Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Financial Anxiety Tetap Bisa Mengintai Meski Gaji Sudah Tinggi
Ilustrasi (pexels.com/Khwanchai Phanthong)
  • Banyak orang bergaji tinggi tetap mengalami financial anxiety karena gaya hidup meningkat seiring pendapatan, membuat tabungan minim dan hidup terus bergantung pada gaji bulanan.
  • Kebiasaan retail therapy berkedok self-reward sering jadi pelarian stres kerja, namun justru memicu rasa bersalah dan tekanan finansial baru saat tagihan menumpuk.
  • Ketakutan kehilangan status sosial serta absennya dana darurat membuat individu berpenghasilan besar tetap cemas, menunjukkan bahwa ketenangan finansial tak ditentukan oleh besarnya gaji.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Meningkatnya angka di slip gaji sering kali dianggap sebagai gerbang pembuka menuju ketenangan hidup. Logikanya sederhana: makin banyak uang yang masuk, makin sedikit masalah yang harus dipikirkan. Namun, realitas di kota-kota besar justru menunjukkan anomali yang menarik. Banyak individu dengan penghasilan yang sudah jauh di atas rata-rata tetap mengalami financial anxiety, rasa cemas, tegang, dan stres yang konstan setiap kali memikirkan urusan keuangan.

Stres uang ternyata tidak melulu soal nominal yang kurang, melainkan tentang bagaimana relasi psikologis kita dengan uang tersebut. Ketika penghasilan bertambah tinggi tetapi cara pandang dan kebiasaan kita tidak berubah, stres yang dialami hanya berpindah level, bukan menghilang.

1. Terjebak dalam lingkaran setan lifestyle inflation

Ilustrasi (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu alasan paling klasik mengapa orang berpenghasilan besar tetap stres adalah lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Ini adalah fenomena di mana pengeluaran seseorang secara otomatis ikut melonjak setiap kali pendapatannya naik.

Ketika masih berstatus karyawan magang atau fresh graduate, makan di warteg atau minum kopi saset terasa sudah sangat cukup. Namun, begitu posisi naik dan gaji menyentuh angka dua digit, standar kenyamanan mendadak bergeser. Kopi wajib beralih ke kafe estetik, tempat tinggal harus di area elite, dan baju kasual digantikan oleh pakaian bermerek demi menjaga gengsi profesional.

Tanpa disadari, kenaikan pendapatan ini habis total hanya untuk membiayai "kebutuhan baru" yang sebenarnya diciptakan oleh ego pribadi. Pada akhirnya, tabungan tetap berada di angka nol, dan perasaan terjebak dalam siklus mengandalkan gaji dari bulan ke bulan (paycheck-to-paycheck) tidak pernah benar-benar selesai.

2. Retail therapy berkedok self-reward yang impulsif

Ilustrasi (pexels.com/Andre Moura)

Tingginya penghasilan sering kali berjalan beriringan dengan besarnya tekanan dan tanggung jawab di tempat kerja. Stres kerja yang menumpuk ini memicu perilaku retail therapy, kebiasaan belanja barang-barang mewah atau liburan mahal sebagai pelarian emosional instan.

Banyak pekerja urban yang memvalidasi pengeluaran impulsif ini dengan label self-reward atau penghargaan untuk diri sendiri setelah lelah bekerja keras. Memanjakan diri tentu tidak salah, namun masalah muncul ketika batasan antara self-reward yang sehat dan pelampian stres menjadi kabur. Belanja yang didasari oleh emosi negatif biasanya hanya memberikan kebahagiaan sementara. Begitu tagihan kartu kredit atau paylater datang di akhir bulan, rasa bersalah (money guilt) muncul dan justru menciptakan sumber stres baru yang lebih besar.

3. Ketakutan kehilangan status sosial dan standar pergaulan

Ilustrasi (pexels.com/cottonbro studios)

Bagi kelas menengah ke atas, uang bukan lagi sekadar alat bertahan hidup untuk membeli makan atau membayar sewa, melainkan sudah berubah fungsi menjadi simbol status sosial. Ketika seseorang masuk ke dalam lingkaran pergaulan atau karier yang lebih tinggi, ada tekanan laten untuk menyesuaikan diri dengan standar hidup kelompok tersebut.

Stres uang pada tahap ini bersumber dari rasa takut: takut terlihat tidak mampu, takut ketinggalan tren (FOMO), atau takut dikucilkan dari lingkungan sosial jika tidak ikut serta dalam agenda nongkrong atau liburan mewah. Mempertahankan fasad atau topeng kemakmuran ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Rasa cemas muncul karena mereka sadar bahwa gaya hidup yang mereka jalani saat ini sebenarnya sangat rapuh dan dipaksakan hanya demi validasi orang lain.

4. Tidak punya runway keuangan akibat absennya dana darurat

Ilustrasi (pexels.com/Thien Phuoc Phuong)

Satu hal yang membedakan antara orang yang tenang secara finansial dengan yang selalu cemas adalah keberadaan dana darurat, bukan ukuran gaji mereka. Seseorang dengan gaji Rp10 juta yang memiliki tabungan darurat setara 6 bulan biaya hidup akan jauh lebih tenang daripada seseorang bergaji Rp30 juta yang seluruh uangnya habis tak bersisa setiap bulan.

Abasnya dana darurat membuat orang yang berpenghasilan besar sekalipun selalu berada di ujung tanduk. Mereka dihantui ketakutan konstan akan skenario terburuk: bagaimana kalau mendadak kena PHK? Bagaimana kalau ada keluarga yang sakit keras? Bagaimana kalau bisnis sampingan macet? Tanpa bantalan finansial yang kokoh (financial runway), penghasilan sebesar apa pun tidak akan pernah bisa membeli rasa aman di dalam kepala.

Ketenangan finansial tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar uang yang kamu hasilkan, melainkan oleh seberapa besar jarak yang mampu kamu buat antara pendapatan dan gaya hidupmu. Selama egomu tumbuh lebih cepat daripada gajimu, stres uang akan selalu menjadi bayangan yang mengikutimu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article