Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi berbicara dengan atasan
ilustrasi berbicara dengan atasan (freepik.com/artursafronovvvv)

Intinya sih...

  • Niat memberi feedback harus untuk memperbaiki, bukan melampiaskan emosi

  • Pilih waktu dan situasi yang tepat agar pesan didengar dengan kepala dingin

  • Fokus pada dampak, bukan pada sosok atasan untuk menjaga profesionalisme

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak karyawan menyimpan unek-unek soal pekerjaan, tapi memilih diam karena takut dianggap tidak tahu diri. Memberi feedback ke atasan sering dipersepsikan sebagai tindakan nekat yang bisa berujung masalah karier. Padahal, komunikasi kantor yang sehat tidak hanya datang satu arah dari manajemen. Bawahan juga punya peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik.

Masalahnya bukan pada niat memberi masukan, melainkan cara menyampaikannya. Tanpa strategi yang tepat, feedback bisa terdengar seperti keluhan atau bahkan perlawanan. Di sinilah komunikasi asertif berperan, agar suara kamu tetap terdengar tanpa merusak relasi profesional. Berikut lima etika memberi feedback ke atasan yang bisa kamu terapkan dengan lebih aman dan elegan.

1. Pastikan niatmu untuk memperbaiki, bukan melampiaskan emosi

ilustrasi perempuan berpikir (pexels.com/Mikhail Nilov)

Sebelum bicara, tanyakan dulu pada diri sendiri apa tujuan feedback tersebut. Jika masih dipenuhi emosi atau rasa kesal, besar kemungkinan pesanmu akan terdengar menyerang. Memberi feedback ke atasan sebaiknya berangkat dari keinginan memperbaiki proses kerja. Niat yang tepat akan memengaruhi cara bicara dan pilihan kata.

Atasan biasanya bisa menangkap apakah feedback datang dari kepedulian atau sekadar keluhan. Dengan niat yang jernih, kamu lebih mudah menyampaikan poin secara tenang. Komunikasi kantor pun terasa lebih dewasa dan saling menghargai. Ini langkah awal menjaga karier tetap aman.

2. Pilih waktu dan situasi yang tepat

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

Feedback yang baik bisa gagal hanya karena disampaikan di momen yang salah. Mengkritik atasan di depan tim atau saat suasana sedang tegang jelas bukan pilihan bijak. Cari waktu yang lebih privat dan kondusif agar pesanmu didengar dengan kepala dingin. Timing sering kali sama pentingnya dengan isi.

Dengan memilih momen yang tepat, kamu menunjukkan empati dan profesionalisme. Atasan pun cenderung lebih terbuka menerima sudut pandangmu. Komunikasi asertif bukan soal berani bicara kapan saja, tapi tahu kapan harus bicara. Sikap ini membantu menjaga hubungan kerja jangka panjang.

3. Fokus pada dampak, bukan pada sosok atasan

ilustrasi berdiskusi dengan atasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kesalahan umum saat memberi feedback ke atasan adalah menyinggung kepribadian mereka. Alih-alih berkata “Bapak terlalu perfeksionis,” lebih baik jelaskan dampak dari gaya kerja tersebut. Fokus pada efek terhadap tim atau alur kerja membuat feedback terasa lebih objektif. Ini mengurangi risiko dianggap menyerang secara personal.

Pendekatan ini membantu diskusi tetap profesional dan relevan. Kamu tidak menghakimi, melainkan mengajak melihat situasi dari sudut lain. Dalam komunikasi kantor, data dan dampak jauh lebih kuat daripada opini personal. Cara ini juga menjaga posisi kariermu tetap aman.

4. Gunakan bahasa yang sopan tapi tetap tegas

ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/Vlada Karpovich)

Bersikap asertif bukan berarti kasar atau terlalu blak-blakan. Pilih bahasa yang sopan, namun jelas menunjukkan maksudmu. Kalimat seperti “Saya merasa kesulitan ketika…” terdengar lebih aman dibanding tuduhan langsung. Nada bicara yang tepat bisa mengubah arah percakapan.

Dengan bahasa yang seimbang, kamu menunjukkan kedewasaan emosional. Atasan lebih mudah menerima feedback tanpa merasa disudutkan. Komunikasi kantor yang sehat lahir dari kejelasan, bukan dari nada tinggi. Ini penting untuk menjaga kredibilitas dan kariermu.

5. Sertakan solusi, bukan hanya masalah

ilustrasi berdiskusi dengan atasan (freepik.com/katemangostar)

Feedback yang hanya berisi masalah sering kali terasa berat dan melelahkan. Menyertakan solusi menunjukkan bahwa kamu peduli pada hasil, bukan sekadar mengeluh. Ini juga memperlihatkan inisiatif dan tanggung jawab sebagai bawahan. Memberi feedback ke atasan pun terasa lebih konstruktif.

Solusi tidak harus sempurna atau besar. Cukup tawarkan alternatif yang realistis dan bisa didiskusikan bersama. Sikap ini memperkuat citra profesionalmu di mata atasan. Dalam jangka panjang, hal ini justru bisa mendukung perkembangan karier.

Memberi feedback ke atasan memang butuh keberanian, tapi bukan berarti harus gegabah. Dengan komunikasi asertif yang tepat, kamu bisa menyampaikan pendapat tanpa merusak hubungan kerja. Ingat, komunikasi kantor yang sehat dibangun dari dialog dua arah. Yuk, mulai suarakan pendapatmu dengan cara yang lebih cerdas dan manusiawi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian