Perilisan Laporan Eksklusif Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK di Kantor JobStreet by SEEK. 3 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
Sebanyak 82 persen pekerja Indonesia menyatakan diri mereka cukup atau sangat bahagia di tempat kerja. Angka ini jauh melampaui Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), hingga Australia (57 persen). Dalam lanskap global yang kompetitif, Indonesia tampil sebagai ruang kerja yang setidaknya secara emosional lebih ramah.
Tak hanya bahagia, 86 persen pekerja merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaannya memberi kepuasan batin. Kebahagiaan ini tidak semata lahir dari pencapaian materi, tetapi dari rasa diakui dan dimiliki, dua hal yang sering luput dalam diskusi dunia kerja modern.
Data ini tercipta berkat riset yang dilakukan oleh Jobstreet by SEEK dengan melibatkan 1000 individu berusia 18-63 tahun dalam rentan waktu Q4 2025 (Oktober - November). Menurut Wisnu Dharmawan selaku Acting Managing Director, Jobstreet by SEEK, hal ini terjadi karena Indonesia memiliki budaya kerja yang cenderung positif dibanding negara lain.
"Kemungkinan karena culture yang positif, sementara negara lain lebih kompetitif dan tekanan biaya hidup yang lebih besar," ujarnya, dalam acara Perilisan Laporan Eksklusif Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK di Kantor JobStreet by SEEK, Selasa (3/2/2026).
Ketika ditanya soal budaya dan perbandingan sikap kompetitif Indonesia dengan negara lain, Wisnu menuturkan bahwa ada yang namanya long country dan short country dalam kategorisasi dunia kerja. Long country berarti negara tersebut memiliki kandidat yang lebih banyak dibanding lapangan pekerjaan itu sendiri. Sebaliknya, short country merupakan negara dengan jumlah kandidat yang lebih sedikit dibanding lapangan pekerjaan.
Artinya, beberapa negara memiliki niche job sehingga memiliki tingkat hiring yang lebih ketat. Ketika karyawan merasa lebih sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya, itu menjadi pengaruh salah satu cluster factor happiness.