ilustrasi bisnis tanaman (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Karyawan full-time tidak selalu bisa mengatur jadwal liburnya sendiri. Ketika ada perjalanan dinas mendadak atau mudik seminggu, tanaman yang tidak dirawat bisa mati dan itu berarti kerugian langsung. Ini salah satu risiko yang jarang diperhitungkan di awal, tapi sering jadi alasan orang akhirnya menyerah dari bisnis tanaman.
Beberapa cara yang lazim dipakai untuk mengatasi ini adalah menitipkan tanaman ke tetangga atau keluarga dengan instruksi perawatan yang jelas, menggunakan sistem irigasi tetes otomatis yang bisa dibeli dengan harga terjangkau, atau memilih jenis tanaman yang bisa bertahan beberapa hari tanpa penyiraman. Persiapan untuk kondisi seperti ini bukan hal yang berlebihan, justru itu yang membedakan bisnis yang bertahan dengan yang tidak.
Bisnis tanaman bisa dijalankan sambil kerja full-time, kok. Meski begitu, rencana ini butuh pertimbangan yang dipikirkan, bukan sekadar semangat di awal saja. Banyak yang berhasil justru karena mereka memulai pelan-pelan dan tidak memaksakan skala besar sebelum waktunya. Kuncinya bukan di jumlah tanamannya, tapi di seberapa realistis kamu merancang bisnis tanaman untuk masuk ke dalam rutinitasmu yang sudah padat karena bekerja.