Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Castorly Stock)

Intinya sih...

  • Pot tanaman dapat membuat buku kotor dengan tetesan air dan noda tanah, sehingga memerlukan tatakan pot dan jarak yang aman.

  • Tanaman memerlukan kelembapan, sementara buku harus selalu kering. Pilih tanaman yang suka media tanam kering seperti kaktus.

  • Tanaman besar bisa menghalangi pencahayaan ruangan. Pertimbangkan ukuran dan tempat penempatan tanaman agar tidak mengganggu aktivitas membaca.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tren tata ruang yang memasukkan unsur alam dengan tanaman sedang digandrungi. Tanaman membuat ruangan terasa lebih hidup dan sejuk. Tanaman juga menjadi pemanis di ruangan, meja baca, atau rak buku.

Kalau kamu sudah capek membaca, mengalihkan pandangan ke hijaunya tanaman dapat membuat mata lebih relaks. Namun, apakah penempatan tanaman hidup di sekitar buku benar-benar tepat? Lebih dari sekadar tren yang bikin ruangan terlihat estetik, ada hal-hal yang perlu diperhatikan.

Baik untuk kondisi buku-buku koleksimu maupun tanaman itu sendiri. Tanaman masih dapat berada dalam ruangan, tapi pemilihan jenisnya serta penempatannya mesti tepat. Lima risiko menempatkan tanaman di dekat buku berikut ini harus terlebih dahulu diketahui sebelum eksekusi

1. Risiko buku kotor oleh media tanam

ilustrasi buku dan tanaman (pexels.com/Rebecca Diack)

Walaupun kamu berusaha menjaga pot tanaman agar selalu rapi, media tanam di dalamnya tetap dapat keluar. Seperti saat dirimu menyiramnya. Tetesan air sekecil apa pun bisa bikin campuran tanah serta sekam mengenai sekitar pot.

Apalagi kalau media tanam menggunakan tanah sepenuhnya. Risiko kotor lebih besar. Pun noda tanah basah agak sulit hilang jika mengenai kertas. Di satu sisi, tanahnya lengket pada kertas.

Di sisi lain, kertasnya tipis dan akan mudah robek kalau dirimu mencoba lebih kuat untuk menghilangkan noda tanah basah tersebut. Pemakaian tatakan pot wajib. Selain itu, jarak antara tanaman dan buku-buku harus aman.

2. Buku basah atau lembap bikin cepat rusak

ilustrasi buku dan tanaman (pexels.com/Josh Sorenson)

Tanaman memerlukan kelembapan yang pas agar bisa tumbuh dengan baik. Air menjadi salah satu komponen penting dalam pertumbuhan. Sementara itu, kebutuhan buku yang berbahan kertas justru sebaliknya.

Buku harus selalu dalam keadaan kering supaya tidak rusak. Jangankan tetesan air yang langsung mengenai kertas. Kelembapan tinggi saja bikin buku cepat menguning. Kamu memang bisa menyampuli buku dengan sampul plastik.

Akan tetapi, lembar-lembar di dalamnya lebih sulit terlindungi jika di dekat tanaman. Terlebih, tanaman air atau yang butuh air lebih banyak. Solusinya, pilih tanaman yang suka media tanam kering seperti kaktus. Kelembapan di sekitarnya pun berkurang.

3. Tanaman cukup besar, cahaya saat membaca terhalang

ilustrasi membaca (pexels.com/Gabriel Bulz)

Ukuran tanaman patut dipertimbangkan dengan cermat. Aktivitas membaca membutuhkan cahaya yang cukup baik dari lampu maupun matahari ketika siang. Tanaman yang berukuran cukup besar memang bagus kalau ruangannya juga gede.

Kesan sejuk dan alaminya lebih kuat daripada tanaman-tanaman mini dalam pot lucu. Hanya saja, bagaimana efeknya terhadap pencahayaan ruangan? Jika tanaman besar malah membuat ruangan atau titik tempatmu membaca gelap, berarti harus dipindah.

Tanaman dapat ditaruh di titik yang berseberangan dengan meja baca atau lampu. Usahakan agar di siang hari dirimu tetap dapat membaca tanpa perlu menyalakan lampu. Atau gunakan lampu di plafon dan bukan lampu sudut atau lampu meja yang bisa terhalang tanaman.

4. Serangga menyelinap di buku

ilustrasi rak buku dan tanaman (pexels.com/Alisa Fjolars)

Semua unsur alam akan mengundang unsur alam lainnya. Satu tanaman saja bakal menarik beberapa serangga. Masalahnya, kamu juga tidak bisa sembarangan menyemprotkan racun anti-serangga seperti obat nyamuk cair yang biasa dipakai di rumah.

Efeknya pada tanaman dapat kurang baik. Dirimu hanya boleh memakai anti-serangga khusus tanaman. Pun usahakan organik mengingat tanaman diletakkan dalam ruangan. Jika serangga terlanjur datang, binatang lain bisa ikut mendekat. Seperti bunglon yang akan memangsa serangga tersebut.

Bunglon tak sampai masuk saja. Serangga yang tertarik pada tanaman dapat menyelinap di lembar-lembar bukumu. Beberapa di antaranya mungkin mati terjepit dan meninggalkan noda. Celah-celah buku juga dapat dijadikan tempat persembunyian binatang-binatang kecil tersebut.

5. Tanaman mati kekurangan cahaya matahari

ilustrasi mengambil buku (pexels.com/Cup of Couple)

Kamu suka buku, sehingga wajar kalau mengkhawatirkan kondisinya. Akan tetapi, bukan hanya buku yang mesti dipikirkan. Kondisi tanaman yang dimasukkan ke ruangan juga tidak boleh diabaikan.

Bagaimanapun juga, dirimu sedang berurusan dengan makhluk hidup. Penanganannya tak semudah benda mati. Tidak semua tanaman tahan terhadap berada di dalam ruangan. Pun sekuat-kuatnya, tanaman berada di ruangan tertutup, secara alami tetap memerlukan udara segar serta sinar matahari.

Jangan hanya demi mengejar sisi estetika supaya kamu punya foto bagus buku dan tanaman, kesejahteraan tanaman justru dikorbankan. Tanaman tetap perlu mendapatkan cahaya matahari beberapa jam dalam sehari, tergantung jenisnya. Pun ketika tanaman ditaruh di dalam ruangan, pilih dekat jendela yang terbuka ketimbang sudut lain.

Tata ruang dengan memasukkan tanaman mesti dipikirkan secara cermat. Apalagi, tanaman akan disandingkan dengan buku yang memiliki sifat mudah rusak. Oleh sebab itu, terdapat risiko menempatkan tanaman di dekat buku yang perlu kamu perhatikan. Bila kehadiran tanaman berakibat kurang baik, mending tetap ditaruh di luar, seperti di balkon. Saat kamu ingin membaca, kamu dapat membawa buku ke balkon atau dekat jendela untuk menikmati sensasi alam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team