Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi membaca buku
ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Novel dengan alur pelan dan penuh refleksi

  • Buku self-healing dengan bahasa yang lembut

  • Puisi sebagai ruang hening yang jujur

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik sorotan kamera dan jadwal yang padat, publik figur juga manusia biasa. Mereka bisa lelah, cemas, dan butuh jeda dari hiruk pikuk dunia. Salah satu cara paling sederhana untuk menenangkan diri adalah membaca buku. Aktivitas ini memberi ruang hening di tengah hidup yang serba cepat. Tak sedikit publik figur yang mengaku menemukan ketenangan lewat halaman demi halaman buku. Dari novel sampai buku reflektif, semuanya punya peran masing-masing.

Menariknya, buku yang dipilih saat butuh tenang biasanya bukan bacaan berat. Banyak publik figur justru memilih buku yang pelan, jujur, dan membumi. Buku-buku ini membantu mereka kembali terkoneksi dengan diri sendiri. Bukan untuk terlihat pintar, tapi untuk merasa utuh. Membaca jadi semacam pelarian yang sehat. Dari sana, kita bisa melihat bahwa ketenangan sering datang dari hal sederhana.

1. Novel dengan alur pelan dan penuh refleksi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Karola G)

Banyak publik figur memilih novel beralur lambat saat pikirannya penuh. Cerita yang tidak terburu-buru memberi ruang bernapas. Novel seperti ini mengajak pembaca menikmati proses, bukan sekadar akhir cerita. Karakter-karakternya sering terasa manusiawi dan dekat. Hal ini membantu pembaca merasa tidak sendirian. Perasaan itu penting saat sedang lelah mental.

Novel reflektif juga memberi jeda dari tuntutan dunia nyata. Publik figur bisa masuk ke dunia lain tanpa tekanan ekspektasi. Tidak ada target, tidak ada penilaian. Hanya cerita dan perasaan yang mengalir pelan. Buku seperti ini sering dibaca sebelum tidur atau di sela kesibukan. Efeknya menenangkan, seperti percakapan sunyi dengan diri sendiri. Itulah mengapa genre ini sering jadi pilihan.

2. Buku self-healing dengan bahasa yang lembut

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Tranmautritam)

Saat butuh tenang, banyak publik figur memilih buku self-healing. Namun bukan yang menggurui atau terlalu teoritis. Mereka cenderung menyukai buku dengan bahasa lembut dan empatik. Kalimat-kalimatnya terasa seperti pelukan, bukan nasihat keras. Buku semacam ini membantu menamai perasaan yang selama ini dipendam. Proses membaca jadi terasa personal.

Buku self-healing sering dibaca perlahan, tidak sekaligus. Satu halaman bisa cukup untuk satu hari. Publik figur menggunakan buku ini sebagai teman refleksi. Isinya membantu mereka berdamai dengan diri sendiri. Tidak menuntut perubahan instan. Justru mengajak menerima kondisi apa adanya. Di situ letak ketenangannya.

3. Puisi sebagai ruang hening yang jujur

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Castorly Stock)

Puisi punya tempat khusus di hati banyak publik figur. Saat pikiran terlalu ramai, puisi hadir dengan keheningan. Kata-katanya singkat, tapi bermakna dalam. Membaca puisi tidak butuh waktu lama, tapi efeknya bisa bertahan lama. Setiap bait mengajak pembaca berhenti sejenak. Ini sangat membantu saat emosi sedang penuh.

Publik figur sering memilih puisi karena kebebasannya. Tidak ada alur yang mengikat, tidak ada tuntutan memahami segalanya. Cukup merasakan. Puisi memberi ruang untuk menafsirkan sesuai kondisi hati. Kadang satu baris saja sudah cukup menenangkan. Dalam kesibukan yang padat, puisi jadi oase kecil. Sunyi, tapi menguatkan.

4. Buku filsafat ringan yang membumi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Tak sedikit publik figur yang menemukan ketenangan lewat filsafat. Namun bukan filsafat berat yang penuh istilah rumit. Mereka cenderung memilih buku filsafat populer yang membumi. Isinya membahas hidup, makna, dan penerimaan dengan bahasa sederhana. Buku seperti ini membantu melihat masalah dari sudut pandang baru. Pikiran jadi lebih lapang.

Filsafat ringan mengajak pembaca berdamai dengan ketidakpastian. Publik figur, yang hidupnya sering disorot, sangat akrab dengan tekanan. Buku ini membantu mereka melepaskan kontrol berlebih. Tidak semua hal harus dipahami atau diselesaikan. Kesadaran itu sendiri sudah menenangkan. Dari situ, mereka belajar lebih pelan dalam menjalani hidup.

5. Memoar yang jujur dan manusiawi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Monstera Production)

Memoar sering dipilih karena menghadirkan kisah nyata. Publik figur merasa terhubung dengan pengalaman orang lain. Terutama memoar yang ditulis dengan jujur dan apa adanya. Membaca perjuangan orang lain memberi perspektif baru. Bahwa setiap orang punya luka dan proses masing-masing. Perasaan ini bisa sangat menenangkan.

Memoar juga memberi rasa ditemani. Publik figur menyadari bahwa kesuksesan tidak selalu lurus. Ada jatuh, ragu, dan gagal. Buku-buku ini mengingatkan bahwa tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa berhenti sejenak. Dari kisah orang lain, muncul keberanian untuk lebih jujur pada diri sendiri. Dan dari kejujuran itu, ketenangan perlahan datang.

Pilihan buku publik figur saat butuh tenang menunjukkan satu hal penting. Ketenangan tidak selalu datang dari kemewahan atau liburan jauh. Kadang, ia hadir dari halaman-halaman sederhana yang dibaca pelan. Buku menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak. Tempat untuk merasa, bukan tampil. Di sana, publik figur kembali menjadi manusia biasa.

Apa yang mereka baca juga bisa jadi cermin bagi kita. Bahwa saat hidup terasa bising, kita berhak mencari sunyi. Entah lewat novel, puisi, atau buku reflektif. Tidak perlu ikut tren, cukup dengarkan kebutuhan diri sendiri. Karena pada akhirnya, ketenangan adalah soal menemukan apa yang membuat hati pulang. Dan buku sering jadi jalannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team