Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang karyawan
ilustrasi seorang karyawan (freepik.com/drobotdean)

Intinya sih...

  • Hasil negosiasi saat proses rekrutmen menjadi dasar perbedaan gaji antarkaryawan

  • Latar belakang pendidikan, sertifikasi profesi, dan pengalaman kerja memengaruhi standar kompensasi

  • Evaluasi kinerja, pencapaian target tahunan, dan penguasaan skill tambahan mendukung penentuan gaji

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Isu perbedaan gaji sering muncul dalam obrolan ringan di kantor, meski angka pastinya jarang diungkap secara terbuka. Saat tingkat jabatan dan beban kerja terasa sama namun kompensasi terlihat berbeda, wajar jika muncul rasa bertanya-tanya karena situasinya tampak tidak seimbang. Kondisi ini perlahan bisa memengaruhi cara seseorang memaknai nilai kontribusi dan dedikasi yang telah diberikan.

Tanpa pemahaman yang tepat, perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan kecanggungan antarrekan kerja dan mengganggu dinamika tim. Padahal, perusahaan umumnya memiliki pertimbangan dan parameter tertentu dalam menyusun struktur penggajian. Berikut beberapa alasan yang sering menjadi dasar mengapa standar gaji bisa berbeda meski posisi dan bebannya terlihat sama.

1. Hasil negosiasi saat proses rekrutmen

ilustrasi wawancara kerja (pexels.com/Resume Genius)

Proses rekrutmen kerap menjadi titik awal perbedaan standar gaji antarkaryawan. Pada tahap ini, setiap kandidat memiliki ruang untuk menyampaikan ekspektasi kompensasi berdasarkan keahlian serta nilai yang ditawarkan. Kesepakatan dari proses tawar-menawar tersebut kemudian menjadi dasar penetapan upah awal di kontrak kerja.

Selisih ini sering terbawa hingga bertahun-tahun berikutnya, meski posisi dan tanggung jawab akhirnya berada di level yang sejajar. Perusahaan umumnya bersedia menyetujui permintaan pelamar selama masih berada dalam rentang anggaran yang berlaku. Inilah yang membuat dua karyawan dengan beban kerja serupa menerima gaji berbeda.

2. Latar belakang pendidikan dan sertifikasi profesi

ilustrasi pekerja (freepik.com/freepik)

Kualifikasi akademik sering kali menjadi salah satu dasar dalam menentukan standar kompensasi karyawan. Latar pendidikan yang sejalan dengan kebutuhan perusahaan akan memberi gambaran bahwa seseorang memiliki fondasi pengetahuan yang kuat untuk menjalankan perannya. Hal ini dipandang sebagai jaminan terhadap kualitas hasil kerja yang diharapkan dalam jangka panjang.

Di luar pendidikan formal, kepemilikan sertifikasi profesi juga memberi nilai tambah dalam penilaian gaji. Sertifikat tersebut menandakan kompetensi spesifik yang telah melalui proses uji dan pengakuan resmi dari lembaga ahli. Poin tambahan inilah yang sering membuat perbedaan pendapatan muncul meski beban kerja harian tampak serupa.

3. Pengalaman kerja dan jam terbang di industri serupa

ilustrasi memikirkan sesuatu terkait pekerjaan (freepik.com/freepik)

Pengalaman kerja menjadi pembeda yang sangat nyata dalam kualitas hasil kerja. Jam terbang yang lebih panjang membuat seseorang lebih terbiasa menghadapi situasi sulit, mengambil keputusan cepat, serta meminimalkan kesalahan. Kematangan ini memberikan nilai lebih pada hasil pekerjaan, meskipun jenis tugas yang dikerjakan terlihat sama dengan rekan lainnya.

Perusahaan cenderung memberikan kompensasi lebih tinggi pada karyawan yang memiliki rekam jejak relevan. Keahlian tersebut dinilai mampu mengurangi kebutuhan bimbingan sekaligus membantu tim mencapai target dengan lebih efisien. Meski beban kerja tampak setara, standar gaji bisa berbeda karena tingkat kematangan profesional yang tidak sama.

4. Evaluasi kinerja dan pencapaian target tahunan

ilustrasi aktif meminta feedback dari atasan (freepik.com/Drazen Zigic)

Penilaian kinerja berkala menjadi acuan penting dalam menentukan kenaikan gaji karyawan. Hasil capaian target dan kualitas pekerjaan memberikan gambaran kontribusi yang jelas dari setiap individu. Aspek ini tercatat secara sistematis dalam laporan evaluasi perusahaan sebagai bukti objektivitas dalam menentukan upah.

Data tersebut digunakan untuk menilai siapa yang layak mendapat penyesuaian pendapatan lebih besar. Karyawan dengan performa konsisten dianggap berperan penting dalam tim. Pendekatan ini memastikan penghargaan diberikan sesuai hasil kerja, bukan sekadar melihat beban yang tampak di permukaan.

5. Menguasai skill tambahan yang mendukung tim

ilustrasi presentasi (pexels.com/Tiger Lily)

Karyawan dengan keahlian ekstra di luar tanggung jawab utama sering kali mendapat apresiasi lebih dalam hal gaji. Penguasaan software tertentu atau kemampuan bahasa asing menjadi nilai tambah penting bagi kelancaran operasional perusahaan. Perusahaan cenderung memberikan kompensasi lebih karena kemampuan tersebut membantu tim mencapai tujuan dengan cara lebih efektif.

Skill tambahan membuat alur kerja jadi lebih efisien karena berbagai kendala teknis bisa ditangani sendiri tanpa bantuan luar. Karyawan yang memiliki kemampuan ini biasanya dihargai lebih tinggi saat peninjauan gaji dilakukan. Semangat untuk terus berkembang inilah yang membuat standar kompensasi meningkat.

Melihat perbedaan gaji dengan perspektif yang jernih membantu karyawan fokus pada pengembangan diri. Memperkuat kemampuan dan menambah nilai kontribusi lebih penting daripada membandingkan angka yang berada di luar kendali. Profesionalisme dan konsistensi akan membuka peluang pengakuan yang sepadan dengan usaha dan kontribusi nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team