Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi terhadap kualitas pendidikan, bukan sekadar perayaan seremonial. Namun, ada masalah mendasar yang sering kali luput dari perhatian: bagaimana guru tidak lagi dipandang sebagai profesional yang mandiri, melainkan sebagai objek pengawasan melalui tumpukan dokumen administratif. Masalah ini bukan sekadar soal kerumitan sistem digital, melainkan cerminan dari budaya ketidakpercayaan terhadap integritas pendidik.
Ada ironi yang terselip dalam kalender nasional kita setiap awal Mei. Hanya berselang 24 jam setelah gema tuntutan hak-hak buruh pada 1 Mei mereda, kita langsung menyambut Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei. Namun, jika kita melihat beban kerja guru saat ini, garis pemisah antara buruh pabrik dan pendidik profesional menjadi semakin tipis. Keduanya terjebak dalam sistem yang sama-sama menuntut produktivitas kuantitatif yang melelahkan.
