Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Tips Menghadapi Rekan Kerja yang Baru Dimutasi, Jangan Menghakimi!

6 Tips Menghadapi Rekan Kerja yang Baru Dimutasi, Jangan Menghakimi!
ilustrasi berkanalan dengan rekan kerja baru (pexels.com/ Fauxels)

Mutasi adalah proses yang wajar terjadi dalam dunia kerja. Meski begitu, mutasi masih sering menjadi hal yang membuat gelisah para karyawan, baik yang dimutasi maupun yang harus menerima rekan kerja baru.

Ada berbagai pemikiran dan praduga yang bisa menimbulkan prasangka. Hal ini pun bisa berujung pada rasa resah dan kekhawatiran akan jalannya pekerjaan di masa mendatang.

Jika kamu berada di posisi karyawan yang harus menerima rekan baru, jangan langsung men-judge yang tidak-tidak. Sebagai gantinya, coba lakukan enam tips berikut ini.

1. Berpikir positif

ilustrasi tersenyum (pexels.com/ George Milton)
ilustrasi tersenyum (pexels.com/ George Milton)

Kamu perlu memiliki keyakinan bahwa keputusan menempatkan seorang pegawai baru adalah demi kemajuan perusahaan. Adanya pegawai baru dimaksudkan untuk memberi dukungan pada keberlangsungan proses kerja.

Pegawai sebagai sumber daya yang penting merupakan aset berharga yang memang sudah seharusnya ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan kemampuannya. Jika kantor kamu adalah pilihannya, tentu ada tujuan positif di baliknya. Dengan berpikir positif, kamu akan lebih mudah merasa gembira dan bekerja lebih baik.

2. Jangan buru-buru menghakimi

ilustrasi perkenalan  karywan (pexels.com/ Karolina Grabowska)
ilustrasi perkenalan karywan (pexels.com/ Karolina Grabowska)

Kebanyakan rumor atau cerita-cerita tentang orang baru yang akan mutasi, datang jauh lebih dahulu ketimbang orangnya sendiri. Bisa berupa hal-hal positif, tapi bisa juga negatif. Jika kamu mendengar hal-hal buruk tentang calon rekan kerja baru, jangan buru-buru berprasangka.

Sebab, belum tentu yang kamu dengar itu benar. Selama kamu belum melihatnya sendiri, sebaiknya kosongkan gelas prasangkamu. Bersiaplah menerima kebenaran saat tiba saatnya bertemu dan berinteraksi langsung.

Kamu bahkan tak seharusnya langsung menentukan orang jenis apa rekan kerja baru itu. Padahal kamu baru sekali dua kali bekerja bersamanya. It takes time to know the whole story.

3. Beri sambutan normal

ilustrasi perkenalan  karywan (pexels.com/ KIndel Media)
ilustrasi perkenalan karywan (pexels.com/ KIndel Media)

Agar sama-sama nyaman, sambutlah kehadiran rekan kerja baru kamu ini dengan cara senormal mungkin. Kamu sebaiknya bersikap wajar dan tak berlebihan. Tak semua orang menyukai sambutan berlebihan yang bisa membuat perasaan risih. Hindari melakukan hal-hal konyol yang mungkin kamu anggap lucu. Kamu kan belum tahu apakah dia suka bercanda. Salah-salah, hubungan kalian bakal rusak bahkan sebelum dimulai.

Jangan pula bersikap menjengkelkan seolah-olah ia adalah orang luar. Berbuat baiklah, kamu tak pernah tahu bisa saja suatu saat nanti kamu berada di posisinya. Bayangkan jika kamu menjadi dia, apa yang kamu harapkan dari rekan kerja di kantor kamu yang baru? bersikaplah sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

4. Hindari over ekspektasi

ilustrasi berkenalan dengan rekan kerja baru (pexels.com/ Fauxels)
ilustrasi berkenalan dengan rekan kerja baru (pexels.com/ Fauxels)

Kamu memang tak boleh berprasangkan buruk. Namun, kamu juga sebaiknya tak membuat harapan terlalu besar terhadap calon rekan kerja baru. Mungkin, kamu mendengar tentang kemampuan dia di tempat asalnya. Namun, jangan buru-buru mengharapkannya akan menjadi penyelamat kondisi pekerjaan di kantormu.

Bisa saja ia memang bagus dalam suatu bidang, tapi kadang-kadang beda lokasi atau budata. Hal-hal tersebut sangat mungkin memengaruhi performa kerja. Oleh karena itu, agar tak kecewa bersikaplah netral terlebih dahulu dan tetap sopan layaknya kepada sesama rekan kerja.

5. Hindari sikap superior

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/ Christina Morillo)
ilustrasi suasana kerja (pexels.com/ Christina Morillo)

Hanya karena kamu lebih dahulu berada di kantor kamu, bukan berarti kamu bisa bersikap sok berkuasa dan sok tahu. Ingatlah, bahwa kamu dan semua rekan kerja yang lain mempunya hal dan kewajiban yang sama, sesuai dengan posisi dan kedudukannya.

Sebab lebih dulu di tempat sekarang, kamu perlu berbagi pengalaman atau pengetahuan kamu dengan rekan kerja barumu jika diperlukan dan diminta. Imbangi dengan menanyakan pengalaman dan cara kerja di tempat yang lama. Siapa tahu kamu dan dia akan mendapat pencerahan atau ide baru sebagai hasil kolaborasi.

6. Tak perlu jadi pembisik

ilustrasi orang berbisik (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi orang berbisik (pexels.com/Karolina Grabowska)

Kadang-kadang, orang baru berusaha mencari tahu tentang karakter dan reputasi rekan-rekan kerja yang lain. Mungkin ia bermaksud untuk mengantisipasi keadaan dalam menghadapi rekan-rekan kerja yang lain.

Jika kebetulan ia bertanya kepadamu, tahan godaan untuk mengatakan hal-hal buruk tentang rekan kerja yang kurang kamu sukai. Hindari hal tersebut dan biarkan ia mengetahui sendiri seiring waktu. Tak perlu membuat risiko keributan dengan rekan kerja kamu yang lain hanya karena mereka mendengar kamu menjelekkan reputasi mereka.

Dengan menerapkan sikap-sikap positif tersebut, diharapkan kamu tak akan mengalami konflik dengan rekan kerja baru dan juga tim secara keseluruhan. Bahkan dengan itikad baik bersama, bukan tak mungkin dia bisa menjadi anggota tim kerja yang solid.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ines Sela Melia
EditorInes Sela Melia
Follow Us