Kenapa Banyak Orang Menutupi Kesedihannya dengan Bekerja Keras?
.jpg)
- Kerja keras menuntut fokus dan energi penuh
- Bekerja sepanjang waktu ciptakan interaksi intens dengan rekan kerja
- Bekerja dengan keras bisa ciptakan prestasi untuk gantikan kesedihan
Setiap manusia tentu pernah mengalami suatu peristiwa pahit dalam hidupnya. Tidak hanya cukup dihapus dengan menangis, hal seperti ini mampu menimbulkan kesedihan mendalam yang bahkan sampai memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, kerja nggak fokus. Kalau dibiarkan terus berlarut-larut, jadinya sudah pasti kacau!
Namun demikian, ada juga kok orang-orang yang meski pun sedih, tetapi tidak ingin terus larut di dalamnya. Mereka malah memilih mengabaikan duka itu dengan bekerja keras. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tenggelam dalam pekerjaan. Pertanyaannya, kenapa sih kerja keras sering dipilih untuk menutupi kesedihan yang melanda? Beberapa jawaban berikut ini dapat memuaskan rasa penasaranmu.
1. Kerja keras menuntut fokus dan energi penuh

Ketika ditimpa suatu masalah atau hal apa pun yang kurang menyenangkan, wajar bila muncul perasaan sedih. Jika sudah begini, boleh saja mengambil kesempatan untuk belajar menerima dan merasakan luka yang hadir. Namun demikian, sebagian orang merasa tidak tahan bila harus berlama-lama mengalami situasi seperti itu. Pasalnya, sewaktu-waktu mereka selalu ingat dengan sesuatu yang menyakitkan tersebut, sehingga merasa begitu tersiksa.
Supaya tidak terus teringat akan peristiwa pahit yang dialaminya, sebagian orang berusaha memenuhi pikirannya dengan hal yang besar, seperti pekerjaan. Hal ini dipilih bukan tanpa alasan. Pekerjaan, terutama yang sifatnya cukup rumit, pasti menuntut fokus dan energi penuh. Dengan begini, tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk memikirkan hal yang menyedihkan, setidaknya untuk sementara waktu.
2. Bekerja sepanjang waktu ciptakan interaksi intens dengan rekan kerja

Sering kali kita melihat orang yang sedang sedih selalu ditemani orang lain agar hatinya terhibur. Namun, begitu mereka yang menemani harus undur diri karena juga perlu menjalankan aktivitas sehari-hari dan suasana kembali sepi, kesedihan itu hadir lagi. Rasanya sungguh tidak nyaman untuk menghadapi suasana semacam itu, kan?
Oleh karena itu, beberapa orang malah memilih untuk secepatnya kembali bekerja meski perasaannya sedang tidak keruan. Alasannya sederhana, selain karena dapat mengalihkan perhatian pada hal yang bermanfaat, setidaknya jadi ada interaksi yang intens dengan rekan-rekan kerja. Hal ini dapat membantu menghibur diri dan mengembalikan semangat seperti sedia kala.
3. Bekerja dengan keras bisa ciptakan prestasi untuk gantikan kesedihan

Pada umumnya, orang yang merasa sedih perlu waktu untuk berduka. Mereka bahkan memerlukan waktu yang cukup lama agar bisa bangkit dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Namun, sebagian orang merasa terlalu larut dalam kesedihan hanya akan memperparah keadaan. Bukannya pulih, malah semakin frustrasi.
Nah, demi bisa segera menghapus kesedihan, sebagian orang memilih untuk bekerja keras sepanjang waktu. Pasalnya, lewat aktivitas ini, mereka berkesempatan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat. Ketika prestasi itu berhasil diraih, rasa bangga dan bahagia pun muncul, sehingga menggantikan perasaan sedih yang begitu menyiksa. Patut diapresiasi, nih!
Kerja keras menuntut fokus dan energi yang penuh, membangun interaksi yang intens dengan rekan-rekan kerja, serta dapat menciptakan prestasi membanggakan. Oleh sebab itu, tidak heran bila kegiatan ini sering dipilih untuk menutupi kesedihan. Apakah kamu juga pernah memiliki pengalaman semacam ini?

















