Ilustrasi masyarakat Bali (unsplash.com/Photo by Polina Kuzovkova)
Pada pinanggal pisan, sasih kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi yang sesungguhnya. Pada hari ini suasana menjadi sangat sunyi, seolah-olah kehidupan berhenti sejenak. Tidak ada aktivitas seperti biasanya. Pada momen ini umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari:
Amati geni: Tidak menyalakan atau menggunakan api serta menahan diri dari hal-hal yang membangkitkan hawa nafsu.
Amati karya: Tidak melakukan pekerjaan atau aktivitas kerja.
Amati lelungan: Tidak melakukan perjalanan atau keluar rumah.
Amati lelanguan: Tidak menikmati hiburan atau kesenangan, termasuk menahan diri dari makan dan minum.
Selain itu, bagi yang mampu juga menjalankan tapa, brata, yoga, dan semadhi sebagai bentuk pengendalian diri dan perenungan. Sepanjang hari Nyepi, umat Hindu benar-benar menghentikan aktivitas sehari-hari. Lingkungan menjadi sangat tenang dan sunyi, bahkan sering digambarkan seperti kota yang tidak berpenghuni.
Lampu-lampu tidak dinyalakan dan semua orang tetap berada di rumah. Keheningan ini melambangkan awal baru yang bersih, seperti membuka lembaran putih untuk memulai kehidupan yang lebih baik.
Rangkaian terakhir dalam perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada pinanggal ping kalih (tanggal 2) sasih kedasa (bulan ke-10). Hari ini merupakan hari kedua dalam tahun baru Saka.
Pada hari tersebut umat Hindu melaksanakan Dharma Shanti bersama keluarga besar maupun tetangga. Mereka saling bersyukur, saling mengunjungi, serta meminta dan memberi maaf satu sama lain sebagai tanda memulai tahun baru dengan hati yang bersih.
Makna utama dari Dharma Shanti berlandaskan pada filosofi Tattwamasi yang mengajarkan bahwa semua manusia pada dasarnya adalah ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena itu, setiap orang diharapkan dapat saling menghargai, menyayangi, dan memaafkan kesalahan satu sama lain. Dengan sikap tersebut, kehidupan diharapkan dapat berjalan dalam suasana yang rukun, damai, dan penuh kebersamaan.
"Kesucian, kebersihan, keharmonisan dan keserasian hidup serta kelestarian, ketiga unsur Tri Hita Karana ini merupakan prasarat untuk meningkatkan kualitas hidup, bersama-sama introsfeksi diri sendiri dan mendengarkan bisikan hati nurani, diri pribadi yang jujur dan murni, bersih dari berbagai sifat negatif, seperti permusuhan, dengki, keserakahan, sombong, dan sebagainya," jelas I Nyoman Warta.