5 Drama Batin Jobseeker Saat Menunggu Panggilan Kerja dari HRD

- Mengecek email dan chat berulang kali
- Mengulang momen interview di kepala
- Deg-degan setiap ada panggilan masuk
Setelah mengirim lamaran, mengikuti tes, hingga menyelesaikan interview, banyak orang mengira proses terberat sudah terlewati. Padahal, ada satu fase yang terasa lebih melelahkan dari semuanya yaitu menunggu panggilan kerja.
Di fase ini, kamu seperti hidup berdampingan dengan hp. Nada dering dinaikkan, notifikasi diaktifkan, dan email direfresh berkali-kali. Sayangnya, yang sering muncul justru notifikasi promo atau grup keluarga. Relate? Kalau iya, mungkin kamu sedang mengalami lima drama batin ini. Yuk, simak sampai habis!
1. Mengecek email dan chat berulang kali

Tanpa sadar, membuka inbox menjadi rutinitas baru. Baru saja menutup aplikasi email, beberapa menit kemudian sudah dibuka kembali. Ada harapan kecil bahwa kali ini akan muncul pesan dari HR. Walau logikanya notifikasi akan berbunyi jika ada email masuk, tetap saja dorongan untuk mengecek terus terasa sulit dihentikan.
Agar tidak terus terjebak, kamu bisa membuat jadwal khusus untuk mengecek email. Dengan begitu, kamu tetap responsif tanpa membuat diri sendiri lelah karena terus memantau notifikasi.
2. Mengulang momen interview di kepala

Saat suasana mulai tenang, pikiran justru sibuk memutar ulang sesi interview. Kamu mulai bertanya pada diri sendiri, apakah jawaban tadi sudah tepat, apakah ekspresi sudah meyakinkan, atau apakah ada pertanyaan yang seharusnya dijawab lebih baik.
Hal-hal kecil yang sebenarnya wajar sering terasa seperti kesalahan besar. Padahal proses rekrutmen menilai banyak aspek, bukan hanya satu momen tertentu.
Daripada larut dalam pikiran itu, ada baiknya mencatat hal-hal yang bisa diperbaiki untuk kesempatan berikutnya. Dengan begitu, pengalaman interview tidak hanya menjadi bahan overthinking, tetapi juga bekal untuk berkembang.
3. Deg-degan setiap ada panggilan masuk

Begitu layar HP menampilkan nomor tak dikenal, jantung langsung berdetak lebih cepat. Kamu bersiap menjawab dengan suara profesional dan sopan. Namun ketika diangkat, ternyata hanya kurir paket atau telemarketing. Ada rasa lega sekaligus kecewa tipis, lalu kembali lagi ke fase menunggu.
Untuk mengurangi rasa tegang, menyimpan nomor HR sejak awal bisa sangat membantu. Setidaknya, kamu tidak perlu kaget setiap kali layar ponsel menyala.
4. Mulai membandingkan diri dengan orang lain

Media sosial sering menjadi pemicu pikiran bercabang. Melihat teman mengunggah kabar diterima kerja atau hari pertama di kantor baru, membuat kamu tanpa sadar membandingkan perjalanan diri sendiri dan bertanya dalam hati, "Kapan giliran aku?"
Padahal setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing. Namun di fase menunggu, perasaan tertinggal sering muncul tanpa disadari.
Di titik ini, memberi jarak sejenak dari media sosial bisa membuat pikiran lebih jernih. Fokus pada langkah kecil yang sudah kamu lakukan jauh lebih berarti daripada terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
5. Antara berharap dan siap menerima kenyataan

Ada hari di mana kamu sangat yakin akan mendapatkan kabar baik. Namun ada saatnya kamu mulai menyiapkan hati jika hasilnya tidak sesuai harapan. Fase ini seperti berada di persimpangan antara bertahan menunggu atau mulai melangkah mencari kesempatan lain.
Menunggu panggilan kerja memang bukan fase yang mudah. Namun ini bukan tanda bahwa kamu gagal. Ini hanyalah bagian dari proses menuju tempat yang tepat untuk berkembang.
Sambil menunggu, kamu tetap bisa mengirim lamaran lain, meningkatkan keterampilan, atau memberi waktu untuk diri sendiri beristirahat. Karena pada akhirnya, setiap usaha akan menemukan hasilnya di waktu yang sesuai.











.jpg)





