Buat kamu yang sering baca di transportasi publik, novel tipis adalah pilihan paling aman: ringan, cepat selesai, dan tetap seru meski dibaca sambil berdiri di MRT, KRL, atau bus. Cerita-cerita pendek biasanya lebih fokus, jadi kamu gak gampang kehilangan arah ketika pengumuman stasiun tiba-tiba menggema di tengah paragraf yang lagi kamu baca. Lima judul berikut menawarkan bacaan singkat yang engaging, mudah diikuti, dan pas buat mengisi waktu perjalanan yang gak terlalu lama.
5 Novel yang Bisa Dibaca Saat Menunggu dan Naik Transportasi Umum

Intinya sih...
Novel tipis adalah pilihan terbaik untuk dibaca di transportasi umum karena ringan, cepat selesai, dan tetap seru.
The Stranger, The Metamorphosis, We Have Always Lived in the Castle, Convenience Store Woman, dan The House on Mango Street adalah novel tipis yang cocok untuk mengisi waktu perjalanan yang tidak terlalu lama.
Lima novel tersebut menawarkan cerita singkat yang engaging, mudah diikuti, dan pas untuk menemani perjalanan tanpa kehilangan jejak.
1. The Stranger karya Albert Camus
Novel ini mengikuti seorang laki-laki yang hidupnya berjalan datar sampai sebuah insiden membuatnya harus berhadapan dengan konsekuensi besar. Ceritanya bergerak cepat dan narasinya sederhana sehingga cocok dibaca di tengah keramaian. Tema absurditas dan moral disajikan tanpa keruwetan bisa dinikmati refleksi filosofisnya tanpa harus buka catatan kecil.
2. The Metamorphosis karya Franz Kafka
Kisah ini dimulai ketika seorang laki-laki bangun dan mendapati dirinya berubah menjadi seekor serangga. Alurnya lurus, fokus, dan minim karakter tambahan, bikin kamu tetap bisa mengikuti cerita meski kondisi perjalananmu lagi padat. Nuansanya absurd, tapi tetap membumi lewat konflik keluarga. Panjangnya juga ideal untuk satu atau dua kali perjalanan.
3. We Have Always Lived in the Castle karya Shirley Jackson
Novel pendek ini mengikuti dua saudara perempuan yang hidup terasing setelah tragedi menimpa keluarga mereka. Ceritanya intimate, tegang, tapi tetap mudah diikuti tanpa harus menghafal banyak detail. Jackson membangun atmosfer creepy yang gak berlebihan. Sangat pas dibaca saat perjalanan sore hari ketika kepala butuh distraksi ringan.
4. Convenience Store Woman karya Sayaka Murata
Tokoh utamanya adalah pekerja minimarket yang menemukan stabilitas dari rutinitas yang sama setiap hari. Ceritanya sederhana, penuh observasi kecil tentang ekspektasi sosial, dan dituturkan dengan ritme yang enak. Kamu bisa masuk ke kepalanya dengan cepat tanpa perlu komitmen panjang. Pas buat pembaca yang suka narasi slice-of-life yang reflektif.
5. The House on Mango Street karya Sandra Cisneros
Novel ini disusun dalam bentuk vignette pendek yang mengikuti kehidupan seorang gadis muda di lingkungan barunya. Setiap babnya ringkas, sehingga kamu bisa membaca satu-dua bagian setiap kali berhenti di stasiun atau halte. Nuansanya puitis, tapi tetap mudah dicerna di tengah perjalanan. Kisahnya hangat sekaligus tajam soal identitas dan tumbuh dewasa.
Lima novel tipis ini bisa jadi teman perjalanan yang pas buat kamu yang sering baca di transit. Ceritanya ringkas, fokus, dan cukup memikat untuk menemani waktu perjalanan tanpa bikin kamu kehilangan jejak ketika harus turun mendadak. Cocok juga buat kamu yang ingin menjaga ritme membaca tanpa terhambat jadwal harian yang sibuk.