Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pekerja kantoran
ilustrasi pekerja kantoran (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Otak lebih suka hasil cepat daripada manfaat jangka panjang.

  • Otak sering meremehkan waktu dan usaha yang dibutuhkan.

  • Otak sering keliru memprediksi dampak emosional karier.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih, kamu merasa sudah punya rencana karier yang jelas, tapi entah kenapa eksekusinya sering melenceng? Banyak orang mengira hambatan karier datang dari faktor eksternal, seperti persaingan kerja atau kurangnya kesempatan. Padahal, musuh terbesarnya justru sering berasal dari dalam kepala sendiri, lho.

Dilansir Forbes, otak manusia ternyata gak selalu dirancang untuk berpikir jangka panjang, terutama soal karier. Berbagai riset psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa cara kerja otak bisa secara halus menggagalkan tujuan profesionalmu. Kalau kamu ingin karier yang berkelanjutan, penting banget memahami fakta-fakta ini.

1. Otak lebih suka hasil cepat daripada manfaat jangka panjang

ilustrasi otak (freepik.com/freepik)

Kamu mungkin punya target besar, seperti naik jabatan atau menguasai skill baru, tapi tetap saja tergoda melakukan hal-hal kecil yang hasilnya instan. Ini bukan semata soal kurang disiplin, melainkan karena otakmu memprioritaskan kepuasan jangka pendek. Fenomena ini dikenal sebagai temporal discounting, yaitu kecenderungan otak menilai hadiah di masa depan sebagai sesuatu yang kurang berharga dibandingkan kesenangan saat ini.

Menurut penelitian dalam Scientific Reports, individu yang memiliki tingkat temporal discounting tinggi cenderung lebih sering menunda tugas penting yang berkaitan dengan tujuan jangka panjang. Hal ini menjelaskan kenapa pekerjaan strategis untuk karier sering terasa berat, meski kamu tahu dampaknya besar. Target yang hasilnya masih jauh terasa kurang memotivasi secara emosional. Akibatnya, langkah kecil yang seharusnya kamu lakukan hari ini terus tertunda.

2. Otak sering meremehkan waktu dan usaha yang dibutuhkan

ilustrasi pria sibuk bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

Pernah merencanakan satu tugas karier yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata memakan waktu jauh lebih lama? Ini bukan karena kamu kurang kompeten, melainkan akibat bias kognitif yang disebut planning fallacy. Otak cenderung menyederhanakan gambaran tugas di masa depan dan mengabaikan kompleksitas yang sebenarnya.

Menurut penelitian dalam jurnal Nature, manusia membangun representasi mental yang lebih ringkas saat merencanakan sesuatu. Hal ini terjadi karena kapasitas kognitif yang terbatas, sehingga otak “memotong” detail yang dianggap gak penting. Dalam konteks karier, ini membuatmu terlalu optimis saat menyusun rencana. Ketika realitas gak sesuai ekspektasi, kepercayaan diri bisa turun dan motivasi ikut melemah.

3. Otak sering keliru memprediksi dampak emosional karier

ilustrasi stres kerjaan (pexels.com/Yan Krukau)

Keputusan karier bukan cuma soal gaji dan jabatan, tapi juga soal kepuasan dan makna hidup. Sayangnya, otak sering salah menebak bagaimana perasaanmu di masa depan. Riset psikologi menunjukkan bahwa manusia kerap melebih-lebihkan dampak emosional dari pencapaian atau kegagalan karier.

Kesalahan ini berkaitan dengan focusing illusion, yaitu kondisi ketika kamu terlalu fokus pada satu aspek, seperti promosi atau status. Akibatnya, kamu mengira pencapaian tersebut akan membawa kebahagiaan besar dan permanen. Padahal, faktor lain seperti rutinitas harian, beban kerja, dan keseimbangan hidup sering kali lebih menentukan kepuasan jangka panjang. Distorsi ini bisa membuatmu mengejar tujuan yang sebenarnya gak sejalan dengan nilai pribadimu.

4. Otak punya kecenderungan alami untuk menunda

ilustrasi distraksi ponsel (pexels.com/Anna Shvets)

Menunda pekerjaan penting sering dianggap sebagai masalah karakter, padahal ada dasar biologisnya, lho. Prokrastinasi berkaitan erat dengan bagaimana otak memandang hubungan antara diri saat ini dan diri di masa depan. Jika koneksi ini lemah, masa depan terasa jauh dan gak relevan.

Menurut penelitian dalam Cognitive, Affective & Behavioral Neuroscience, aktivitas di area otak bernama dorsolateral prefrontal cortex berperan dalam pengendalian diri dan orientasi masa depan. Ketika area ini kurang aktif, kecenderungan menunda akan meningkat. Artinya, kamu bukan kurang ambisi, tapi otakmu belum sepenuhnya “merasakan” konsekuensi masa depan. Inilah alasan kenapa rencana karier sering berhenti di atas kertas.

Otak manusia memang luar biasa, tapi bukan tanpa kelemahan, terutama dalam urusan perencanaan karier jangka panjang. Bias kognitif, kesalahan prediksi emosi, dan kecenderungan menunda bisa diam-diam menghambat perkembangan profesionalmu.

Dengan memahami cara kerja otak, kamu bisa lebih realistis dan strategis saat menyusun langkah karier. Kuncinya bukan melawan otak, tapi menyesuaikan rencana dengan cara berpikir yang lebih ramah bagi sistem kognitifmu. Semakin sadar kamu terhadap jebakan mental ini, semakin besar peluang kariermu berkembang secara berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team