Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kindle vs Audiobook: Mana Lebih Efektif Nempel ke Otak?

ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Membaca di Kindle mendorong fokus aktifMata mengikuti kata per kata, otak memproses makna, dan Kindle minim distraksi sehingga pembaca lebih mudah masuk ke mode fokus panjang.
  • Audiobook unggul untuk pemahaman garis besarInformasi masuk lewat pendengaran, cocok untuk menangkap alur besar, emosi, dan nuansa cerita. Namun fokusnya cenderung terbagi.
  • Tingkat retensi sangat dipengaruhi konteks penggunaanAudiobook sering didengar saat multitasking, sementara membaca di Kindle biasanya dilakukan dalam situasi lebih tenang dan terkontrol.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah gaya hidup yang makin cepat, cara orang mengonsumsi buku ikut berubah. Kalau dulu membaca identik dengan duduk tenang sambil membuka halaman demi halaman, sekarang banyak yang beralih ke audiobook karena bisa didengar sambil melakukan aktivitas lain.

Di sisi lain, e-reader seperti Kindle tetap jadi pilihan buat pembaca yang ingin fokus penuh tanpa distraksi layar ponsel. Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal mana yang lebih praktis, tapi mana yang lebih “nempel” ke otak. Jawabannya ternyata nggak sesederhana hitam-putih, karena sangat bergantung pada cara otak memproses informasi.

1. Membaca di Kindle mendorong fokus aktif

Kindle (dok. Reddit/theitsx)
Kindle (dok. Reddit/theitsx)

Membaca teks di Kindle menuntut keterlibatan aktif dari otak. Mata mengikuti kata per kata, otak memproses makna, lalu menghubungkannya dengan konteks sebelumnya. Proses ini cenderung memperkuat daya ingat, terutama untuk detail, struktur cerita, dan argumen kompleks. Karena Kindle minim distraksi, pembaca lebih mudah masuk ke mode fokus panjang. Itulah kenapa banyak orang merasa isi buku lebih “nempel” saat dibaca, bukan didengar.

2. Audiobook unggul untuk pemahaman garis besar

ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Julio Lopez)
ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Julio Lopez)

Audiobook bekerja dengan cara berbeda, karena informasi masuk lewat pendengaran. Ini membuatnya lebih cocok untuk menangkap alur besar, emosi, dan nuansa cerita. Suara narator, intonasi, dan tempo bisa membantu memahami karakter atau suasana tanpa harus membayangkan semuanya sendiri. Namun karena sering didengarkan sambil beraktivitas, fokusnya cenderung terbagi. Akibatnya, detail kecil lebih mudah terlewat dibanding membaca langsung.

3. Tingkat retensi sangat dipengaruhi konteks penggunaan

Kindle (pixabay.com/sticks65-17055153)
Kindle (pixabay.com/sticks65-17055153)

Audiobook sering didengar saat multitasking: menyetir, beres-beres, atau olahraga. Dalam kondisi ini, otak membagi atensi ke beberapa hal sekaligus. Informasi tetap masuk, tapi daya ingat jangka panjangnya bisa lebih lemah. Sebaliknya, membaca di Kindle biasanya dilakukan dalam situasi lebih tenang dan terkontrol. Konteks inilah yang membuat bacaan terasa lebih “nempel”, bukan semata formatnya.

4. Jenis konten menentukan format yang paling efektif

Kindle (pixabay.com/josemiguels-2119574)
Kindle (pixabay.com/josemiguels-2119574)

Buku nonfiksi berat, buku pelajaran, atau bacaan yang penuh data cenderung lebih efektif dibaca. Teks memungkinkan pembaca berhenti, mengulang, dan mencerna bagian sulit tanpa tekanan waktu. Audiobook lebih cocok untuk novel, biografi, atau cerita naratif yang mengalir. Untuk jenis konten tertentu, mendengar justru bisa memperkuat pemahaman emosional. Jadi efektivitasnya sangat bergantung pada isi buku, bukan preferensi semata.

5. Gaya belajar tiap orang berbeda-beda

ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi perempuan sedang mendengarkan audiobook (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ada orang yang visual learner, ada juga yang auditory learner. Pembaca visual biasanya lebih kuat menyerap informasi lewat teks, sementara pembaca auditori lebih mudah mengingat lewat suara. Ini menjelaskan kenapa sebagian orang merasa audiobook sangat membantu, sementara yang lain cepat lupa isinya. Tidak ada format yang secara universal lebih unggul. Yang ada hanyalah format yang lebih cocok dengan cara otak masing-masing bekerja.

Kindle dan audiobook menawarkan pengalaman membaca yang sama-sama valid, tapi dengan mekanisme kognitif yang berbeda. Membaca di Kindle cenderung lebih kuat untuk retensi detail dan pemahaman mendalam, sementara audiobook unggul untuk fleksibilitas dan pengalaman emosional. Mana yang lebih “nempel” ke otak sangat ditentukan oleh konteks, jenis buku, dan gaya belajar pembacanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Tips Menjalani Hubungan Dewasa, Biar Gak Capek Mental

01 Feb 2026, 21:32 WIBLife