Bekerja secara remote sering dianggap sebagai impian banyak orang. Bayangan bisa bekerja dari mana saja, tidak terikat waktu, dan punya kebebasan menentukan ritme hidup terdengar sangat menarik. Namun, di balik fleksibilitas itu, banyak pekerja remote justru merasa kehilangan kemampuan untuk benar-benar berhenti. Saat waktunya berlibur tiba, mereka sulit menenangkan pikiran karena kepala masih penuh dengan urusan kerja.
Fenomena ini memperlihatkan hal yang menarik, yakni semakin bebas seseorang mengatur hidupnya, semakin sulit ia menemukan jeda yang benar-benar lepas dari tanggung jawab. Banyak yang tidak sadar kalau kebebasan itu datang bersama beban baru rasa bersalah ketika beristirahat, kecemasan kehilangan kendali, dan tuntutan tak terlihat dari pekerjaan ini.
Lantas, kenapa banyak pekerja remote sulit menikmati liburannya, ya? Ini beberapa alasan yang menjadi penyebabnya!
