Siapa yang gak pernah merasa jenuh, burnout, atau ingin langsung resign saat tekanan kerjaan lagi tinggi-tingginya? Dorongan untuk nekat resign tanpa backup plan kerap muncul sebagai jalan pintas instan demi menyelamatkan kesehatan mental yang makin terancam. Fenomena ini makin valid di kalangan anak muda yang menjunjung tinggi work-life balance dan gak ragu buat meninggalkan lingkungan kerja yang toksik. Namun, sebelum kamu benar-benar mengirim surat pengunduran diri, ada realitas logis yang perlu dihitung matang-matang, lho.
Keputusan impulsif ini berdampak besar pada isi dompet, dan kestabilan emosional kamu ke depannya. Menghadapi hari-hari tanpa kepastian penghasilan bisa memicu kecemasan baru yang justru lebih menguras energi daripada beban kerjaan lama, lho. Nah, kalau kamu gak siap dengan konsekuensinya, status pengangguran sementara ini malah bisa berubah jadi bumerang yang merusak produktivitas. So, sebelum salah mengambil keputusan, yuk perhatikan realitas logis yang bakal kamu hadapi kalau nekat resign tanpa backup plan.
