Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan sedang bekerja.
ilustrasi seorang perempuan bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Intinya sih...

  • Pindah kerja demi pengembangan diri lebih mudah diambil saat lajang karena risikonya bersifat personal.

  • Mengambil pekerjaan dengan risiko tinggi sering dipilih karena dampaknya tidak melibatkan pasangan atau anak.

  • Relokasi ke kota atau negara lain lebih mudah diambil karena tidak ada kebutuhan menyesuaikan dengan keluarga inti.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Masa lajang sering dipandang sebagai fase transisi sebelum memasuki kehidupan yang lebih serius. Namun dalam konteks karier, fase ini justru memberi ruang yang sangat besar untuk mengambil keputusan penting. Tanpa tanggungan keluarga dan ekspektasi sosial yang kompleks, banyak pilihan karier terasa lebih ringan untuk dipertimbangkan dan dijalani.

Kebebasan ini bukan berarti hidup tanpa tantangan, melainkan adanya fleksibilitas yang lebih luas. Keputusan karier saat masih lajang sering didasarkan pada eksplorasi, pembelajaran, dan pencarian arah hidup. Hal-hal yang kelak menjadi jauh lebih rumit ketika tanggung jawab hidup bertambah. Nah, berikut ini lima keputusan karier yang lebih mudah diambil saat masih lajang. Yuk, simak!

1. Pindah kerja demi pengembangan diri

ilustrasi seorang pria resign dari pekerjaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Saat masih lajang, keputusan untuk pindah kerja umumnya lebih mudah diambil karena risikonya bersifat personal. Tidak ada kebutuhan untuk mempertimbangkan stabilitas keluarga atau penghasilan orang lain. Selama kebutuhan diri sendiri masih terpenuhi, keputusan berpindah kerja bisa didasarkan pada peluang belajar, lingkungan baru, atau potensi karier jangka panjang.

Kondisi ini memberi ruang eksplorasi yang lebih luas. Orang lajang dapat mencoba berbagai bidang, kultur kerja, atau posisi tanpa tekanan sosial yang besar. Pengalaman berpindah kerja ini sering menjadi fondasi penting bagi kematangan karier di masa depan.

2. Mengambil pekerjaan dengan risiko tinggi

ilustrasi pria bekerja (pexels.com/Life Of Pix)

Pekerjaan kontrak, rintisan, atau bidang dengan ketidakpastian tinggi sering lebih mudah dipilih saat masih lajang. Risiko finansial dan emosional terasa lebih ringan karena dampaknya tidak melibatkan pasangan atau anak. Jika gagal, konsekuensinya hanya perlu ditanggung sendiri.

Keputusan ini sering membuka peluang percepatan karier. Banyak pengalaman berharga justru datang dari pekerjaan berisiko tinggi yang menuntut adaptasi cepat. Namun, pilihan ini menjadi jauh lebih kompleks setelah seseorang memiliki tanggung jawab keluarga.

3. Relokasi ke kota atau negara lain

ilustrasi seorang pria bekerja (pexels.com/Burst)

Kesempatan kerja di luar kota atau luar negeri sering lebih mudah diambil saat masih lajang. Tidak ada kebutuhan menyesuaikan dengan pekerjaan pasangan, pendidikan anak, atau jarak dengan keluarga inti. Mobilitas menjadi keunggulan yang signifikan dalam pengembangan karier.

Relokasi ini kerap memberi akses pada jejaring, pengalaman internasional, dan peningkatan kompetensi. Meski menantang, keputusan semacam ini relatif lebih realistis diambil ketika tanggungan hidup masih minimal.

4. Fokus penuh pada pengembangan karier

ilustrasi perempuan bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

Saat masih lajang, seseorang lebih leluasa mengalokasikan waktu dan energi untuk karier. Lembur, mengikuti pelatihan, atau mengerjakan proyek tambahan dapat dilakukan tanpa harus membagi perhatian dengan peran rumah tangga yang kompleks.

Fokus ini sering diterjemahkan sebagai dedikasi tinggi di mata atasan. Walau tidak selalu berarti lebih baik, kondisi ini memberi keuntungan struktural dalam lingkungan kerja yang masih mengukur komitmen dari ketersediaan waktu.

5. Mengambil jeda atau putar arah karier

ilustrasi seorang pria bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Keputusan untuk berhenti sejenak dari pekerjaan, melanjutkan studi, atau beralih jalur karier lebih mudah dilakukan saat masih lajang. Tanpa beban finansial keluarga, jeda ini bisa menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan mental dan arah profesional.

Bagi banyak orang, fase lajang menjadi waktu penting untuk bereksperimen dan mengenali diri. Pilihan-pilihan ini sering sulit diambil setelah menikah karena risiko dan konsekuensinya jauh lebih besar.

Pada akhirnya, keputusan karier di masa lajang bukan soal mendahului siapa pun, melainkan memanfaatkan ruang yang ada. Setiap fase hidup memiliki tantangannya sendiri, dan memahami perbedaan ini membantu kita lebih bijak dalam menghargai pilihan karier—baik milik diri sendiri maupun orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team