Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ibadah Jumat Agung Jam Berapa? Mengapa Dilaksanakan Sore Hari?
Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alicia Quan)

Banyak umat Kristiani sering bertanya, ibadah Jumat Agung dilaksanakan jam berapa? Lalu mengapa kerap dilaksanakan pada sore hari? Pertanyaan ini wajar muncul karena Jumat Agung merupakan momen yang sangat sakral untuk mengenang penderitaan dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.

Mengetahui waktu ibadah Jumat Agung membantu kamu untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, baik secara rohani maupun fisik. Lalu mengapa misa Jumat Agung sering mulai sore hari?

1. Mengapa gereja tidak merayakan ekaristi di Jumat Agung?

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Gianna B)

Mengutip laman Hidup Katolik oleh Sr. Bene Xavier, MSsR dari Wina, Austria, Jumat Agung menjadi satu-satunya hari dalam tradisi gereja Katolik di mana ekaristi tidak diadakan. Hal ini karena pada hari tersebut, fokus utama ibadah bukan pada perayaan ekaristi, melainkan pada peringatan sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.

Karena itu, penyebutan “misa Jumat Agung” kurang tepat. Istilah yang benar adalah liturgi atau ibadat Jumat Agung. Liturgi ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Ibadat Sabda, Penghormatan Salib, dan Komuni. Warna liturgi yang digunakan adalah merah, sebagai simbol darah yang tercurah dan kemartiran Yesus.

Lalu, ibadah Jumat Agung dilaksanakan jam berapa? Mengapa sering dilakukan pada sore hari? Hal ini berkaitan dengan kepercayaan iman Katolik yang percaya bahwa waktu wafatnya Yesus Kristus pada sore hari atau pukul 3 sore. Itulah kenapa secara umum, ibadat Jumat Agung sering dilangsungkan sekitar pukul 3 sore. Namun, setiap gereja bisa menyesuaikan waktu pelaksanaannya sesuai kondisi dan kebutuhan umat setempat.

2. Ibadat sabda

Ilustrasi misa di dalam gereja (Unsplash.com/Josh Applegate)

Pada awal ibadat, suasana gereja terasa sangat berbeda dari biasanya. Tabernakel terbuka dan kosong, serta lampu abadi tidak dinyalakan. Altar pun dibiarkan tanpa taplak, lilin, bunga, maupun hiasan lainnya. Dalam liturgi Jumat Agung, lonceng tidak dibunyikan dan musik organ tidak dimainkan hingga malam Paskah.

Imam dan para pelayan memasuki gereja dalam suasana hening tanpa lagu pembuka. Setibanya di depan altar, imam akan tiarap, sementara umat berlutut. Keheningan ini menggambarkan suasana duka atas wafatnya Kristus.

  • Bacaan pertama diambil dari Kitab Yesaya (52:13 – 53:12). Dalam bagian ini, Nabi Yesaya menunjukkan bahwa penderitaan dan kematian bukanlah hukuman, melainkan tanda kesetiaan Tuhan kepada hamba-Nya yang taat. Melalui penderitaan tersebut, Tuhan menghadirkan keselamatan, kebangkitan, dan hidup kekal.

  • Bacaan berikutnya berasal dari Surat kepada jemaat Ibrani (4:14-16; 5:7-9). Di sini ditegaskan bahwa Yesus memahami kelemahan manusia karena Ia juga mengalami pencobaan dan penderitaan, meskipun tidak berdosa. Ia belajar taat melalui apa yang dialami-Nya.

Sementara itu, kisah sengsara Yesus (passio) dibacakan dari Injil Yohanes. Dalam pembacaan ini tidak digunakan lilin, dupa, salam, maupun tanda salib. Passio biasanya dilantunkan oleh beberapa orang. Setelah itu dilanjutkan dengan homili dan Doa Umat Meriah yang mencakup sepuluh intensi doa bagi gereja, dunia, dan berbagai kebutuhan umat.

 

3. Penghormatan salib dan komuni

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alicia Quan)

Ritual penghormatan salib merupakan tindakan simbolis yang mengajak umat untuk menanggapi sabda Tuhan yang telah didengar sebelumnya. Ketika salib ditempatkan di depan altar dan umat menghormatinya dengan membungkuk, berlutut, atau mencium, hal itu bukan sekadar ungkapan duka dan kasih. Tindakan tersebut juga menjadi pernyataan iman dan kepercayaan kepada Kristus yang telah bangkit.

Penghormatan ini berfokus pada kemuliaan Yesus Kristus, bukan pada alat penderitaan itu sendiri. Pada saat ini, koor dapat menyanyikan lagu-lagu yang membantu umat semakin menghayati sengsara Kristus dan menyembah-Nya dengan lebih mendalam.

Setelah penghormatan salib, altar kemudian ditutup dengan taplak putih. Corpral (kain putih berbentuk persegi untuk meletakkan bejana suci) dibentangkan dan buku misa disiapkan. Imam mengenakan velum dan, bersama dua misdinar yang membawa lilin, mengambil sibori berisi hosti yang telah dikonsekrasi pada hari sebelumnya (Kamis Putih) untuk dibawa ke altar. Pada tahap ini, lilin mulai dinyalakan di altar.

Ritus komuni dimulai dengan Doa Bapa Kami dan diakhiri dengan berkat penutup. Imam mengangkat dan merentangkan tangan saat memberikan berkat. Setelah itu, imam dan para pelayan meninggalkan gereja dalam keheningan tanpa lagu penutup, diikuti oleh umat yang juga keluar dengan suasana hening.

Pada akhirnya, mengetahui ibadah Jumat Agung dilaksanakan jam berapa dan kenapa dilaksanakan sore hari bisa membantu kamu memahami makna Jumat Agung itu sendiri. Semoga dengan mengikuti ibadah Jumat Agung, kamu dapat semakin memahami arti kasih dan pengorbanan Yesus Kristus.

Editorial Team