berubah menjadi korup, tetapi juga tidak lagi sekeras dulu. Made in Korea bisa menggunakan jalur ini untuk menunjukkan betapa kuatnya tekanan struktural terhadap individu.
5. Menghilang sebagai jaksa, tetapi bertahan sebagai manusia

Prediksi terakhir adalah Jang Geon Young meninggalkan dunia hukum sama sekali. Ia mungkin mundur, mengundurkan diri, atau memilih hidup di luar sistem yang selama ini ia lawan. Keputusan ini bukan kekalahan, melainkan bentuk penyelamatan diri.
Dalam skenario ini, Jang Geon Young menyadari bahwa kebenaran tidak selalu bisa ditegakkan dari dalam. Ia memilih bertahan sebagai manusia utuh, meski gagal sebagai simbol hukum ideal. Akhir seperti ini menutup cerita dengan nada reflektif, bukan heroik.
Kelima prediksi ini menegaskan bahwa nasib Jang Geon Young tidak akan sederhana atau sepenuhnya memuaskan. Made in Korea sejak awal bukan cerita tentang kemenangan mutlak, melainkan tentang benturan antara idealisme dan realitas. Apa pun akhir yang dipilih, perjalanan Jang Geon Young dalam Made in Korea kemungkinan akan meninggalkan satu pesan pahit, bahwa memperjuangkan kebenaran adalah pilihan paling berani, sekaligus paling menyakitkan, di dunia yang menormalisasi kebohongan.



















