Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Tingkatkan Ketahanan Mental di Tengah Tekanan Kerja

tekanan pekerjaan
ilustrasi tekanan pekerjaan (pexels.com/Yan Krukau)
Intinya sih...
  • Optimalkan waktu libur untuk istirahat dan refreshing
  • Berani menolak perintah yang bukan tanggung jawabmu
  • Pakai jasa asisten bila memungkinkan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak kamu mencari lowongan kerja saja sudah ada syarat yang multitafsir dan dapat merugikan karyawan. Bukan hanya tentang penampilan menarik yang gak jelas ukurannya. Namun, juga kalimat calon karyawan wajib siap bekerja di bawah tekanan.

Tekanan seperti apa yang dimaksud? Apakah sekadar keharusan mencapai target atau kamu juga mesti mau saja dibentak-bentak atasan sesuka hatinya? Keduanya sama-sama bentuk tekanan mental buat karyawan.

Namun, kebutuhan akan pekerjaan bikin dirimu atau para pelamar lain tidak sempat mengkritisi persyaratan tersebut. Setelah kamu bekerja baru benar-benar merasakan beratnya bekerja di bawah tekanan. Langsung resign di tengah sulitnya mencari pekerjaan tak dianjurkan. Coba atasi dulu dengan enam tips berikut agar dirimu memiliki ketahanan mental di tengah tekanan kerja.

1. Mengoptimalkan waktu libur untuk istirahat dan refreshing

stres lembur terus
ilustrasi stres lembur terus (pexels.com/Czapp Árpád)

Besarnya tekanan dalam pekerjaan mungkin membuatmu selama ini masih mengurus sejumlah hal meski sedang libur. Harapanmu, tekanan di hari-hari berikutnya berkurang. Faktanya, malah tiadanya hari libur bikin mentalmu tambah gak keruan.

Capek fisik dan psikis menumpuk. Energimu di hari Senin bukannya penuh justru cuma separuh. Seminggu ke depan terasa amat berat. Kamu harus melupakan semua hal terkait pekerjaan begitu hari terakhirmu bekerja setiap minggunya.

Dirimu sangat boleh menolak dihubungi untuk urusan pekerjaan. Apalagi jobdesk-mu memang bukan terkait layanan yang harus siap 24 jam dan 7 hari dalam sepekan. Minta saja teman kerja bahkan atasan meninggalkan pesan dan kamu akan meresponsnya di hari kerja.

2. Berani menolak perintah yang bukan tanggung jawabmu

stres pekerjaan
ilustrasi stres pekerjaan (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Terlalu penurut pada atasan sekalipun bukannya membuatmu menjadi karyawan kesayangan, malah seperti cuma dimanfaatkan. Barangkali kepercayaan atasan yang begitu tinggi padamu memang lantaran hasil kerjamu selalu rapi dan cepat. Akan tetapi, repot juga bila itu bikin dirimu amat tertekan.

Terima tugas yang masih berkaitan dengan jobdesk, seperti perbaikan laporan dan sebagainya. Namun, jangan mau kalau kamu disuruh mengerjakan tugas yang bukan porsimu. Apalagi secara sukarela.

Kamu buntung, sedangkan orang lain yang seharusnya mengerjakannya diuntungkan. Jika pun dia karyawan baru dan belum paham caranya, tetap itu bukan tugasmu. Paling jauh dirimu cukup mengajarinya. Bukan mengambil alih kewajibannya.

3. Pakai jasa asisten bila memungkinkan

bersama asisten
ilustrasi bersama asisten (pexels.com/Kampus Production)

Memang tak di setiap situasi memungkinkan buatmu memiliki asisten pribadi. Kalau kamu gak punya jabatan istimewa di kantor, tentu secara pendapatan pun biasa-biasa saja. Sementara gaji asisten pribadi lumayan tinggi.

Walaupun beban pekerjaanmu luar biasa, dirimu tetap tak bisa menggunakan jasa aspri. Namun, bila itu memungkinkan dalam situasimu mengapa tidak? Asisten yang profesional benar-benar berguna untuk menyederhanakan tugas harianmu.

Tugas yang tidak perlu dikerjakan langsung olehmu dapat didelegasikan ke asisten. Juga jika kamu sering sekali bepergian ke luar kota bahkan luar negeri untuk keperluan pekerjaan. Ada asisten yang sigap mengatur jadwal keberangkatan dan kepulanganmu.

Termasuk memesankan seluruh tiket transportasi serta kamar hotel yang dibutuhkan. Plus menyiapkan barang-barang yang mesti dibawa biar kamu gak lupa. Semuanya rapi dan dirimu dapat menghemat tenaga serta pikiran.

4. Konsultasikan beban kerja dan perlakuan yang diterima pada HRD

stres bekerja
ilustrasi stres bekerja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Semua hal yang terus ditekan dapat memunculkan ledakan atau konflik hebat di kemudian hari. Saat kamu terus ditekan oleh atasan, misalnya. Jangan terlalu yakin dirimu akan bisa senantiasa bersabar.

Jika kesabaranmu makin tipis, boleh jadi kamu sewaktu-waktu gelap mata menghadapi atasan. Tindakanmu di luar kontrol. Apa pun latar belakangnya, tetap dirimu yang akan disalahkan serta dimintai pertanggungjawaban.

Lebih baik kamu membicarakan tekanan yang dirasakan pada staf HRD. Ini lebih tepat ketimbang dirimu curhat melulu ke teman. HRD tentu gak bakal tinggal diam. Mereka akan membantu mencari solusi permanen atas keluhanmu. Bila pun masalahnya terkait atasan kalian, staf HRD yang baik tetap mengomunikasikannya ke pimpinan supaya beban mentalmu gak terus bertambah.

5. Sikapi tekanan yang sama dengan cara berbeda

bos marah-marah
ilustrasi bos marah-marah (pexels.com/Yan Krukau)

Tekanan mentalmu memang disebabkan oleh hal-hal eksternal. Namun, cara mengatasinya tak hanya dengan mengubah hal-hal di luar diri tersebut. Seperti sikap atasanmu yang keras harus menjadi lemah lembut.

Berkurang sedikit barangkali masih bisa. Akan tetapi, tidak untuk berubah total. Maka dari itu, penting pula mengubah caramu dalam menghadapinya. Misal, tadinya kamu amat memikirkan sikap bos yang keras padamu. Sekarang dirimu belajar lebih cuek.

Bos lagi mengomel, kamu cukup mendengarkannya sampai selesai. Sehabis itu dirimu sengaja tak memikirkannya. Alihkan perhatian dengan makan di kantin atau bercanda dengan teman. Ketika caramu menyikapinya berubah lebih santai, masalah dari luar gak bisa menyabotase kebahagiaanmu.

Tekanan pekerjaan menjadi salah satu penyumbang stres terbesar bagi orang di usia produktif. Namun, tak mungkin pula untukmu bekerja bebas tekanan 100 persen. Bahkan jika dirimu pemilik usaha. Kelola tingkat stresmu dan miliki ketahanan mental di tengah tekanan kerja supaya kamu mampu bertahan lebih lama di suatu pekerjaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

Kenapa Penting Meminta Maaf kepada Anak?

07 Jan 2026, 23:54 WIBLife