Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Overthinking soal switch career
ilustrasi overthinking soal switch career (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intinya sih...

  • Pisahkan rasa takut dari fakta nyata, buat daftar risiko yang realistis.

  • Ubah sudut pandang dari "mulai dari nol" ke "bawa modal lama", kamu punya modal yang tidak terlihat.

  • Validasi lewat langkah kecil, terima bahwa tidak semua jawaban harus ada sekarang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa takut saat ingin pindah jalur karier itu wajar, bahkan pada orang yang terlihat percaya diri. Kadang kamu sudah tahu apa yang kamu inginkan, tetapi kepalamu sibuk memutar skenario buruk yang belum tentu terjadi. Di situ, kamu butuh cara berpikir yang lebih tenang, bukan cuma keberanian sesaat.

Ada saatnya kerja keras tidak lagi jadi masalah utama, karena yang menahanmu justru keraguan dan kebingungan. Kamu ingin maju, tetapi kamu juga tidak mau gegabah sampai merusak kehidupan yang sudah kamu susun. Di artikel ini, kamu akan menemukan lima cara untuk meyakinkan diri ketika switch career terasa menakutkan.a

1. Pisahkan rasa takut dari fakta nyata

ilustrasi memeriksa prospek kerja sebelum switch career (pexels.com/MART PRODUCTION)

Rasa takut sering lahir dari bayangan skenario terburuk yang terasa begitu nyata di pikiran. Karena itu, penting untuk memisahkan risiko yang benar-benar realistis dan kekhawatiran yang tak berdasar. Dengan begitu, keputusan besar tidak kamu ambil dalam keadaan kalut.

Coba buat daftar singkat, lalu beri tanda pada hal-hal yang bisa kamu ukur secara objektif. Misalnya kebutuhan bulanan, prospek pekerjaan, atau target belajar yang realistis. Pelan-pelan, ketakutanmu akan lebih mudah dikendalikan, walau belum tentu lenyap total.

2. Ubah sudut pandang dari "mulai dari nol" ke "bawa modal lama"

ilustrasi wanita yang bimbang soal switch career (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Pindah jalur karier bukan berarti kamu membuang semua yang sudah kamu kumpulkan. Pengalaman kerja, cara memecahkan masalah, dan kebiasaan berkomunikasi tetap ikut terbawa, walau bidangnya berbeda. Bahkan soft skill sering jadi pembeda yang membuat transisimu lebih cepat.

Kadang kamu merasa tidak pantas memulai, karena melihat orang lain lebih dulu ahli. Namun kamu punya modal yang tidak terlihat, seperti disiplin, kemampuan belajar, dan pemahaman ritme kerja profesional. Saat kamu mengingat itu, langkahmu biasanya terasa lebih ringan.

3. Validasi lewat langkah kecil, bukan keputusan besar

ilustrasi mengerjakan side project (pexels.com/Michael Burrows)

Keyakinan jarang muncul dari niat besar yang diceramahkan ke diri sendiri. Ia lebih sering lahir dari bukti kecil, misalnya menyelesaikan tugas latihan, mencoba proyek mini, atau merasakan progres yang nyata. Jadi, fokuslah pada tindakan kecil yang bisa kamu lakukan minggu ini.

Kamu bisa mulai dari side project sederhana, ikut kursus singkat, atau mengambil freelance ringan untuk menguji minat. Dari situ kamu mendapat sinyal, apakah kamu menikmati prosesnya atau justru makin tersiksa. Bukti seperti ini biasanya lebih jujur daripada semangat yang naik turun.

4. Terima bahwa tidak semua jawaban harus ada sekarang

ilustrasi suasana kerja di kantor (pexels.com/fauxels)

Banyak orang menunda pindah jalur karena ingin kepastian penuh, padahal hidup jarang memberikan itu. Kamu bisa menyiapkan rencana, tetapi kamu tidak harus menunggu rasa aman yang sempurna. Kejelasan sering muncul setelah kamu bergerak beberapa langkah, bukan sebelum kamu mulai.

Kadang kamu hanya perlu cukup yakin, bukan yakin seratus persen. Kamu boleh ragu, selama kamu tetap punya arah dan cara untuk memantau perkembangan. Jika kamu memaksa semuanya harus terjawab dari awal, kamu akan kehabisan energi sebelum benar-benar mencoba.

5. Bandingkan rasa takut bertumbuh dengan rasa takut stagnan

ilustrasi overthinking tentang switch career (pexels.com/Inkverse Store)

Takut berkembang itu wajar, karena rasanya tidak selalu nyaman. Tapi takut bertahan di tempat yang sama juga punya beban yang diam-diam menggerogoti. Coba jujur pada diri sendiri, mana yang lebih berat antara gagal mencoba atau menyesal karena tidak pernah melangkah. Pertanyaan seperti ini sering bikin pandanganmu lebih jernih saat memilih.

Kalau kamu terus menahan langkah, kamu mungkin merasa aman untuk sekarang, tetapi perlahan gairah hidupmu ikut memudar. Kalau kamu berani mencoba, ada peluang untuk menemukan arah karier yang lebih sesuai, meski jalannya berliku. Kamu tidak perlu buru-buru, tetapi kamu juga tidak perlu terus bersembunyi.

Takut saat switch career itu normal, dan kamu tidak perlu melawannya dengan pura-pura kuat. Kamu bisa menenangkan diri lewat langkah kecil yang terukur, sambil membawa modal yang sudah kamu punya. Yang penting, kamu bergerak dengan penuh kesadaran, bukan karena keterpaksaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team