Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Novel tentang Perempuan yang Ditulis Penulis Perempuan Indonesia
Novel Paya Nie dan Entrok (dok. Marjin Kiri/Paya Nie | dok. Gramedia Pustaka Utama/Entrok)
  • Lima novel karya penulis perempuan Indonesia menyoroti pengalaman, perjuangan, dan keresahan perempuan melalui beragam latar budaya serta sejarah lokal.
  • Karya-karya seperti Paya Nie, Entrok, hingga Dari Dalam Kubur menghadirkan perspektif perempuan yang kuat terhadap isu sosial, politik, dan patriarki.
  • Artikel ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai serta mendukung karya sastra perempuan Indonesia yang mulai langka namun sarat makna dan relevansi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ingin membaca lebih banyak novel tentang perempuan yang lekat dengan pengalaman dan keresahanmu sendiri? Novel tentang perempuan dari penulis perempuan Indonesia berikut bisa jadi opsi menarik. Meski kerap tertutup pamor novel-novel penulis pria, mereka layak dapat perhatian dan apresiasimu, lho.

Bisa mulai dengan enam judul ciamik berikut. Siapa tahu ketagihan membaca novel lokal lainnya dari penulis-penulis perempuan tanah air, nih!

1. Paya Nie (Ida Fitri)

Paya Nie karya Ida Fitri (dok. Marjin Kiri/Paya Nie)

Paya Nie adalah novel berlatar Aceh yang ditulis dari sudut pandang 4 perempuan lokal. Saat mereka sedang beraktivitas di rawa Paya Nie, kisah-kisah dari masa lalu menyeruak. Berbagai kenangan manis sampai trauma menyelimuti momen itu.

Namun, di antara riuh suara mereka, satu regu tentara sedang bersiap menyergap rawa yang mereka kira sebagai tempat persembunyian kelompok separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Ini salah satu novel dengan perspektif langka yang wajib disebarluaskan.

2. Entrok (Okky Madasari)

Entrok karya Okky Madasari (dok. Gramedia Pustaka Utama/Entrok)

Membaca Entrok akan membuatmu naik pitam. Sejak awal kita bakal disuguhi ketidaknyamanan yang dirasakan dua perempuan, ibu dan putrinya. Mereka punya kepribadian dan keyakinan yang berbeda jauh. Sang ibu masih percaya pada tahayul dan tradisi, sementara putrinya mulai memeluk nilai-nilai modern.

Namun, satu yang akhirnya mempersatukan mereka, yakni fakta bahwa mereka harus berhadapan dengan institusi patriarki bernama militer yang perlahan merasuk ke kehidupan keduanya. Sebagai konteks, Entrok berlatarkan Orde Baru yang lekat dengan militerisme.

3. Malam Seribu Jahanam (Intan Paramaditha)

Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha (dok. Gramedia Pustaka Utama/Malam Seribu Jahanam )

Kalau Amerika Serikat punya Shirley Jackson, Indonesia punya Intan Paramaditha yang bisa meramu kisah gothic-horror dengan komentar sosial yang nampol. Dalam Malam Seribu Jahanam, kamu akan berkenalan dengan tiga perempuan keturunan Hajjah Victoria. Sang nenek pernah meramal masa depan mereka dan ketiganya sempat yakin kalau itu adalah jalan hidup mereka, meski rasanya masih mengganjal.

Tahun berlalu dan dua dari mereka berhasil menjalankan peran sesuai ramalan si nenek. Sampai satu hari, si bungsu ternyata “memberontak”. Ia melakukan hal yang menyimpang dari ramalan si nenek dan kedua saudarinya pun dibuat repot. Intan Paramaditha tidak mengadopsi kepercayaan supranatural luar negeri, sebaliknya, ia banyak mengusung kearifan lokal dan hal-hal yang lekat dengan kita selaku pembaca lokal.

4. Tutur Dedes: Doa dan Kutukan (Amalia Yunus)

Tutur Dedes karya Amalia Yunus (dok. Kawah Media/Tutur Dedes)

Tutur Dedes adalah sebuah upaya penceritaan ulang legenda Ken Dedes, sosok putri yang menikah dengan pembunuh suaminya sendiri. Selama ini, ia hanya dipotret sebagai tokoh pasif, bahkan token atau objek yang dilihat dari paras belaka.

Dalam Tutur Dedes, Amalia Yunus mencoba menghidupkan kembali Ken Dedes dari sudut pandang yang lebih berimbang. Ia bukan cuma istri atau permaisuri, tetapi pejuang dan pembuat siasat yang andal.

5. Dari Dalam Kubur (Soe Tjen Marching)

Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching (dok. Marjin Kiri/Dari Dalam Kubur)

Dari Dalam Kubur adalah kisah Karla, perempuan yang tak punya hubungan dekat layaknya ibu dan anak dengan ibu kandungnya sendiri. Ia merasa tertolak dan terabaikan sampai-sampai ketika kemelut politik 1998 menarget banyak perempuan keturunan China seperti ibunya, Karla mati rasa. Hingga satu hari, Karla dipaksa menghadapi fakta pahit yang menjelaskan sikap dingin dan ketus ibunya terhadap dirinya. Dari Dalam Kubur jadi salah satu novel fiksi sejarah paling dicari beberapa tahun belakangan.

Bacaan tadi sempurna untuk memperkaya wawasan dan bikin kamu makin semangat memperjuangkan kesetaraan hak perempuan. Sayang, nih, banyak yang makin langka. Antara memang jumlah cetaknya kurang atau antusiasme pembaca membludak. Semoga penerbit bisa makin peka, nih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team