Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Launching Malaka Books di Citywalk Sudirman pada Minggu (15/2/2026)
Launching Malaka Books di Citywalk Sudirman pada Minggu (15/2/2026). (IDN Times/Adyaning Raras)

Jakarta, IDN Times - Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosal, minat masyarakat untuk membaca jadi isu penting. Sebagai penerbit, Malaka Boos hadir dengan keyakinan bahwa membaca bisa menjadi gaa hidup yang membebaskan. Penerbit ini resmi berlayar membawa semangat baru bahwa budaya revolusi membaca harus jadi perhatian penting.

Lewat kehadirannya, Malaka Books ingin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap buku. Malaka Books yang baru resmi diluncurkan pada Minggu (15/2/2026) ini ingin membuat budaya membaca jadi sesuatu yang menyenangkan dan tidak membosankan. Mengapa ada Malaka Books? Simak informasi selengkapnya di artikel ini!


1. Malaka Books berangkat dari permasalahan penurunan attention span

Launching Malaka Books di Citywalk Sudirman pada Minggu (15/2/2026). (IDN Times/Adyaning Raras)

Co-founder Malaka Books, Cania Citta dan Abigail Limuria mengangkat permasalahan terkait attenttion span. Saat grand launching yang berlangsung di Citywalk Sudirman, mereka ungkap data mengenai penurunan attention span dan minat membaca.

Attention span itu apa sih? Pada dasarnya seberapa lama kalian membaca atau konsen sama sesuatu sampai akhirnya ‘aduh penuh nih otak gue, udah gak kuat’,” ujar Abigal Limuria.

Cania ungkap attention span masyarakat Indonesia di tahun 2004 masih 150 menit (2,5 menit). Lalu 2012 menurun ke 75 detik hingga 2023 mencapai 47 detik. Menurut American Time Use Survey, kebiasaan membaca untuk hiburan makin menurun dari 28 persen ke 16 persen dalam 20 tahun.

2. Adanya reverse flynn effect

Launching Malaka Books di Citywalk Sudirman pada Minggu (15/2/2026). (IDN Times/Adyaning Raras)

Flyn Effect menunjukkan bahwa skor IQ rata-rata selalu meningkat dari generasi ke generasi. Namun di beberapa negara mengalami reverse flynn effect. Menurut Cania dan Abigail, hal ini mungkin terjadi karena peralihan minat masyarakat dari membaca tulisan panjang ke konten digital yang durasinya pendek.

“Penurunan kapasitas untuk berpikir secara mendalam dan analitis. Jadi berpikirnya tuh habis di permukaan aja ya, dari topik ke topik ke topik, berganti topik terus, tapi belum sampai ke mendalam terhadap suatu isu,” kata Cania.

Namun di Indonesia, ada harapan bahwa kebiasaan dan minat membaca itu masih bisa dibangun lagi. Abigail menjelaskan bahwa masih ada orang-orang yang ingin kembali baca buku. Ia juga masih menemukan banyaknya komunitas membaca yang bermunculan.

“Kita mungkin bisa lihat, di Indonesia sekarang ada book talk, terus banyak juga silent reading club yang mulai bermunculan, yang bikin club baca. Terrus abis itu juga, mungkin pas pandemi, yang nulis-nulis di Wattpad itu sebenarnya berkontribusi ke attention span dan kecintaan membaca,” tutur penerima Fortune Indonesia 40 under 40, Abigail Limuria.

3. Gen Z masih punya minat untuk membaca

Launching Malaka Books di Citywalk Sudirman pada Minggu (15/2/2026). (IDN Times/Adyaning Raras)

Meskipun attention span menurun, hadirnya Malaka Books didorong oleh data Indeks Tingkat Gemar Membaca yang tiap tahunnya meningkat. Artinya, masih ada harapan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca.

Indeks Tingkat Gemar Membaca (ITGM) dari 2020 ke 2024 naik sebanyak 4,17 persen. Lalu, Cania dan Abigail ungkap survei yang dilakukan oleh Snapcat pada Oktober 2024. Data menunjukkan bahwa 88 persen memiliki minat membaca dan 42 persen yang membaca setiap hari.

“Ternyata Gen Z yang paling banyak minat membacanya,” ucap Abigail.

Cania percaya kecintaan pada buku masih bisa dipopulerkan lagi. Ia percaya kebiasaan membaca akan meningkatkan attention span sehingga masyarakat Indonesia bisa berpikir lebih dalam.

“Kebiasaan membaca dan mengonsumsi informasi dalam jangka panjang, melatih attention span, dan membuat kita punya kemampuan untuk berpikir mendalam. Yang mana itu adalah syarat minimal untuk bisa belajar, untuk bisa punya keahlian di suatu bidang,” sambung Cania.

Oleh karena itu hadirlah Malaka Books serta platform malakabooks.id sebagai digital library. Membaca bukan sekadar menambah ilmu melainkan melatih otak untuk belajar banyak hal.

“Bukan cuma ilmunya, tapi skills dari membaca itu membentuk sesuatu di otak. Reflective thinking, logical thinking, listening, acquiring vocabulary, dan berimajinasi, “ tutup Sabda PS, founder dan CEO Zenius.

Editorial Team