6 Rekomendasi Buku Favorit Cynthia Erivo yang Penuh Cerita Emosional!

- The Color Purple karya Alice Walker: Novel tentang perempuan kulit hitam di Amerika Selatan, menyoroti kekerasan, ketahanan, dan solidaritas sesama perempuan.
- Just as I Am karya Cicely Tyson: Autobiografi tentang hidupnya sebagai aktris kulit hitam, memberi gambaran jujur tentang harga yang harus dibayar untuk tetap setia pada nilai sendiri.
- Pachinko karya Min Jin Lee: Novel mengikuti empat generasi keluarga Korea di Jepang, membahas migrasi, diskriminasi, cinta, dan ketahanan keluarga.
Cynthia Erivo dikenal sebagai aktris dan penyanyi yang kerap terlibat dalam cerita-cerita dengan bobot emosional dan sosial yang kuat. Selera bacanya pun mencerminkan hal itu, dengan banyak karya yang menyorot identitas, sejarah, perjuangan, dan imajinasi. Dari novel klasik sampai fantasi modern, pilihannya menunjukkan ketertarikan pada cerita yang punya lapisan makna. Buku-buku ini bukan sekadar hiburan, tapi juga membuka perspektif tentang dunia dan manusia. Ini dia enam buku favorit Cynthia Erivo yang layak kamu lirik.
1. The Color Purple karya Alice Walker

Novel ini mengikuti kehidupan seorang perempuan kulit hitam di Amerika Selatan yang mengalami penindasan sejak usia muda. Ceritanya disampaikan lewat surat-surat pribadi yang merekam rasa sakit, harapan, dan pertumbuhan dirinya. Fokus utamanya ada pada kekerasan, ketahanan, dan solidaritas sesama perempuan. Seiring waktu, tokohnya menemukan suara dan harga dirinya sendiri. Buku ini kuat secara emosional sekaligus politis.
2. Just as I Am karya Cicely Tyson

Ini adalah autobiografi Cicely Tyson tentang hidupnya sebagai aktris kulit hitam di industri yang penuh batasan. Ia bercerita tentang karier, perjuangan personal, dan prinsip yang ia pegang sepanjang hidup. Buku ini memberi gambaran jujur tentang harga yang harus dibayar untuk tetap setia pada nilai sendiri. Banyak bagian terasa reflektif dan inspiratif tanpa terasa menggurui. Ini lebih seperti obrolan panjang tentang hidup dan pilihan.
3. Pachinko karya Min Jin Lee

Novel ini mengikuti empat generasi keluarga Korea yang hidup di Jepang sebagai minoritas. Ceritanya membahas migrasi, diskriminasi, cinta, dan ketahanan keluarga. Fokusnya bukan pada satu tokoh, tapi pada bagaimana sejarah memengaruhi hidup banyak orang. Alurnya pelan tapi konsisten membangun emosi. Ini adalah novel tentang identitas dan warisan.
4. Wicked karya Gregory Maguire

Menginat ia sendiri memerankan Elphaba, rasanya aneh kalau Wicked gak masuk salah satu buku favoritnya. Buku ini mengisahkan ulang dunia The Wizard of Oz dari sudut pandang si penyihir hijau. Ceritanya mempertanyakan konsep baik dan jahat yang selama ini dianggap hitam putih. Fokusnya ada pada politik, kekuasaan, dan bagaimana reputasi dibentuk oleh narasi. Versi novelnya jauh lebih gelap dan kompleks dibanding adaptasi musikalnya. Ini adalah cerita tentang perspektif dan bias.
5. Children of Blood and Bone karya Tomi Adeyemi

Novel fantasi ini berlatar dunia terinspirasi Afrika Barat yang sihirnya ditindas oleh rezim berkuasa. Ceritanya mengikuti sekelompok anak muda yang mencoba menghidupkan kembali kekuatan magis itu. Buku ini memadukan petualangan dengan isu penindasan, trauma, dan perlawanan. Ritmenya cepat dan penuh konflik. Ini fantasi yang sangat politis.
6. Beloved karya Toni Morrison

Novel ini mengangkat trauma perbudakan lewat kisah seorang mantan budak dan anaknya. Ceritanya bergerak antara realitas dan unsur supranatural. Fokusnya ada pada ingatan, rasa bersalah, dan dampak kekerasan lintas generasi. Bahasanya puitis tapi menuntut konsentrasi pembaca. Ini adalah karya tentang luka yang tidak pernah benar-benar hilang.
Kalau kamu mencari bacaan yang bukan cuma seru tapi juga menggugah, daftar ini bisa jadi pintu masuk yang tepat. Ini bukan buku yang dibaca sambil lalu, tapi yang meninggalkan bekas setelah halaman terakhir. Cocok buat kamu yang suka cerita dengan bobot dan kedalaman.



















