Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi buku yang bikin kita merasa didengerin
ilustrasi buku yang bikin kita merasa didengerin (pexels.com/Melike B)

Intinya sih...

  • Buku "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki" menormalisasi perasaan depresi ringan dan mengajarkan bahwa gak apa-apa merasa gak baik-baik saja.

  • "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" memberikan pesan penerimaan diri dan kesempatan baru untuk sembuh, dengan ilustrasi yang memanjakan mata.

  • "The Things You Can See Only When You Slow Down" menawarkan perspektif spiritual yang menenangkan dan kemampuan untuk berwelas asih kepada diri sendiri dan orang lain.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah merasa sendirian di tengah keramaian dan sangat membutuhkan teman bicara yang mengerti kondisi? Terkadang, kita sebenarnya gak sedang membutuhkan solusi yang rumit, melainkan hanya butuh validasi bahwa perasaan sedih atau cemas yang kita alami itu wajar. Di saat-saat rentan seperti inilah, menemukan buku yang bikin kita merasa didengerin bisa menjadi penawar rasa sepi yang paling ampuh dan menenangkan jiwa.

Membaca buku bukan sekadar aktivitas menambah wawasan semata, tetapi juga bisa menjadi proses penyembuhan batin yang gak bersuara. Kata-kata yang dituliskan di setiap halaman bukunya mampu mewakili jeritan hati kita yang selama ini terpendam. Kalau merasa ingin didengarkan, simak rekomendasi buku yang bikin kita merasa didengarkan. 


1. Berdamai dengan diri lewat "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki"

ilustrasi ! Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki by Baek Se-hee (goodreads.com/Baek Se-hee)

Buku ini dipilih karena kemampuannya yang luar biasa dalam menormalisasi perasaan depresi ringan yang sering kali diabaikan oleh banyak orang. Ketika membacanya, kita akan merasa seolah sedang duduk di ruang terapi dan mendengarkan percakapan jujur yang menyentuh sisi tergelap dalam hati. Nilai utama yang didapat dari buku ini adalah kesadaran bahwa gak apa-apa untuk merasa gak baik-baik saja dan tetap memiliki keinginan-keinginan kecil yang manusiawi, seperti ingin makan enak meski hati sedang hancur.

Ditulis dengan gaya esai dialogis yang unik, buku ini merekam percakapan nyata antara penulis dengan psikiaternya selama 12 minggu pengobatan distimia atau depresi ringan berkepanjangan. Mendiang Baek Se-hee, sang penulis, berhasil meramu tema kesehatan mental yang berat menjadi bacaan yang mengalir dan sangat relate dengan kehidupan kaum urban modern. Buku terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Haru pada tahun 2019 ini menjadi fenomena karena kejujurannya yang telanjang namun gak menghakimi pembacanya, kok.


2. Pelukan hangat dari "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini"

ilustrasi Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini oleh Marcella FP (goodreads.com/Marcella FP)

Jika mencari buku yang gak menggurui tetapi justru menepuk pundak kita dengan lembut, maka karya visual grafis ini adalah pilihan yang sangat tepat. Alasan buku ini masuk dalam daftar rekomendasi adalah karena kesederhanaan pesan yang disampaikan justru mampu menembus pertahanan emosi kita yang paling keras sekalipun. 

Melalui buku ini, kita akan mendapatkan nilai tentang penerimaan diri, bahwa setiap luka punya masanya untuk sembuh dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk bernapas lebih lega. Marchella FP sebagai penulis dan ilustrator mengemas buku ini dengan tema self-healing yang sangat kental, dipadukan dengan ilustrasi yang memanjakan mata dan kutipan-kutipan pendek yang menohok hati. Alurnya gak linier seperti novel, sehingga kita bisa membacanya secara acak sesuai dengan suasana hati yang sedang dirasakan saat itu. 


3. Menemukan Ketenangan di "The Things You Can See Only When You Slow Down"

ilustrasi buku The Things You Can See Only When You Slow Down oleh Haemin Sunim (goodreads.com/Haemin Sunim)

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan menuntut produktivitas tinggi, buku ini hadir sebagai tombol "jeda" yang sangat dibutuhkan oleh jiwa yang lelah. Buku ini dipilih karena menawarkan perspektif spiritual yang universal dan menenangkan, mengajarkan kita bahwa dunia akan melambat ketika kita sendiri mulai melambat. Nilai berharga yang akan dibawa pulang adalah kemampuan untuk berwelas asih kepada diri sendiri dan orang lain, serta menemukan kedamaian di tengah kekacauan.

Haemin Sunim, seorang biksu Zen asal Korea Selatan sekaligus penulis buku ini, menggunakan gaya penulisan aforisme atau kalimat-kalimat kebijaksanaan pendek yang diselingi esai singkat yang sangat reflektif. Tema yang diangkat meliputi keseimbangan hidup, cinta, hubungan antarmanusia, dan spiritualitas yang dikemas dengan bahasa yang sangat lembut dan penuh empati. Versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh KPG pada tahun 2020 ini sangat cocok dibaca perlahan sebelum tidur untuk menenangkan pikiran yang bising, lho.


4. Belajar tangguh bersama "Filosofi Teras"

ilustrasi buku Filosofi Teras oleh Henry Manampiring (goodreads.com/Henry Manampiring)

Banyak orang mengira filsafat itu membosankan, namun buku ini justru hadir sebagai teman ngobrol yang asik untuk membangun mental yang tangguh ala Stoisisme. Alasan kuat merekomendasikan buku ini adalah karena relevansinya yang tinggi dalam membantu kita mengelola emosi negatif seperti kecemasan berlebih dan rasa baper (bawa perasaan). Kita akan mendapatkan nilai praktis tentang dikotomi kendali, yaitu membedakan hal-hal yang bisa kita ubah dan hal-hal yang harus kita terima dengan lapang dada.

Henry Manampiring menulis buku ini dengan gaya bahasa yang sangat renyah, humoris, dan memakai analogi kehidupan sehari-hari di Indonesia yang mudah dimengerti oleh siapa saja. Mengusung tema pengembangan diri berbasis filsafat Stoa, buku ini membimbing pembaca untuk memiliki pola pikir yang lebih rasional dan tenang dalam menghadapi masalah hidup. 

Mencari validasi dan ketenangan gak melulu harus melalui percakapan langsung dengan orang lain yang belum tentu paham situasi kita. Koleksi bacaan di atas membuktikan bahwa para penulis hebat mampu menyentuh ruang-ruang kosong di hati kita melalui tulisan mereka. Semoga daftar buku yang bikin kita merasa didengerin ini bisa menjadi sahabat barumu di kala sepi dan membantumu bangkit kembali dengan senyuman, ya.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team