Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma Buku Cerita, Novel Student Hidjo Ungkap Fakta Mengejutkan

Bukan Cuma Buku Cerita, Novel Student Hidjo Ungkap Fakta Mengejutkan
novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo. (dok. pribadi).
Intinya Sih
  • Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo bukan sekadar roman, tapi manifesto politik yang mengkritik kolonialisme dan ketimpangan sosial melalui kisah pelajar bumiputra di Belanda.
  • Tokoh Hidjo mencerminkan kegamangan identitas pelajar pribumi yang terjepit antara nilai-nilai Eropa dan akar budaya sendiri, menggambarkan dilema rasisme serta pencarian jati diri nasional.
  • Mas Marco menggunakan bahasa Melayu rendah sebagai bentuk perlawanan budaya, menjadikan Student Hidjo simbol dekolonisasi narasi dan kritik terhadap sistem pendidikan kolonial yang menindas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat pertama kali diterbitkan pada tahun 1918, Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo mungkin tampak seperti novel roman biasa. Tapi di balik kisah cinta dan kehidupan seorang pelajar bumiputra di Belanda, tersembunyi kritik sosial yang tajam, potret kolonialisme yang pahit, dan pemikiran-pemikiran progresif yang jauh melampaui zamannya. Bukan sekadar karya sastra, Student Hidjo adalah manifesto politik tersembunyi yang menyuarakan perlawanan kelas dan identitas bangsa.

Dalam novel ini, Mas Marco menyelipkan fakta-fakta mengejutkan tentang sistem pendidikan kolonial, kehidupan pribumi di negeri penjajah, serta kegamangan identitas yang dirasakan anak muda terpelajar Hindia Belanda. Melalui tokoh utama bernama Hidjo, pembaca diajak melihat realitas pahit kolonialisme dari perspektif dalam ruang kelas, relasi antar-ras, hingga hati sang tokoh sendiri. Inilah lima hal yang membuat Student Hidjo bukan cuma novel biasa.

1. Novel ini ditulis oleh aktivis anti-kolonial

ilustrasi produksi gula jaman kolonial
ilustrasi produksi gula jaman kolonial (unsplash.com/British Library)

Mas Marco bukan hanya seorang penulis, tapi juga jurnalis dan aktivis politik yang dikenal vokal menentang penjajahan Belanda. Ia menulis Student Hidjo saat berada di pengasingan di Belanda dan banyak bagian dalam novel ini merupakan refleksi dari pengalamannya sendiri sebagai pelajar pribumi yang hidup dalam tekanan budaya kolonial.

Dengan gaya satir dan penuh sindiran, Marco menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan sistem kolonial. Ia tak segan menunjukkan betapa pelajar pribumi dianggap "kelas dua", bahkan ketika mereka berpendidikan tinggi. Hal ini menjadikan Student Hidjo sebagai bagian penting dalam sejarah sastra perlawanan Indonesia.

2. Hidjo: simbol kegamangan identitas pribumi

Ilustrasi bangunan peninggalan kolonial
Ilustrasi bangunan peninggalan kolonial. (freepik.com/4045)

Tokoh utama, Hidjo, adalah pelajar Jawa yang dikirim ke Belanda untuk menimba ilmu. Namun alih-alih menjadi cerita sukses, hidupnya dipenuhi kegelisahan identitas. Di satu sisi, ia terdidik dan mengenal nilai-nilai Eropa; di sisi lain, ia tak pernah diterima sepenuhnya karena warna kulit dan asal-usulnya.

Melalui Hidjo, Marco menggambarkan dilema banyak pelajar bumiputra yang terjepit antara dua dunia: dunia pribumi yang dianggap "primitif" dan dunia kolonial yang menolak mereka secara rasial. Tema ini relevan hingga kini, terutama dalam diskusi tentang diaspora, rasisme, dan jati diri nasional.

3. Membongkar wajah rasisme di Belanda

Penampakan Kayutangan era kolonial Belanda
Penampakan Kayutangan era kolonial Belanda. (Dok. Museum Arsip Nasional)

Salah satu hal paling mengejutkan dari novel ini adalah bagaimana Marco dengan terang-terangan menggambarkan rasisme yang dialami pelajar Hindia di Belanda. Hidjo digambarkan sebagai sosok yang terus-menerus dianggap inferior oleh masyarakat Belanda meski ia pandai, berbudaya, dan sopan.

Dalam banyak adegan, diskriminasi ini tak ditampilkan secara frontal, tetapi melalui sindiran halus dan interaksi sehari-hari. Ini menjadi pengingat bahwa kolonialisme bukan hanya soal penaklukan fisik di tanah jajahan, tetapi juga tentang penindasan psikologis yang melampaui batas geografis.

4. Pendidikan sebagai alat pengontrol kolonial

ilustrasi tentara kolonial
ilustrasi tentara kolonial (unsplash/Craig Sibert)

Mas Marco menyindir keras sistem pendidikan kolonial yang menjanjikan kemajuan, tetapi pada akhirnya hanya mencetak “pegawai-pegawai taat” untuk melayani pemerintah kolonial. Dalam novel, Hidjo diajarkan nilai-nilai Eropa, tapi tidak pernah diberi kesempatan untuk benar-benar menjadi bagian dari sistem tersebut.

Hal tersebut mengungkap bagaimana pendidikan di masa itu tidak membebaskan, melainkan menjinakkan. Kritik ini masih relevan hingga kini, ketika kita bicara tentang kurikulum yang tidak memerdekakan atau pendidikan yang tidak memanusiakan. Student Hidjo adalah alarm yang mengajak kita menilai ulang arah pendidikan nasional.

5. Bahasa sebagai senjata perlawanan

ilustrasi mesin tik jadul
ilustrasi mesin tik jadul (pexels.com/@arnie-chou)

Yang menarik, Student Hidjo ditulis dalam bahasa Melayu rendah, pilihan yang radikal di masa itu. Marco menolak gaya sastra elitis yang hanya bisa dipahami kalangan terpelajar. Ia menulis untuk rakyat dan dengan bahasa rakyat agar pesan-pesannya bisa menyebar lebih luas.

Pilihan ini membuktikan bahwa sastra bisa menjadi alat perjuangan, bukan sekadar hiburan. Marco menggunakan bahasa sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme budaya yang berusaha menjauhkan rakyat dari wacana intelektual. Dalam konteks ini, Student Hidjo adalah bentuk nyata dari dekolonisasi narasi.

Student Hidjo bukan sekadar kisah cinta seorang pelajar bumiputra di negeri penjajah. Ia adalah dokumen sejarah, kritik sosial, dan alat perlawanan kultural yang dibungkus dalam bentuk sastra. Lewat tokoh dan ceritanya, Mas Marco mengajak kita melihat wajah kolonialisme dari dalam, tanpa topeng dan tanpa sensor. Jika kamu ingin memahami akar perjuangan intelektual bangsa ini, novel tersebut adalah bacaan wajib yang tetap relevan hingga hari ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More