Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Merasa Burnout di Awal Karier, Normal atau Tanda Salah Arah?

seorang wanita yang burnout saat bekerja
ilustrasi seorang wanita yang burnout saat bekerja (pexels.com/Ron Lach)
Intinya sih...
  • Tekanan awal karier sering diremehkan, menyebabkan akumulasi stres yang tidak dikelola dan memicu burnout lebih cepat.
  • Budaya kerja dan lingkungan yang tidak mendukung dapat menguras energi mental, membuat seseorang merasa terjebak dalam situasi yang tidak memberi makna.
  • Perbedaan burnout sementara dan tanda salah arah perlu diakui agar tidak terjebak terlalu lama dalam arah yang keliru.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal karier sering dibayangkan sebagai fase penuh semangat dan ambisi. Namun kenyataannya, tidak sedikit pekerja muda yang justru merasa lelah, jenuh, dan kehilangan motivasi meski baru beberapa tahun bekerja. Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan: apakah rasa burnout di awal karier adalah hal yang wajar, atau justru pertanda bahwa arah yang ditempuh tidak sesuai?

Burnout di usia muda bukan sekadar soal kelelahan fisik, tetapi juga tekanan emosional akibat ekspektasi tinggi, tuntutan adaptasi, dan perbandingan sosial. Jika tidak dipahami dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi quarter life crisis yang memengaruhi kepercayaan diri dan keputusan karier jangka panjang. Mari kita pelajari lebih lanjut pada artikel di bawah ini, yuk!

1. Tekanan awal karier yang sering diremehkan

ilustrasi kelelahan bekerja (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
ilustrasi kelelahan bekerja (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Di fase awal bekerja, banyak individu merasa harus membuktikan diri. Keinginan untuk tampil kompeten membuat mereka menerima beban kerja berlebih tanpa batasan yang jelas. Jam kerja panjang dan target tinggi pun dianggap sebagai konsekuensi yang harus dijalani.

Sayangnya, tekanan ini sering diremehkan, baik oleh lingkungan kerja maupun diri sendiri. Padahal, akumulasi stres yang tidak dikelola dapat memicu burnout lebih cepat, bahkan sebelum seseorang benar-benar mapan secara profesional.

2. Budaya kerja dan lingkungan yang tidak mendukung

ilustrasi rekan kerja yang melakukan diskusi (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi rekan kerja yang melakukan diskusi (pexels.com/Yan Krukau)

Burnout tidak selalu berasal dari kurangnya kemampuan individu, melainkan dari lingkungan kerja yang kurang sehat. Minimnya apresiasi, komunikasi yang buruk, serta ekspektasi yang tidak realistis dapat menguras energi mental, terutama bagi pekerja baru.

Ketika lingkungan kerja tidak memberi ruang untuk belajar dan berkembang, rasa frustrasi mudah muncul. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat seseorang mempertanyakan pilihan kariernya dan merasa terjebak dalam situasi yang tidak memberi makna.

3. Perbedaan burnout sementara dan tanda salah arah

ilustrasi seorang wanita yang duduk menyendiri (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi seorang wanita yang duduk menyendiri (pexels.com/Mikhail Nilov)

Tidak semua rasa lelah berarti salah memilih karier. Di awal pekerjaan, fase adaptasi hampir selalu disertai stres dan kelelahan. Selama masih ada rasa ingin belajar dan berkembang, kondisi ini umumnya bersifat sementara.

Namun, jika burnout berlangsung terus-menerus dan disertai hilangnya motivasi serta makna kerja, ini bisa menjadi sinyal bahwa pekerjaan tersebut tidak sejalan dengan nilai pribadi. Mengenali perbedaan ini penting agar tidak terjebak terlalu lama dalam arah yang keliru.

4. Dampak burnout terhadap kepercayaan diri

ilustrasi seorang wanita merasa bersalah (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi seorang wanita merasa bersalah (pexels.com/Liza Summer)

Burnout di awal karier dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Rasa lelah yang berkepanjangan sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan atau kegagalan pribadi, meski sebenarnya masalahnya lebih kompleks.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan menghambat perkembangan karier. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa burnout bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada aspek yang perlu diperbaiki.

5. Menentukan langkah selanjutnya secara bijak

seorang wanita yang menempelkan tulisan didinding
ilustrasi seorang wanita yang menempelkan tulisan didinding (pexels.com/cottonbro studio)

Menghadapi burnout membutuhkan refleksi yang jujur. Apakah yang dibutuhkan hanyalah istirahat, pengaturan ulang prioritas, atau komunikasi dengan atasan? Ataukah sudah saatnya mempertimbangkan perubahan arah yang lebih besar?

Keputusan apa pun sebaiknya diambil secara matang dan bertahap. Dengan pemahaman yang tepat, burnout di awal karier bisa menjadi titik balik untuk membangun jalur profesional yang lebih sehat dan selaras dengan tujuan hidup.

Merasa burnout di awal karier memang umum, tetapi tidak selalu bisa dianggap normal. Kondisi ini perlu dipahami secara mendalam agar tidak berkembang menjadi krisis yang berkepanjangan. Dengan mengenali sumber kelelahan, seseorang dapat menentukan langkah yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Alih-alih menjadi akhir, burnout justru bisa menjadi awal dari proses mengenal diri sendiri dan kebutuhan karier secara lebih utuh. Dari sanalah, arah yang lebih sesuai dan bermakna dapat dibangun dengan kesadaran penuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Pilih Satu Tempat Aman Versimu, Apa yang Sedang Kamu Lindungi?

18 Jan 2026, 22:05 WIBLife