ilustrasi dekorasi kamar yang minimalis (pexels.com/Paul Seling)
Desain ruangan minimalis mulai ditinggalkan sebab individu lebih senang jika hunian mereka memiliki makna personal dibandingkan menghadirkan ruang yang 'ideal'. Keadaan ideal yang utopis karena mempertahankan ruangan yang rapi dan hanya memiliki benda yang fungsional. Bagi sebagian orang, hal ini tak lagi ideal karena sentuhan personal juga diperlukan dalam suatu hunian.
Desainer interior Joanna Laajisto dalam The Spaces mengungkapkan, ketika seseorang membuat rumah, ia berharap tempat tersebut dapat menjadi ruang yang memberi ketenangan dan rasa aman saat ditempati bersama keluarga. Ia ingin hunian yang ditinggali menghadirkan citra personal dirinya, bersifat pribadi, dan memiliki makna kemewahan.
Kemewahan di sini tak selalu berarti sesuatu yang mahal atau mengedepankan nilai konsumerisme, namun kesadaran terhadap lingkungan dan sesuatu yang diproduksi secara massal. Keinginan orang untuk mengisi rumah dengan benda yang personal, handcrafted, dan terbuat dari material alami inilah yang dianggap sebagai kemewahan masa kini.
Sementara hal semacam itu tidak bisa dihadirkan dalam hunian minimalis. Orang-orang ingin membeli objek seperti furnitur, perabot, atau dekorasi yang memiliki nilai tertentu bagi dirinya. Tak hanya membeli sebuah objek, mereka juga ingin mengenal pembuatnya, memahami proses kreatifnya, serta alasan di balik bentuk dan detail yang dipilih.