Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Buku Favorit Margaret Qualley, Layak Dibaca Sekali Seumur Hidup
Margaret Qualley dalam film The Substance (dok. Working Title Films/The Substance)
  • Margaret Qualley dikenal sebagai aktris berbakat yang juga gemar membaca, dengan selera buku yang mencerminkan kedalaman emosional dan refleksi pribadi.
  • Enam buku favoritnya mencakup karya klasik, fiksi modern, hingga bacaan reflektif seperti The Goldfinch, The Catcher in the Rye, dan Letters to a Young Poet.
  • Daftar ini menampilkan pandangan Qualley terhadap seni dan kehidupan, sekaligus menjadi rekomendasi bacaan bermakna bagi siapa pun yang mencari inspirasi literer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Margaret Qualley dikenal sebagai aktris dengan pilihan peran yang berani dan emosional. Di balik kariernya di dunia film, Qualley juga dikenal sebagai pencinta buku sejati, lho. Dalam beberapa wawancara, Qualley sering membicarakan bacaan yang mengubah cara pandangnya tentang hidup dan seni.

Daftar buku favorit Margaret Qualley berisi kombinasi novel klasik, fiksi modern, sampai buku reflektif. Pilihannya tidak hanya populer, tetapi juga kaya makna dan pengalaman batin. Kalau kamu sedang mencari rekomendasi bacaan berkualitas, deretan buku favorit bintang The Substance (2023) ini bisa jadi titik awal yang menarik.

1. The Goldfinch — Donna Tartt

The Goldfinch (dok. Waterstones)

Novel tebal ini mengikuti perjalanan hidup Theo Decker, remaja New York yang selamat dari ledakan di museum yang merenggut nyawa ibunya. Dari satu kejadian traumatis itu, hidup Theo berubah total. Ia tumbuh dengan rasa bersalah dan keterikatan pada sebuah lukisan legendaris yang diam-diam ia simpan.

Margaret Qualley pernah memuji Donna Tartt karena kemampuannya membangun cerita yang terasa hangat. Buku ini cocok untuk mereka yang suka novel panjang dengan karakter kompleks dan perjalanan psikologis yang dalam. Setelah selesai, banyak pembaca merasa seperti keluar dari dunia lain dan agak sedih karena harus meninggalkannya.

2. The Catcher in the Rye — J.D. Salinger

The Catcher in the Rye (dok. Britannica)

Buku klasik ini berpusat pada Holden Caulfield, remaja yang kabur dari sekolah dan mengembara di New York selama beberapa hari. Sepanjang perjalanan itu, pembaca diajak masuk ke isi kepalanya yang penuh kritik, kebingungan, dan kepekaan berlebihan terhadap dunia orang dewasa. Ceritanya tidak dipenuhi aksi besar, tapi justru kuat di suara batin tokohnya.

Daya tarik novel The Catcher in the Rye ini ada pada kejujurannya yang mentah. Holden terasa rapuh, menyebalkan, tapi juga sangat manusiawi. Banyak pembaca merasa terhubung karena buku ini menangkap fase pencarian jati diri dengan sangat tajam.

3. Harry Potter and the Philosopher’s Stone — J.K. Rowling

Harry Potter and the Philosopher’s Stone (dok. J. K. Rowling)

Buku pertama seri Harry Potter ini memperkenalkan dunia sihir lewat sudut pandang anak yang baru tahu dirinya seorang penyihir. Dari lembar pertama, pembaca langsung diajak masuk ke Hogwarts, sekolah sihir dengan segala keajaiban dan bahayanya. Perjalanannya penuh rasa takjub, persahabatan, dan misteri yang pelan-pelan terbuka.

Bagi Margaret Qualley, buku ini adalah comfort read saat ia bersekolah di asrama balet di usia remaja. Ceritanya memberi rasa aman sekaligus pelarian yang menyenangkan dari tekanan latihan dan disiplin keras. Nuansa petualangan dan kehangatan persahabatan membuat novel ini tetap relevan dibaca ulang di usia berapa pun.

4. The Giving Tree — Shel Silverstein

The Giving Tree (dok. HarperCollinsPublisher)

Meski sering dikategorikan sebagai buku anak, The Giving Tree menyimpan makna emosional yang sangat dalam. Ceritanya sederhana, yakni tentang sebuah pohon yang terus memberi kepada seorang anak laki-laki sepanjang hidupnya. Dengan ilustrasi minimalis dan kalimat singkat, kisah ini justru terasa semakin kuat dan mengena.

Margaret Qualley menyebutnya sebagai salah satu buku anak favoritnya. Di balik kesederhanaannya, buku ini memicu banyak tafsir tentang cinta tanpa syarat, pengorbanan, dan hubungan yang tidak selalu seimbang. Banyak orang dewasa yang justru merasa lebih tersentuh saat membacanya kembali.

5. All Fours — Miranda July

All Fours (dok. Miranda July)

Novel ini mengikuti seorang seniman semi-terkenal yang berniat melakukan perjalanan lintas negara. Namun, baru sebentar di jalan ia tiba-tiba keluar dari rencana untuk menginap di motel biasa dan memulai perjalanan batin yang jauh lebih aneh dan personal. Ceritanya tidak konvensional, penuh observasi ganjil dan kadang terasa absurd.

Margaret Qualley pernah memuji Miranda July sebagai salah satu penulis favoritnya. Gaya penulisan July dikenal eksentrik, intim, dan berani mengeksplorasi sisi psikologis yang jarang dibahas terang-terangan. Novel ini cocok untuk pembaca yang suka cerita unik dan eksperimental.

6. Letters to a Young Poet — Rainer Maria Rilke

Letters to a Young Poet (dok. HarperCollinsPublisher)

Letters to a Young Poet berisi kumpulan surat Rainer Maria Rilke kepada seorang penyair muda di awal abad ke-20. Isinya bukan hanya soal menulis, tetapi juga tentang kesendirian, cinta, keraguan, dan proses menjadi manusia yang utuh. Nada tulisannya terasa sangat personal seolah ditujukan langsung ke pembaca.

Banyak orang menyebut buku ini sebagai pengalaman membaca yang sangat intim, dan Margaret Qualley termasuk yang merasakan hal itu. Setiap surat terasa seperti nasihat lembut yang tidak menggurui, tapi mengajak merenung. Buku ini sering dibaca ulang karena maknanya bisa terasa berbeda di setiap fase hidup.

Daftar buku favorit Margaret Qualley ini menunjukkan selera bacaan yang luas. Kalau kamu sedang mencari rekomendasi buku bagus untuk dibaca sekali seumur hidup, daftar ini bisa jadi panduan yang kuat. Dari keenam buku ini, mana yang paling ingin kamu baca lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team