Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tindakan saat Alami Pelecehan Seksual di Tempat Kerja
ilustrasi menyentuh pantat (pexels.com/Mikael Blomkvist)
  • Artikel menyoroti maraknya pelecehan seksual di tempat kerja dan pentingnya korban untuk tidak diam, melainkan berani bersikap tegas demi menjaga martabat diri.
  • Dijelaskan lima langkah konkret menghadapi pelecehan, mulai dari perlawanan fisik, meninggalkan lokasi, melapor ke atasan, hingga membuat laporan polisi bila diperlukan.
  • Korban diingatkan untuk tetap speak up meski pelaku memiliki jabatan tinggi serta disarankan mencari dukungan psikologis guna memulihkan trauma.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masih banyaknya berita seputar pelecehan seksual patut membuat setiap orang waspada. Baik pelaku maupun korbannya dapat siapa saja. Bahkan bisa dibilang gak ada tempat yang benar-benar aman dari potensi pelecehan seksual.

Termasuk di tempat kerja yang seharusnya semua orang bersikap profesional. Bahkan perempuan atau pria satu-satunya di kantor semestinya tidak untuk dilecehkan dengan cara apa pun. Sayangnya, ini kadang tak terwujud di setiap tempat.

Malah pelecehan dapat dilakukan di ruangan yang berisi sejumlah karyawan. Apa yang harus dilakukan seandainya hal buruk tersebut menimpamu? Hindari berdiam diri karena takut atau seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Keduanya dapat membuat pelaku makin merasa berkuasa atasmu. Lakukan lima tindakan di bawah ini.

1. Segera menepis tangan atau menampar wajahnya

ilustrasi teman kerja (pexels.com/Alena Darmel)

Jika teman kerja sampai berusaha melakukan kontak fisik denganmu, kamu juga sangat boleh mengambil tindakan fisik. Bila tidak demikian, ia dapat berbuat lebih jauh. Seperti tadinya dia memegang tanganmu tanpa maksud yang jelas menjadi meremasnya atau pindah ke bagian tubuh lain yang lebih pribadi.

Tanpa adanya tindakan yang berani, kamu seolah-olah memberikan lampu hijau padanya untuk berbuat lebih jauh. Begitu juga kalau seseorang mencoba menciummu. Sekadar kamu mendorongnya agar menjauh dapat tampak sebagai perlawanan yang tak berarti.

Malah salah-salah dirimu dikira sedang bersikap jinak-jinak merpati. Kamu hanya butuh lebih dirayu dan ditekan. Apalagi doronganmu gak seberapa kuat. Sementara sebuah tamparan keras sontak menyadarkannya betapa dirimu gak bisa direndahkan seperti itu.

2. Tinggalkan ruangan atau teriak minta tolong

ilustrasi teman kerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Berada di ruangan yang sama dengan pelaku pelecehan seksual sangat gak aman. Meski kamu tadi sudah bersikap tegas, dia dapat kembali memanfaatkan kesempatan. Dirimu yang bertahan di tempat seperti hanya setengah hati menolak perbuatannya.

Tak usah pikir panjang, langsung saja cabut dari sana. Kalaupun barang-barangmu masih berserakan, cukup bawa benda terpenting seperti smartphone dan dompet. Sisanya dapat dibereskan nanti kalau situasi sudah lebih aman.

Misalnya, dia sudah pergi atau ada kawan yang menemanimu mengambil barang-barang. Kalau ruangan dikunci oleh pelaku atau ia berusaha menghalangimu mencapai pintu, berteriaklah sekeras mungkin sekalipun dia melarang. Kamu pun dapat menambah kegaduhan dengan membanting atau menendang benda-benda dalam ruangan.

Gak apa-apa reaksimu seperti berlebihan. Dirimu tidak tahu apa yang bisa dilakukannya seandainya pertolongan tak segera datang. Teriakan dan kegaduhan tersebut akan menarik perhatian teman-temanmu di luar.

3. Melaporkannya pada atasan kalian

ilustrasi teman kerja (pexels.com/Alena Darmel)

Selama masih ada atasan yang lebih tinggi dari pelaku, buat laporan agar dia jera. Atasan harus tahu apa yang sudah terjadi. Dengan atau tanpa terdapat bukti dan saksi, terpenting kamu tetap melapor.

Jangan menganggap pelecehan seksual oleh teman kerja sebagai urusan pribadi kalian saja. Apalagi kejadiannya di kantor. Seandainya pun perbuatannya terjadi di luar kantor, kamu tetap dapat melaporkannya pada atasan.

Perilaku karyawan yang tidak mencerminkan nilai-nilai instansi pasti akan dikenai sanksi. Pelaku boleh jadi sama sekali tak takut padamu. Namun, ia masih takut kehilangan pekerjaannya. Tindak lanjut oleh pimpinan akan membuatnya tidak berani mengulanginya. Bahkan ia bertemu kembali denganmu saja mungkin tak punya nyali.

4. Jika pelakunya pimpinan tertinggi, tetap tegas dan siap akan risikonya

ilustrasi di kantor (pexels.com/Jopwell)

Kalau pelaku pelecehan seksual masih teman sesama staf, ada atasan yang dapat dimintai perlindungan dan ketegasan buat menindaknya. Namun, bagaimana jika pelaku pelecehan seksual malah pimpinan tertinggi di kantor? Tentu tekanan psikismu lebih besar.

Ada kesenjangan kekuasaan yang amat lebar antara dirimu dengannya. Pelaku tahu betul dia menang dalam hal itu sehingga sama sekali gak takut seandainya pun kamu melawan. Akan tetapi, jangan gentar.

Sebagai korban, dirimu tetap perlu speak up. Katakan secara terbuka di depan teman-teman apa yang sudah menimpamu. Jika kamu berhasil menggalang solidaritas mereka, bos besar pun kewalahan menghadapi anak buah yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan orang.

Akan tetapi, tentu kamu harus siap dengan risiko pemecatan. Dia yang punya kantor. Tidak ada orang yang bisa menurunkannya dari kekuasaan tertinggi. Siap-siap kamu terdepak asalkan kehormatan diri terjaga.

5. Bikin laporan polisi

ilustrasi teman kerja (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak korban pelecehan seksual ragu untuk membuat laporan polisi. Selain rasa takut terhadap pelaku, ada pula rasa malu telah mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh. Pun rasa trauma yang besar bikin kamu cenderung sama sekali gak ingin mengungkitnya.

Masalahnya, diammu adalah kemenangan bagi pelaku. Ia akan merasa berhasil menguasaimu sepenuhnya. Tindakan cabulnya tidak bakal berhenti. Justru dia terus mengulanginya dengan perbuatan yang makin buruk.

Apabila kamu sulit mendapatkan keadilan dari lingkungan kantor saja, maka melibatkan kepolisian ialah pilihan tepat. Jangan biarkan dirimu kembali mengalami perlakuan serupa darinya. Atau, ada korban lain dari aksi bejatnya.

Menjadi korban pelecehan seksual merupakan pengalaman yang sangat traumatis. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Cukup lakukan tindakan-tindakan di atas sebagai bentuk perlindungan diri dan agar seseorang tidak makin merendahkan martabatmu. Bila rasa trauma masih membayangi, segera hubungi psikolog untuk berkonsultasi dan terapi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team