Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Panduan Memilih Buku Bacaan Anak Sesuai Usia, Gak Boleh Sembarangan

Ilustrasi membaca buku (pexels.com/Thirdman)
Ilustrasi membaca buku (pexels.com/Thirdman)
Intinya sih...
  • Buku untuk usia pra-membaca fokus pada visual, seperti buku berkonsep
  • Buku untuk usia anak TK dominan visual, tetapi masih ada teks sederhana
  • Picture books cocok untuk anak yang sudah bisa membaca sederhana
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ternyata memilih buku bacaan gak boleh sembarangan, lho! Ada hal-hal khusus yang penting diperhatikan ketika memilih buku. Setiap usia punya kebutuhan literasi yang berbeda dari segi visual hingga konsep cerita.

IDN Times berkesempatan wawancara dengan Aisha Habir, Founder Pibo sekaligus praktisi literasi anak secara daring. Ia menjelaskan bagaimana perkembangan membaca anak itu didukung lewat pemilihan buku yang tepat. Memangnya, gimana cara memilih buku bacaan anak sesuai usia dari balita hingga usia SD?


1. Buku untuk usia pra-membaca fokus pada visual

Ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Menurut Aisha, penting bagi orangtua memberikan buku bacaan anak yang sesuai dengan usia atau kemampuan mereka. Anak usia dini seperti balita yang belum bisa membaca lebih baik diberi buku yang dominan visualnya.

“Untuk dia yang belum bisa membaca sama sekali, justru yang namanya visual itu tetap nomor satu yang penting. Teksnya sedikit-sedikit saja,” katanya saat diwawancarai IDN Times pada Jumat (10/10/2025).

Aisha memberi contoh buku berkonsep, yaitu buku yang memperkenalkan satu konsep sederhana di tiap halamannya. Misalnya, buku lawan kata. Satu halaman buku ada gambar gelas teh panas, halaman sebelahnya ada gelas teh dingin.

“Jadi, konsep bahwa panas dan dingin itu berseberangan,” katanya.

2. Buku untuk usia anak TK yang dominan visual, tetapi masih ada teks

ilustrasi anak membaca buku (unsplash.com/Ben Mullins)
ilustrasi anak membaca buku (unsplash.com/Ben Mullins)

Pada anak TK yang umumnya berusia 3-6 tahun, Aisha menyarankan untuk mencari buku yang fokus pada visual daripada teks. Namun, mereka bisa dikenalkan perlahan dengan bacaan teks sederhana.

“Nah, buku Ramah Cerna itu dipakai untuk belajar membaca dan banyak kalau di luar negeri itu, bikinnya namanya. Mereka bikin level buks. Jadi, ada level-levelnya. Ada level 1, 2, 3, 4, setahu aku. Kalau di Indonesia, paling banyak sampai level 4,” terang Aisha.

Buku Ramah Cerna ini umumnya dipakai untuk mengajak anak belajar membaca. Aisha memberi contoh level satu yang terdiri dari satu kalimat dengan tiga kata, seperti “Bobi main bola”.

“Kebanyakan akan pakai konsonan yang sama,” katanya.

Menurut Pedoman Perjenjangan Buku dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), dikatakan bahwa buku Ramah Cerna (decodeable book) umumnya berisi teks yang dapat diurai dan diurutkan. Cocok untuk mengenalkan sistem kerja alfabet. Lalu, kata-katanya sering digunakan.

3. Picture books untuk anak yang sudah bisa membaca sederhana

ilustrasi anak membaca buku bersama orang tua (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi anak membaca buku bersama orang tua (pexels.com/cottonbro studio)

Orangtua bisa memperkenalkan picture books untuk anak yang mulai terbiasa membaca kalimat-kalimat sederhana. Menurut Aisha, picture books terdiri dari dua tipe, yaitu short picture book dan long picture book.

“Visualnya lebih besar dan teksnya kecil. Secara teks juga ada yang memakai imbuhan seperti -eng, me, -kan dikenalkan belakangan. Jadi, kalimatnya juga jauh lebih sederhana. Kosakatanya juga lebih simpel,” ujarnya.

Picture book menjadi jembatan penting sebelum anak membaca cerita yang lebih kompleks seperti kumpulan cerita pendek. Di picture book, teks berperan untuk mendukung gambar.

4. Usia SD beralih ke bacaan yang lebih kompleks seperti cerpen, majalah, komik

ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Mikhail Nilov)

Setelah anak lancar dalam membaca, mereka akan lebih mudah memahami buku yang lebih kompleks. Teks akan lebih banyak dengan kalimat dan kosakata yang lebih sulit.

“Ada majalah, komik, kalau misalnya sudah advance. Biasanya kelas 4, 5, 6 itu chapter books. Jadi, seminovel,” kata Aisha.

Chapter book akan membuat anak beradaptasi dengan bacaan yang panjang. Umumnya, minim gambar dan memiliki teks yang panjang.

5. Buku memiliki klasifikasi pembaca

ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Ron Lach)
ilustrasi anak membaca buku (pexels.com/Ron Lach)

Kemdikbudristek memiliki pedoman mengenai perjenjangan buku. Dalam pedoman tersebut dikatakan bahwa tiap buku memiliki klasifikasi pembaca masing-masing. Terbagi menjadi pembaca dini dengan jenjang A (0-6 tahun), yaitu pembaca yang baru mengenal buku dan belum bisa membaca.

Pembaca awal (B1, B2, B3 untuk usia sekitar 6-10 tahun) untuk pembaca yang sudah mampu membaca teks berupa kata atau frasa dengan kombinasi bunyi huruf, klausa, kalimat sederhana, dan paragraf sederhana. Pembaca Semenjana, jenjang C (10-12 tahun), mampu membaca teks lancar berbentuk paragraf.

Pembaca Madya, jenjang D (13-15 tahun) mampu memahami berbagai teks dengan tingkat kesulitan menengah. Lalu pembaca mahir, jenjang E (di atas 16 tahun), untuk pembaca yang analitis dan kritis.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai pilihan buku yang tepat untuk anak. Bukan berdasarkan usia tetapi juga kemampuan membacanya. Semoga makin banyak orangtua bisa memberikan pengalaman membaca yang tepat dan menyenangkan, ya!


Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Petualangan di Upin Ipin, Apa Kekuatan Terbesarmu di Antara Teman Sekelas?

30 Nov 2025, 20:00 WIBLife