Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kebiasaan Langka Orang yang Memancarkan Kebahagiaan

ilustrasi wanita tersenyum (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita tersenyum (pexels.com/olly)

Kebahagiaan kerap dipersepsikan sebagai hasil dari nasib baik atau hidup yang serba ideal. Padahal, ada orang-orang yang tetap terlihat bahagia meski berada dalam situasi yang tidak selalu sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan lebih banyak dipengaruhi oleh cara seseorang menjalani hidupnya.

Tanpa disadari, mereka yang memancarkan kebahagiaan biasanya memiliki kebiasaan tertentu yang jarang diperhatikan. Kebiasaan ini terbentuk dari pilihan sikap dan pola pikir sehari-hari. Ingin tahu apa saja yang membuat orang-orang ini memancarkan kebahagiaan? Yuk, simak beberapa kebiasaan langka yang sering dimiliki oleh orang-orang dengan aura bahagia berikut ini!

1. Fokus pada pencapaian diri, bukan membandingkan hidup

ilustrasi perkumpulan wanita (unsplash.com/elevatebeer)
ilustrasi perkumpulan wanita (unsplash.com/elevatebeer)

Orang yang bahagia cenderung lebih menghargai pencapaian pribadi dibandingkan sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Mereka menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Fokus pada progres diri membuat mereka lebih mudah merasa puas dan bersyukur.

Penelitian menunjukkan bahwa rasa pencapaian berperan besar dalam meningkatkan kesejahteraan emosional. Dikutip dari Psychology Today, Raj Raghunathan, Profesor Pemasaran yang berafiliasi dengan McCombs School of Business di Universitas Texas, menegaskan bahwa perasaan mampu dan kompeten dalam hal yang kamu tekuni adalah kebutuhan penting untuk bahagia.

2. Secara sadar menumbuhkan rasa bahagia

ilustrasi wanita sedang memegang gelas (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita sedang memegang gelas (pexels.com/olly)

Kebahagiaan tidak selalu muncul secara spontan, tetapi bisa dilatih melalui kebiasaan sederhana. Orang yang memancarkan kebahagiaan terbiasa memilih respons yang lebih positif dalam keseharian. Mereka memahami bahwa sikap mental sangat memengaruhi suasana hati.

Sebuah studi dari Association for Psychological Science menemukan bahwa tersenyum atau memperbaiki postur tubuh dapat berdampak positif pada mood dan tingkat stres. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan perasaan bahagia secara bertahap. Dengan kata lain, kebahagiaan sering kali berawal dari keputusan sederhana.

“Saat kamu tersenyum, otak menangkap aktivitas otot tersebut dan menganggap bahwa sesuatu yang menyenangkan sedang terjadi,” jelas Dr. Murray Grossan, seorang dokter THT (ENT-otolaryngologist) di Los Angeles, dikutip dari NBC News.

“Bahkan memaksakan senyum palsu secara sah dapat menurunkan stres dan memperlambat detak jantung,” tambah Dr. Sivan Finkel, seorang dokter gigi kosmetik di The Dental Parlour, New York City, dikutip dari NBC News.

3. Lebih menghargai pengalaman dibandingkan materi

ilustrasi wanita tersenyum (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita tersenyum (pexels.com/olly)

Dibandingkan mengejar uang semata, orang yang bahagia cenderung menginvestasikan waktu dan energi pada pengalaman hidup. Mereka lebih memilih perjalanan, aktivitas baru, atau momen bersama orang terdekat. Pengalaman memberi kepuasan emosional yang lebih bertahan lama.

Hal ini sejalan dengan penelitian dalam Journal of Consumer Psychology yang menyebutkan bahwa pengalaman memberikan kebahagiaan jangka panjang dibandingkan barang. Raghunathan juga menekankan pentingnya makna dalam hidup setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Menurutnya, kebahagiaan tumbuh ketika seseorang merasa hidupnya bernilai, bukan sekadar nyaman.

4. Membatasi penggunaan media sosial

ilustrasi wanita menggunakan nail polish (pexels.com/jepgambardella)
ilustrasi wanita menggunakan nail polish (pexels.com/jepgambardella)

Orang yang memancarkan kebahagiaan umumnya lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Mereka tidak menjadikan dunia digital sebagai tolok ukur kebahagiaan pribadi. Dengan begitu, tekanan sosial dan perbandingan hidup bisa diminimalkan.

Mengutip The New York Times, sebuah studi di jurnal JAMA Network Open menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial selama satu minggu dapat menurunkan gejala kecemasan, depresi, dan insomnia pada orang dewasa muda. Temuan ini menegaskan bahwa jeda dari media sosial dapat berdampak nyata pada kesehatan mental sehari-hari.

“Temuan ini memperkuat bukti bahwa berhenti sementara dari media sosial kerap membuat tingkat depresi, kecemasan, dan rasa kesepian ikut menurun,” kata Mitch Prinstein, seorang kepala ilmuwan dari American Psychological Association, dikutip dari laman yang sama.

5. Sering mengingat momen-momen baik

ilustrasi wanita bermain handphone (pexels.com/olly)
ilustrasi wanita bermain handphone (pexels.com/olly)

Menghargai kenangan indah adalah kebiasaan yang jarang dimiliki, tetapi sangat berdampak. Orang yang bahagia terbiasa mengingat kembali momen positif saat menghadapi hari sulit. Cara ini membantu mereka tetap optimistis.

Penelitian dari University of Liverpool menunjukkan bahwa mengingat pengalaman bahagia dapat memperkuat pikiran positif. Kebiasaan ini juga mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal. Dengan demikian, kebahagiaan tumbuh dari dalam diri sendiri.

Itulah tadi beberapa kebiasaan langka orang-orang yang memancarkan aura kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil dari kebiasaan yang dibangun secara konsisten. Orang-orang yang memancarkan kebahagiaan memahami bahwa mereka punya kendali atas cara memaknai hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Latest in Life

See More

Kenapa Penting Meminta Maaf kepada Anak?

07 Jan 2026, 23:54 WIBLife