Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Novel Train Dreams dan In Late Summer
Novel Train Dreams dan In Late Summer (Train Dreams karya Denis Johnson diterbitkan Farrar, Straus and Giroux dan In Late Summer karya Magdalena Blažević diterbitkan Linden))

Intinya sih...

  • Train Dreams (Denis Johnson) adalah novela kurang dari 100 halaman berlatar Amerika Serikat pada 1920-an, menitikberatkan studi karakter dan memberi referensi sejarah menarik.

  • In Late Summer (Magdalena Blažević) adalah novel berlatar Balkan pada puncak perang sipil 90-an, dengan jumlah halaman kurang dari 200 yang cukup bikin tertampol.

  • Things Fall Apart (Chinua Achebe) berlatarkan Nigeria tahun 1890-an, menceritakan relasi tokoh utama dengan istri dan anak-anaknya dalam hanya 200 halaman.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sedang mencari bacaan pendek yang tetap memperkaya wawasan dan mengobati rasa penasaranmu? Lima novela alias novel pendek dengan referensi kultur dan sejarah kuat ini bisa jadi rujukan buatmu.

Datang dari berbagai negara yang mungkin belum pernah kamu kunjungi dan ketahui sejarahnya, mereka bakal bikin pembaca makin yakin kalau ilmu pengetahuan itu tak ada habisnya. Penasaran novel pendek apa saja yang dimaksud? Ini rekomendasi novel pendek 100-200-an halaman yang bisa masuk daftar bacaanmu selanjutnya.

1. Train Dreams (Denis Johnson)

Train Dreams (Train Dreams karya Denis Johnson diterbitkan Farrar, Straus and Giroux)

Baru saja diadaptasi jadi film fitur, Train Dreams adalah novela kurang dari 100 halaman berlatar Amerika Serikat pada 1920-an. Buku ini pakai sudut pandang Robert Grainier, pekerja konstruksi rel kereta api yang hidupnya lurus, meski ia seorang yatim piatu. Sampai satu hari, ia dipaksa menerima fakta bahwa istri dan putrinya yang masih bayi tewas dalam sebuah kebakaran.

Sejak itu, Grainier bukan sosok yang sama lagi. Novel ini memang menitikberatkan studi karakter, tetapi memberi pembacanya beberapa referensi sejarah menarik. Yakni, pembangunan rel yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Amerika beberapa dekade kemudian serta pelibatan pekerja migran asal China yang akhirnya jadi bagian dari negeri itu.

2. In Late Summer (Magdalena Blažević)

In Late Summer (In Late Summer karya Magdalena Blažević, diterbitkan Linden)

In Late Summer adalah novel berlatar Balkan pada puncak perang sipil 90-an. Pada halaman pertama, kita langsung disuguhi fakta mencengangkan bahwa cerita ini datang dari seorang bocah 14 tahun yang baru terbunuh pada 1993. Tanpa mengungkap identitas etniknya, pembaca benar-benar dibikin fokus pada efek mengerikan perang yang tak pandang bulu itu. In Late Summer cukup pendek, jumlah halamannya kurang dari 200, tapi cukup bikin kamu tertampol.

3. Things Fall Apart (Chinua Achebe)

Things Fall Apart (Things Fall Apart karya Chinua Achebe diterbitkan Penguin Australia)

Hanya 200-an halaman, Things Fall Apart juga bisa bikin kamu merasakan berbagai emosi. Ia berlatarkan Nigeria tahun 1890-an, beberapa waktu sebelum koloni Eropa datang menjajah. Masyarakat lokalnya masih terbagi dalam suku dan klan, lengkap dengan berbagai kepercayaan dan adat mereka yang kaya.

Protagonis utamanya Okonkwo, pria yang percaya bahwa maskulinitas toksik dan patriarki adalah cara terbaik untuk selamat di dunia yang kejam ini. Novel juga menceritakan relasinya dengan ketiga istri dan anak-anaknya.

4. Too Loud a Solitude (Bohumil Hrabal)

Too Loud a Solitude (Too Loud a Solitude karya Bohumil Hrabal diterbitkan HarperCollins)

Too Loud a Solitude adalah novel yang menyoal kebijakan sensor di Ceko pada era komunis. Hanta, sang lakon adalah seorang pegawai di kantor percetakan di bawah kontrol pemerintah. Uniknya, tugas Hanta cukup spesifik, yakni memusnahkan buku-buku dan tulisan yang dianggap tidak layak terbit oleh pemerintah. Namun, di sinilah, ia menemukan berbagai ide-ide progresif yang membuat kesehariannya jadi lebih berwarna, jauh seperti yang diduga orang.

5. The Birds (Tarjei Vesaas)

The Birds (The Birds karya Tarjei Vesaas diterbitkan Penguin)

Kalau suka novel dengan studi karakter, buku fiksi asal Norwegia ini bisa jadi bacaan menarik. The Birds berlatarkan sebuah desa terpencil yang penduduknya menggunakan bahasa Nynorsk, yakni bahasa asli Norwegia yang tidak banyak dipakai layaknya bahasa Bokmal yang dipengaruhi relasi politik mereka degan Denmark pada masa lalu.

Tinggalah Mattis yang punya disabilitas mental dengan kakak perempuannya, Hege. Hidup mereka nyaman sampai Hege jatuh cinta pada seorang pemuda dan membuat Mattis dalam dilema. Khawatir ia harus hidup sendiri dan menghambat Hege, Mattis pun mulai memikirkan solusi ekstrem untuk masalahnya ini.

Siapa bilang fiksi gak bisa menutrisi otak layaknya bacaan nonfiksi? Buktikan lewat lima novel pendek di atas. Referensi kultur dan sejarahnya memperluas wawasan, bikin kamu jadi orang yang gak gampang menghakimi orang lain, deh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team