Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Intinya sih...

  • Kehidupan sosial terbengkalai karena kesibukan kerja yang luar biasa, membuatmu hanya pulang larut malam dan tak pernah bertemu tetangga.

  • Kesehatan jasmani dan mental ikut jadi korban, kamu kelelahan dan sulit fokus, serta tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

  • Pendapatan banyak, tapi kurang menikmati karena pikiran terbelenggu oleh pekerjaan, tingkat stres tinggi, dan kehidupan pribadi bisa berantakan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bekerja keras dengan terlalu keras tidak sama. Bekerja keras menunjukkan totalitas dalam bekerja. Ciri yang paling menonjol ialah kedisiplinan dan kompetensi. Sementara bekerja terlalu keras berarti memaksakan diri untuk terus bekerja tanpa batasan. Bekerja keras dianjurkan terutama untuk anak muda supaya kamu bisa memiliki fondasi hidup yang kokoh. Tanpa kerja keras, hasil kerja pun minimal. Tidak ada perkembangan yang berarti dalam perjalanan kariermu.

Akan tetapi, bekerja terlalu keras justru sebaiknya dihindari. Dirimu wajib tahu kapan harus berkata cukup terkait jam kerjamu. Sekalipun kamu amat suka bekerja, jangan menyempitkan duniamu seakan-akan hanya tentang pekerjaan. Ada enam dampak buruk atau akibat kerja terlalu keras sampai mengabaikan keseimbangan hidup.

1. Kehidupan sosial terbengkalai

ilustrasi bekerja (pexels.com/Vlada Karpovich)

Menjaga kehidupan sosialmu tidak berarti kamu harus rutin nongkrong dengan teman-teman. Juga gak bermakna dirimu mesti mengikuti semua acara bersama tetangga apalagi di hari kerja. Namun, minimal kamu tidak sampai tak pernah bertemu tetangga karena kesibukan kerja yang luar biasa.

Dirimu selalu berangkat pagi buta dan baru pulang pada larut malam. Itu terjadi nyaris setiap hari sehingga orang-orang hanya melihat teras rumahmu baru terang menjelang tengah malam tanda kamu telah pulang. Atau, malah lampu teras sengaja dinyalakan terus biar rumah tak tampak kosong selepas hari gelap dan dirimu belum kembali.

2. Kesehatan jasmani dan mental ikut jadi korban

ilustrasi sakit saat bekerja (pexels.com/Mikael Blomkvist)

Kerja terlalu keras tentu akan membuatmu kelelahan. Meski dirimu sudah berusaha untuk mengabaikan rasa capek, akibatnya tetap tak terhindarkan. Kamu dapat tiba-tiba hampir pingsan di tempat kerja.

Ini terus berulang selama jam kerja tidak dikurangi. Dirimu memerlukan waktu serta kualitas istirahat yang cukup. Dari segi mental pun terpengaruh. Lama-kelamaan pikiran sulit untuk fokus.

Kamu kehilangan gagasan yang biasanya melimpah dan seakan-akan muncul dengan sendirinya. Pikiran seperti pipa air yang tersumbat. Aktivitas kerjamu terlalu tinggi sehingga menyerupai jalan yang macet. Gak ada jarak antarkendaraan. Semuanya terhenti atau kalaupun bisa berjalan lambat sekali.

3. Pendapatan banyak, tapi kurang menikmati

ilustrasi bekerja (pexels.com/Karola G)

Dengan kegilaanmu dalam bekerja, kamu seakan-akan memiliki tambang uang. Aliran pendapatan deras terus. Bahkan dirimu bisa memperoleh penghasilan dari berbagai sumber. Tabunganmu gendut.

Dana darurat sangat aman. Mungkin juga ada beberapa investasi yang berjalan. Sayangnya, dirimu justru tidak dapat menikmati rezeki yang berlimpah itu. Kamu mau pergi berlibur barang 1 atau 2 hari saja, pikiran terbelenggu oleh pekerjaan.

Akhirnya pekerjaan yang selalu dimenangkan. Tumpukan uang dalam rekening pun cuma berbentuk angka. Dirimu dapat merasakan keamanan finansial, tetapi tidak dengan kenyamanan hidup. Tingkat stres tetap tinggi dan kamu gak memiliki keleluasaan buat lebih menikmati hasil kerja.

4. Kehidupan pribadi bisa berantakan

ilustrasi bekerja di rumah (pexels.com/Anete Lusina)

Untukmu yang sudah berkeluarga memang dituntut untuk mengatur waktu serta perhatian. Keluarga kecilmu bukannya tidak mendukungmu dalam berkarier. Mereka tahu dirimu bekerja sekeras itu juga buat mereka.

Namun, rasa haus kasih sayang dan perhatian yang berkepanjangan bakal berakibat buruk dalam hubungan. Tidak peduli perjuanganmu buat menghidupi keluarga, mereka akan merasa kurang dicintai. Mereka tak pernah menjadi prioritasmu.

Selalu pekerjaan yang dinomorsatukan. Ini dapat menjadi penyebab keretakan rumah tangga. Atau, pasangan masih bisa memaklumi. Namun, anak-anak kesal dan berjarak denganmu. Dirimu bahkan kerap marah bila sepulang kerja didekati anak-anak. Selain kamu sudah kelelahan, sering kali masih membawa pulang pekerjaan.

5. Jebakan penyesalan seandainya dulu

ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kerja berlebihan bikin waktumu terasa memelesat. Tahu-tahu saja kamu mendapati diri tak muda lagi. Sejauh apa pun perjalanan kariermu dapat muncul rasa penyesalan di kemudian hari.

Ada hal-hal yang luput dari perhatianmu karena terlalu fokus bekerja. Misalnya, penyesalan karena saat kamu masih aktif bekerja tak menyambi membangun usaha. Keuntungan membangun usaha ketika dirimu masih ngantor ialah jaringan yang lebih luas.

Kamu dapat mempromosikan usahamu dengan lebih mudah. Dirimu juga punya lebih banyak waktu buat trial and error. Bila kamu telah pensiun baru hendak memulai baik waktu, energi, maupun relasi kian sedikit.

Meski modal sudah siap barangkali hasilnya gak maksimal. Padahal, hasil kerja bertahun-tahun belum tentu cukup buat membiayai kehidupan yang nyaman di masa tua. Kamu tetap butuh sumber pendapatan apalagi jika masih ada anak yang berkuliah atau bersekolah.

6. Gak sempat mengembangkan diri di luar kepentingan pekerjaan

ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Masih dengan contoh penyesalan karena dirimu tidak sejak dulu merintis usaha. Terlalu fokus dengan satu pekerjaan di usia produktif juga bikin kamu melupakan pentingnya pengembangan diri. Pastinya kamu juga berkembang dalam pekerjaanmu.

Namun, kapasitasmu buat berkembang boleh jadi lebih dari itu seandainya energimu gak habis buat bekerja. Dengan pengembangan diri yang tidak maksimal, satu-satunya duniamu hanyalah pekerjaan tersebut. Sementara cepat atau lambat kamu bakal tersingkir juga dari sana.

Rasanya seperti orang yang sekian lama menempuh perjalanan kemudian mendapati jalan itu terputus begitu saja. Kamu tidak tahu harus ke mana sebab tak tampak jalan lain. Memberikan 100 persen dirimu pada satu pekerjaan barangkali bukan hal baik. Dedikasi berlebihan akan menghambat pengembangan dirimu dalam aspek-aspek di luar pekerjaan.

Walau ada akibat kerja terlalu keras, kamu lantas boleh bersantai-santai. Bagaimanapun juga, perlu kerja keras untukmu bisa menunjukkan performa terbaik di kantor dan naik posisi. Namun, tetap jangan berlebihan sampai kamu seperti robot yang sepenuhnya dikendalikan oleh aktivitas kerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team