Ilustrasi bekerja (pexels.com/Yan krukau)
Sementara itu, Dr. Jeanne Hoffman, seorang psikolog dari Fakultas Kedokteran University of Washington, menegaskan bahwa bekerja keras dalam waktu yang terlalu lama justru dapat berdampak negatif, khususnya terhadap kreativitas. Menurutnya, jam kerja yang melebihi 50 jam per minggu cenderung menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif dan inovatif. Hal ini terjadi karena tubuh dan pikiran tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup.
Selain itu, pekerja dengan jam kerja berlebihan juga sering mengabaikan kehidupan pribadi, termasuk waktu bersama keluarga dan teman, padahal interaksi sosial terbukti mampu menurunkan tingkat stres akibat pekerjaan. Rasa bahagia dan keseimbangan hidup inilah yang justru dapat memicu munculnya energi positif serta meningkatkan kreativitas.
Dampak hustle culture tidak hanya dirasakan oleh individu yang menjalaninya, tetapi juga oleh lingkungan kerja di sekitarnya. Penganut budaya gila kerja cenderung menuntut orang lain untuk bekerja dengan intensitas yang sama tinggi, tanpa mempertimbangkan batasan dan kebutuhan rekan kerjanya. Tidak jarang mereka memberikan tugas di luar jam kerja, saat waktu istirahat, bahkan pada hari libur.
Perilaku ini berpotensi memicu konflik antaranggota tim, menurunkan keharmonisan kerja, dan pada akhirnya berdampak buruk pada produktivitas secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa kerja keras yang tidak seimbang justru dapat membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat.
Perdebatan antara soft life dan hustle culture menunjukkan adanya pergeseran cara pandang dalam memaknai kesuksesan dan produktivitas. Hustle culture menekankan kerja keras tanpa henti sebagai tolok ukur keberhasilan. Namun, sering kali juga mengorbankan kesehatan mental, kreativitas, dan kehidupan pribadi.
Sebaliknya, soft life hadir sebagai alternatif yang lebih seimbang dengan mengutamakan kesejahteraan, kebahagiaan, dan produktivitas yang berkelanjutan. Pada akhirnya, pilihan gaya hidup bukan tentang bekerja keras atau hidup santai semata, melainkan tentang menemukan ritme yang sehat antara usaha dan istirahat agar kesuksesan yang diraih tidak hanya bersifat materi, tetapi juga memberikan makna dan kualitas hidup yang lebih baik.