Perilisan Laporan Eksklusif Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK di Kantor JobStreet by SEEK. 3 Februari 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
Meski 54 persen pekerja masih menginginkan gaji lebih tinggi, laporan ini menunjukkan bahwa work-life balance dan tujuan kerja (purpose) justru menjadi pendorong utama kebahagiaan. Rekan kerja yang suportif (77 persen), lokasi kerja (76 persen), dan perasaan bahwa pekerjaan bermakna (75 persen) menjadi faktor emosional yang lebih menentukan. Temuan ini menandai pergeseran besar, bahwa kerja tidak lagi semata soal bertahan hidup, tetapi tentang bagaimana hidup bisa tetap utuh di luar jam kantor.
“Kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna,” ucap Wisnu.
Meski demikian, hal ini tidak berlaku bagi semua generasi di tempat kerja. Karena faktanya, pada kesimpulan akhir, JobStreet by SEEK tetap menyatakan bila pendapatan yang semakin besar, maka semakin besar pula tingkat kebahagiaan dari orang tersebut.
"Ketika gaji makin besar, mimpi yang diimpikan semakin dekat sehingga faktor bahagia juga lebih besar. Indonesia sendiri, makin banyak penghasilan makin happy," jelas Wisnu, kembali menegaskan usai ada yang mempertanyakan soal tingkat stres di kala gaji besar, dengan antusias.
Pernyataan ini tentu cukup membingungkan. Namun, Ia juga menambahkan bila riset yang dilakukan dalam laporan tersebut hanya terdapat pekerjaan dengan gaji yang tidak terlalu besar. Dengan demikian, data yang disajikan terbilang cukup ambigu karena secara logika, semakin besar gaji yang dimiliki maka semakin besar pula tekanan yang diterima.
Identifikasi nilai kebahagiaan berdasarkan gaji seolah menjadi standar, bahwa uang bisa memberi rasa bahagia. Akan tetapi, di balik itu harus diketahui pula, bila faktor kebahagiaan tiap orang berbeda dan mungkin saja individu yang menjadi responden dalam riset ini lebih condong dalam penafsiran tersebut.