7 Rekomendasi Buku Favorit Dua Lipa, Punya Klub Buku Sendiri!

- Dua Lipa aktif merayakan dunia literasi lewat Service95 Book Club
- Buku favoritnya menyoroti isu identitas, pengalaman personal, dan realitas sosial
- Pilihan buku menunjukkan ketertarikannya pada cerita dengan sudut pandang unik
Bukan cuma dikenal lewat lagu-lagu pop yang catchy, Dua Lipa juga aktif merayakan dunia literasi lewat Service95 Book Club. Klub buku ini ia rancang sebagai ruang untuk mengangkat beragam suara global, cerita-cerita kuat yang datang dari latar budaya berbeda, dengan bentuk yang beragam pula, mulai dari fiksi, memoar, hingga manifesto.
Lewat pilihannya, Dua Lipa kerap menyoroti isu identitas, pengalaman personal, dan realitas sosial yang jarang mendapat sorotan arus utama. Dari daftar bacaan yang ia kurasi inilah terlihat selera literasinya yang tajam dan reflektif. Berikut lima buku favorit Dua Lipa yang patut masuk daftar bacaan.
1. The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood

Novel distopia ini berlatar di negara totaliter bernama Gilead, tempat tubuh dan peran sosial perempuan dikontrol ketat atas nama agama dan moral. Cerita mengikuti Offred, seorang Handmaid yang hidupnya ditentukan sepenuhnya oleh sistem negara. Margaret Atwood membangun dunia yang terasa dingin, sunyi, dan menekan, tanpa perlu banyak adegan ekstrem. Kritik soal kekuasaan, patriarki, dan manipulasi ideologi terasa relevan lintas zaman. Buku ini kerap dibaca sebagai peringatan tentang betapa mudahnya kebebasan direnggut secara perlahan.
2. Flesh: A Novel karya David Szalay

Buku ini mengikuti perjalanan hidup seorang laki-laki dari masa muda hingga tua, disusun lewat potongan pengalaman yang tampak sederhana. Fokus utama ceritanya adalah tubuh, relasi intim, dan pilihan-pilihan kecil yang membentuk identitas seseorang. David Szalay menulis dengan gaya tenang, minim dramatisasi, tapi justru terasa tajam. Novel ini memperlihatkan bagaimana kehidupan sering berjalan tanpa klimaks besar, namun tetap meninggalkan bekas. Kemenangannya di Booker Prize menegaskan kekuatan narasi yang subtil tapi mendalam.
3. The Trees karya Percival Everett

Novel ini mengisahkan serangkaian pembunuhan misterius di sebuah kota kecil di Amerika Serikat, dengan pola yang semakin absurd. Di balik format thriller, Percival Everett menyelipkan satire tajam tentang sejarah rasisme dan kekerasan terhadap komunitas kulit hitam. Humor gelap menjadi alat untuk membongkar luka lama yang belum benar-benar sembuh. Ceritanya bergerak cepat, tapi sarat makna sosial dan politik. Buku ini terasa berani, cerdas, dan tidak nyaman—dalam arti yang tepat.
4. This House of Grief: The Story of a Murder Trial karya Helen Garner

Buku nonfiksi ini merekam jalannya persidangan kasus pembunuhan anak yang mengguncang Australia. Helen Garner hadir sebagai pengamat, menulis dengan empati tanpa kehilangan jarak kritis. Fokusnya bukan hanya pada fakta hukum, tapi juga emosi, bahasa tubuh, dan dinamika ruang sidang. Pembaca diajak melihat bagaimana sistem hukum berhadapan dengan tragedi kemanusiaan. Hasilnya adalah laporan yang intim, jujur, dan menggugah secara moral.
5. Small Boat karya Vincent Delecroix

Novel ini terinspirasi dari tragedi migran yang tenggelam di Selat Inggris, dituturkan lewat sudut pandang yang tidak biasa. Vincent Delecroix menulis dengan gaya reflektif dan filosofis, lebih menekankan perenungan daripada aksi. Ceritanya mempertanyakan empati, tanggung jawab, dan sikap Eropa terhadap krisis kemanusiaan. Buku ini tipis secara fisik, tapi berat secara emosional. Setiap halamannya mengajak pembaca berhenti dan berpikir ulang soal kemanusiaan.
6. Widow Basquiat: A Love Story karya Jennifer Clement

Buku ini mengisahkan hubungan Jennifer Clement dengan seniman legendaris Jean-Michel Basquiat dari sudut pandang personal. Alih-alih biografi konvensional, ceritanya lebih menyerupai memoar tentang cinta, kehilangan, dan kehidupan kreatif di New York era 1980-an. Clement menulis dengan nada puitis tapi tetap membumi. Sosok Basquiat muncul sebagai manusia, bukan sekadar ikon seni. Kisah ini terasa intim, rapuh, dan emosional.
7. Brightly Shining karya Ingvild Rishøi

Novel pendek ini mengisahkan dua saudara yang mencoba bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi keluarga yang rapuh, dilihat dari sudut pandang anak-anak. Ingvild Rishøi menulis dengan gaya sederhana, nyaris polos, tapi justru terasa menyayat. Ceritanya bergerak pelan, penuh detail kecil yang mengungkap ketidakamanan, harapan, dan kasih sayang dalam situasi sulit. Tanpa drama berlebihan, buku ini memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan tanggung jawab bisa hadir terlalu dini. Brightly Shining meninggalkan kesan hangat sekaligus getir setelah selesai dibaca.
Lewat pilihan buku di Service95 Book Club, terlihat bahwa selera baca Dua Lipa jauh melampaui bacaan populer semata. Ia konsisten mengangkat kisah-kisah yang menantang, reflektif, dan kerap bersinggungan dengan isu kemanusiaan, kekuasaan, hingga identitas. Deretan buku ini juga menunjukkan ketertarikannya pada cerita dengan sudut pandang unik, baik fiksi maupun nonfiksi.
Bagi pembaca, rekomendasi ini bisa jadi pintu masuk untuk mengeksplorasi literatur global yang berani dan relevan. Tidak heran jika Service95 Book Club dipandang sebagai ruang literasi yang punya suara dan sikap jelas.


















