Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Buku Islami Ringan untuk Ngabuburit yang Menenangkan

5 Buku Islami Ringan untuk Ngabuburit yang Menenangkan
ilustrasi seorang Muslim membaca buku (pexels.com/Monstera Production)
Intinya Sih
  • Artikel ini merekomendasikan lima buku Islami ringan untuk menemani ngabuburit Ramadan dengan cara yang lebih reflektif dan menenangkan hati.
  • Setiap buku menawarkan tema berbeda, mulai dari peran perempuan muslimah, perjalanan spiritual, hingga refleksi atas ujian hidup dan pentingnya ketenangan batin.
  • Keseluruhan bacaan mengajak pembaca memperlambat langkah, merenungi makna iman, serta menemukan kedamaian di tengah kesibukan dunia modern selama bulan suci.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ngabuburit tidak selalu harus diisi dengan scrolling media sosial atau sekadar menunggu waktu berbuka. Ramadan justru jadi momen yang pas untuk memperlambat langkah dan memberi ruang bagi hati untuk berbicara.

Lewat rekomendasi buku Islami ini, waktu menunggu azan magrib bisa terasa lebih bermakna dan penuh refleksi. Buku ini berisi refleksi jiwa yang menenangkan hati dengan kisah-kisah inspiratif. Let's scrolling!

1. Wanita Berkarir Surga – Felix Y. Siauw

Wanita Berkarir Surga
cover buku Wanita Berkarir Surga (goodreads.com)

Buku ini membahas peran perempuan dalam Islam, khususnya bagi mereka yang menjalani karier di ruang publik. Felix Y. Siauw mengulas bagaimana perempuan tetap bisa produktif, berkontribusi, dan berprestasi tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat. Isi bukunya banyak membicarakan tentang identitas muslimah, prioritas hidup, serta pentingnya menjaga niat dalam setiap aktivitas.

Lebih dari sekadar membahas pekerjaan, buku ini menekankan keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan peran sosial. Penulis mengajak pembaca melihat bahwa surga bukan tentang memilih satu peran dan meninggalkan yang lain, tetapi tentang kesadaran menjalani semuanya dengan landasan iman. Bacaan ini cocok bagi muslimah yang sedang mencari arah dan penguatan dalam perjalanan hidupnya.

2. The Best Chapter of Jalur Bumi – Wahyu Qolbu

The Best Chapter of Jalur Bumi
cover buku The Best Chapter of Jalur Bumi (gramedia.com)

Buku ini mengajak pembaca merenungkan fase kehidupan sebagai bab dalam perjalanan panjang manusia di bumi. Dengan gaya bahasa yang puitis dan kontemplatif, Wahyu Qolbu membahas tentang ujian, kesabaran, serta momen-momen jatuh bangun yang sebenarnya membentuk kedewasaan iman.

Isinya sarat refleksi tentang takdir dan penerimaan. Penulis menekankan bahwa setiap orang memiliki jalur masing-masing yang tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Buku ini terasa personal, seperti teman yang mengingatkan bahwa setiap luka dan jeda adalah bagian dari skenario terbaik yang Allah siapkan.

3. Tiga Malam Bersama Penghuni Surga – Fuad Abdurahman

Tiga Malam Bersama Penghuni Surga
cover buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga (goodreads.com)

Novel ini mengisahkan pertemuan seorang tokoh dengan figur-figur yang digambarkan sebagai penghuni surga. Dalam tiga malam penuh percakapan, pembaca diajak menyelami kisah hidup, amal, serta perjuangan mereka hingga meraih kemuliaan di akhirat.

Cerita ini disampaikan dengan pendekatan naratif yang ringan namun penuh pesan moral. Melalui dialog dan kisah inspiratif, pembaca diajak merenungkan kembali tujuan hidup, kualitas ibadah, dan makna amal kecil yang sering diremehkan. Buku ini cocok untuk membangkitkan semangat spiritual, terutama saat Ramadan.

4. Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah – Alfialghazi

Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah
cover buku Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah (gramedia.com)

Buku ini berisi kumpulan refleksi dan renungan tentang titik-titik terendah dalam hidup, saat seseorang merasa lelah, kecewa, bahkan hampir kehilangan harapan. Alfialghazi menulis dengan bahasa yang sederhana dan langsung menyentuh emosi, membahas tentang kegagalan, doa yang terasa belum dikabulkan, serta pergulatan batin menghadapi ujian hidup. Setiap bab seperti pengakuan jujur seorang hamba yang rapuh, namun tetap ingin bertahan dalam pelukan iman.

Lebih dari sekadar curahan hati, buku ini menjadi pengingat bahwa rasa lelah bukan tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari proses menjadi lebih kuat. Penulis mengajak pembaca untuk berdamai dengan luka, menerima ketetapan Allah, dan percaya bahwa pertolongan selalu datang pada waktu yang tepat. Cocok dibaca saat Ramadan, terutama di momen-momen sunyi menjelang berbuka atau selepas tarawih, ketika hati sedang lebih mudah disentuh dan diajak kembali berserah.

5. Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia – Mifta Novikasari

Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia
cover buku Sejenak Jeda dari Gegap Gempita Dunia (gramedia.com)

Buku ini menawarkan ruang tenang bagi pembaca yang lelah dengan hiruk-pikuk kehidupan modern. Dengan gaya bahasa yang lembut dan penuh empati, Mifta Novikasari mengajak pembaca berhenti sejenak, memperbaiki niat, dan kembali menyelaraskan hidup dengan tujuan akhirat.

Isinya dipenuhi renungan tentang syukur, sabar, dan pentingnya menjaga hati di tengah dunia yang serba cepat. Buku ini seperti pengingat bahwa tidak semua hal perlu dikejar, dan tidak semua kebisingan perlu diikuti. Cocok dibaca perlahan saat sore menjelang berbuka.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang mengisi jiwa dengan makna. Buku-buku ini bisa menjadi teman ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menguatkan.

Siapa tahu, dari halaman-halaman sederhana itu, kita menemukan jeda yang selama ini dibutuhkan. Jadi, buku mana yang akan kamu baca lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us