Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Puasa Katolik Apakah Boleh Ngemil? Jangan Salah Kaprah, ya!

Puasa Katolik Apakah Boleh Ngemil? Jangan Salah Kaprah, ya!
ilustrasi puasa (freepik.com/Pvproductions)

Puasa dalam tradisi Katolik seringkali menimbulkan pertanyaan sederhana namun penting, salah satunya tentang boleh atau tidaknya ngemil. Banyak umat masih bingung apakah makan di luar waktu utama termasuk melanggar aturan puasa atau masih diperbolehkan dalam batas tertentu.

Hal ini wajar, karena setiap orang ingin menjalankan ibadah dengan benar tanpa merasa terbebani. Lalu puasa Katolik apakah boleh ngemil? Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Apa itu puasa dan berpantang?

Ilustrasi puasa (pexels.com/enginakyurt)
Ilustrasi puasa (pexels.com/enginakyurt)

Mengutip Iman Katolik, sebagai umat Katolik, puasa diwajibkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dilakukan pada dua hari tersebut. Yang memiliki kewajiban ini adalah umat beriman dengan usia antara delapan belas (18) tahun hingga menjelang enam puluh (60) tahun.

Puasa berarti makan kenyang cukup satu kali dalam sehari. Bagi yang biasanya makan tiga kali sehari, bisa mengatur pola makan seperti berikut:

  • Kenyang, tidak kenyang, tidak kenyang, atau;
  • Tidak kenyang, kenyang, tidak kenyang, atau;
  • Tidak kenyang, tidak kenyang, kenyang.

Selain itu, umat Katolik juga wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat hingga Jumat Suci. Jadi totalnya ada 7 hari selama masa Prapaskah. Yang wajib menjalankan pantang adalah semua umat Katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas. Bentuk pantang dapat berupa:

  • Tidak makan daging, dan atau;
  • Tidak merokok, dan atau;
  • Tidak mengonsumsi garam, dan atau;
  • Tidak mengonsumsi gula serta makanan manis seperti permen, dan atau;
  • Tidak menikmati hiburan seperti radio, televisi, bioskop, atau film.

2. Makna puasa dan berpantang

ilustrasi berdoa (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi berdoa (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Puasa adalah tindakan sukarela untuk tidak makan atau tidak minum, baik sepenuhnya maupun sebagian. Sepenuhnya berarti benar-benar tidak makan dan tidak minum apa pun, sedangkan sebagian berarti hanya mengurangi jumlah makan atau minum.

  • Secara batin, berpuasa membantu menjernihkan hati dan memudahkan seseorang untuk lebih fokus saat berdoa dan berhening. 
  • Puasa juga bisa menjadi bentuk pengorbanan atau persembahan. 
  • Puasa dapat disebut sebagai doa yang dilakukan dengan tubuh, karena melalui puasa seseorang menata kehidupan serta sikap rohaninya. 
  • Dengan berpuasa, seseorang menunjukkan kerinduan akan Tuhan dan kehendak-Nya. Ia rela melepaskan kesenangan dan keuntungan sementara, sambil bersyukur atas berkat yang diberikan Tuhan. Dengan demikian, orang belajar menahan keinginan berlebihan dan menyatakan penyesalan atas dosa-dosa di masa lalu. 
  • Melalui puasa, seseorang dapat mengenal dirinya lebih dalam untuk membentuk pribadi yang lebih seimbang. Puasa juga membantu melepaskan diri dari ketergantungan fisik dan ketidakstabilan emosi, serta mengarahkan perhatian kepada sesama dan kepada Tuhan. 

Itulah mengapa puasa dalam Katolik selalu berjalan bersama dengan doa dan derma, yang nyata dalam Aksi Puasa Pembangunan. Semangat yang sama juga berlaku dalam menjalankan pantang. Tapi yang tidak termasuk dalam semangat puasa dan pantang Katolik adalah:

  • Berpuasa dan berpantang hanya demi alasan kesehatan, seperti diet atau mengurangi makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit. 
  • Berpuasa dan berpantang dengan tujuan memperoleh kesaktian, baik secara fisik maupun rohani.

3. Puasa Katolik apakah boleh ngemil? Boleh, tapi pahami hal ini

ilustrasi ngemil (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi ngemil (pexels.com/cottonbro studio)

Setelah memahami penjelasan di dua poin sebelumnya, mungkin muncul pertanyaan puasa Katolik apakah boleh ngemil? Menurut Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta dalam laman Gereja Trinitas Paroki Cengkareng, menjelaskan sebagai berikut:

“Untuk puasa, kita dapat menentukan sendiri waktunya; pagi, siang, atau sore/malam, yang penting kita makan kenyang hanya 1 kali saja. Selebihnya kita berusaha untuk tidak ‘membohongi’ diri sendiri dengan tidak makan kenyang, tetapi ngemil atau minum susu setiap 2 jam sehingga perut kita tetap penuh meski hanya makan kenyang 1 kali,” jelasnya.

Jadi, kamu boleh saja ngemil di tengah puasa atau berpantang, asalnya tidak membuatmu kenyang. Senada dengan yang dijelaskan oleh Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS, seorang pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

Dalam laman Katolisitas, puasa menurut hukum gereja adalah hanya satu kali makan kenyang. Artinya, jika diperlukan makan dua kali yang lain diperbolehkan. Tapi hanya semacam ngemil/snacks yang tidak sama dengan makan kenyang, dan di antara saat-saat makan tersebut tidak ngemil.

“Jika kamu merasa pantang daging terlalu ringan (sudah biasa), maka kamu bisa mencari pantang yang lain yang bisa menjadi tanda 'mati raga'. Contohnya seperti pantang kopi jika kamu suka sekali kopi, pantang rokok jika kamu merokok, atau pantang nasi, atau atau pantang garam, dst,” jelas Ingrid Listiati.

“Kamu juga bisa pantang kebiasaan lain yang kamu sukai. Misalnya, pantang nonton TV, pantang makan di restoran, pantang pergi nonton bioskop atau pantang main game, pantang gossip, pantang ngemil, pantang marah/komplain, dst,” tambahnya.

Jadi, puasa Katolik apakah boleh ngemil? Tentu boleh namun syaratnya. Jika kamu berpantang ringan, ngemil diperbolehkan asalkan tidak kenyang. Sementara jika kamu ingin puasa atau berpantang lebih berat, kamu bisa berhenti ngemil, merokok, atau lainnya yang kamu sukai.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us