Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi suasana kerja di kantor
ilustrasi suasana kerja di kantor (pexels.com/fauxels)

Intinya sih...

  • Ambisi besar jadi kompas, bukan beban.

  • Selaraskan ekspektasi dengan kapasitas harian.

  • Tetapkan definisi sukses yang jelas untuk peranmu.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mengalami burnout bukan karena lemah menghadapi pekerjaan, tapi karena terus memikul tuntutan yang seakan tidak ada habisnya. Kamu menetapkan target tinggi, lalu merasa bersalah saat progresnya tidak sesuai gambaran di kepala. Lama-lama, kerja terasa seperti perlombaan yang tidak ada garis akhirnya.

Ekspektasi karier yang realistis tetap bisa mendorong kamu bertumbuh, kok. Kuncinya, sesuaikan dengan kapasitas, tanggung jawab, dan fase hidup kamu saat ini. Coba terapkan enam cara berikut agar kamu tetap berkembang dalam karier tanpa cepat burnout.

1. Bedakan target ambisi dan target realistis

ilustrasi bekerja di kantor (pexels.com/Yan Krukau)

Ambisi besar sebaiknya kamu pakai sebagai kompas, bukan beban yang harus cepat selesai. Kalau kamu memaksa ambisi jadi target mingguan, fokusmu sering cuma ke hasil besar, lalu kamu menilai diri terlalu keras. Lebih aman kalau kamu memecahnya menjadi target 2–4 minggu yang spesifik, terukur, dan bisa kamu kontrol prosesnya.

Contohnya, daripada langsung menargetkan promosi, fokuslah pada satu proyek yang membuktikan kontribusi kamu. Di satu fase kamu mungkin ngebut, di fase lain terasa pelan, dan itu normal. Yang penting, kamu tetap menjaga langkah kecil yang konsisten agar terus bergerak tanpa harus menunggu momen besar.

2. Selaraskan ekspektasi dengan kapasitas harian

ilustrasi wanita sedang bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

Kapasitas harian itu bukan cuma soal berapa jam kerja kamu, tapi juga seberapa lama fokusmu, seberapa banyak energimu, dan seberapa berat beban mental yang kamu bawa. Kadang delapan jam terasa padat, tetapi jam efektifnya jauh lebih pendek dari perkiraan. Jika kamu memaksakan target seolah kondisi kamu selalu prima, risiko kelelahan diam-diam akan menumpuk.

Biasakan cek kapasitas tubuh dulu sebelum menyusun to-do list. Saat energi menurun, pilih satu tugas terpenting untuk diselesaikan, ambahkan satu tugas pendukung yang ringan. Sisihkan ruang untuk hal tak terduga agar rencana tidak berantakan di tengah jalan. Cara ini terhitung lebih aman agar kamu tetap bergerak maju tanpa kehabisan energi.

3. Tetapkan definisi sukses yang jelas untuk peranmu

ilustrasi suasana kerja di kantor (pexels.com/Alena Darmel)

Burnout sering muncul ketika tenaga kamu habis untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jadi fokus penilaian. Kamu perlu paham apa yang benar-benar dinilai di peran kamu, entah itu hasil akhir, mutu kerja, kecepatan, kerapian dokumentasi, atau kolaborasi yang konsisten. Tanpa definisi sukses yang jelas, kamu bisa sibuk terus namun tetap merasa tidak cukup karena arah penilaiannya tidak jelas.

Jalan tercepat adalah memastikan langsung, bukan menebak-nebak dari dari cerita antar-karyawan. Minta contoh pekerjaan yang menurut atasan sudah memenuhi standar, lalu tanyakan indikator yang dipakai saat penilaian. Begitu arahnya jelas, kamu lebih mudah menentukan prioritas dan berani menolak tugas yang tidak relevan.

4. Buat batas kerja yang bisa dipertahankan

ilustrasi kerja di kantor (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Batas kerja itu aturan kecil yang menjaga kamu tidak larut dalam pekerjaan sepanjang hari. Tentukan kapan kamu harus berhenti, batasi respons chat di luar jam itu, dan latih diri untuk tidak selalu bisa dihubungi saat tidak ada urgensi. Saat batas ini sering berubah dari minggu ke minggu, tubuhmu akan sulit merasa tenang untuk benar-benar beristirahat.

Lebih baik aturannya simpel tapi konsisten, daripada terlihat tegas sebentar lalu kesulitan untuk menerapkan. Jika ada kondisi darurat yang membuatmu perlu melanggar, itu wajar. Tapi kalau darurat terus jadi alasan, batasan yang kamu buat jadi tidak ada gunanya dan pikiranmu jadi tidak bisa istirahat.

5. Kurangi jebakan pembanding

ilustrasi membandingkan diri (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Saat kamu terlalu sering menakar diri lewat pencapaian orang lain, ekspektasi kamu biasanya akan ikut naik tanpa kamu sadari. Kamu melihat mereka seolah bergerak lebih cepat, lalu kamu merasa harus menaikkan target agar tidak tertinggal. Padahal kamu tidak tahu cerita lengkap di belakangnya, seperti dukungan yang mereka punya, beban yang mereka tanggung, atau situasi yang mereka hadapi. Saat patokan kamu dibangun dari cerita yang tidak utuh, kamu mudah menyalahkan diri sendiri, padahal posisi kamu memang berbeda.

Bandingkan saja dengan versi kamu sebelumnya, karena itulah acuan yang paling jujur. Periksa hal yang sudah kamu bisa sekarang, hal yang dulu bikin kamu kesulitan, dan hal yang mulai terasa lebih mudah. Jika sosial media bikin kamu cepat kepancing, batasi akses di jam kerja atau setelah pulang. Tujuannya sederhana, biar pikiran kamu tetap tenang.

6. Rencanakan ritme karier, bukan ngebut terus-menerus

ilustrasi suasana kerja yang nyaman di kantor (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Perjalanan karier yang panjang itu ibarat lari maraton, bukan lari kencang sepanjang waktu. Memaksa semuanya serba cepat sama saja dengan menyuruh mesin ngegas tanpa henti. Ujungnya bukan makin produktif, tapi tubuh justru kewalahan dan performa kerja gampang turun.

Lebih aman kalau kamu merancang ritme yang sanggup kamu pertahankan, lalu taruh target besar di waktu yang paling masuk akal. Ada saatnya memperluas tanggung jawab, ada saatnya merapikan cara kerja, dan ada saatnya memperdalam pengetahuan. Kamu juga butuh jeda untuk evaluasi supaya kamu tahu apa yang harus diteruskan dan apa yang perlu dibuang. Burnout sering datang saat kamu lupa bahwa perubahan tempo itu bagian normal dari pertumbuhan.

Ekspektasi yang sehat bikin kamu tetap maju tanpa merasa dikejar terus setiap hari. Kamu boleh punya target tinggi, tapi pecah langkahnya jadi lebih realistis dan mudah dilakukan. Begitu alur kerja lebih teratur, kamu lebih tangguh menghadapi tekanan dan dan tidak gampang burnout.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team