Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
perempuan berhijab pink
ilustrasi perempuan yang bersahabat (unsplash.com/hasanalmasi)

Rasa iri dan dengki sering datang tanpa kamu undang, bahkan kepada orang yang sebenarnya kamu sayangi. Perasaan itu bisa muncul hanya karena melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih cepat. Rasulullah memahami bahwa hati manusia memang mudah goyah jika gak dijaga. Karena itu beliau memberi teladan bagaimana menata batin agar tetap bersih. Iri bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga menggerogoti ketenangan diri sendiri. Dari kehidupan Nabi, kita belajar bahwa hati perlu dirawat seperti tubuh. Strategi beliau sangat relevan untuk kamu yang hidup di era penuh perbandingan.

Media sosial membuat banyak orang mudah terjebak melihat hidup orang lain dari layar kecil. Kamu mungkin pernah merasa gak cukup hanya karena membandingkan diri dengan standar maya. Rasulullah mengajarkan cara pandang yang jauh lebih menenangkan. Beliau gak membiarkan iri menguasai langkah dan keputusan. Kalau hati bersih, hidup terasa lebih ringan meski sederhana. Lima strategi berikut bisa menjadi obat bagi penyakit dengki yang sering tak disadari. Semuanya dekat dengan keseharian kamu.

1. Mensyukuri bagian hidup yang sudah dimiliki

ilustrasi seseorang merasa bersyukur (pexels.com/Daniel Reche)

Rasulullah selalu menanamkan rasa syukur dalam setiap keadaan. Beliau melihat nikmat sekecil apa pun sebagai karunia besar. Kalau kamu sibuk menghitung milik orang lain, kamu akan lupa pada milik sendiri. Nabi mengajarkan untuk menoleh ke bawah dalam urusan dunia. Cara ini membuat hati lebih lapang dan gak mudah iri. Dari syukur, lahir ketenangan yang sulit digoyahkan. Kamu belajar mencintai takdirmu sendiri.

Dalam banyak kesempatan, Rasulullah memuji Allah atas rezeki yang sederhana. Beliau gak membandingkan hidupnya dengan kemewahan raja. Kalau kamu meniru kebiasaan ini, standar bahagiamu akan lebih sehat. Syukur menutup pintu dengki secara perlahan. Nabi menunjukkan bahwa kaya hati lebih penting dari kaya benda. Inilah strategi pertama yang sangat mendasar. Hati yang bersyukur sulit ditembus iri.

2. Mendoakan kebaikan bagi orang yang membuat iri

ilustrasi menolong seseorang (pexels.com/SHVETS production)

Rasulullah mengajarkan membalas perasaan negatif dengan doa positif. Ketika melihat kelebihan orang lain, beliau menuntun untuk mendoakannya. Kalau kamu mampu melakukan ini, rasa iri akan melemah sendiri. Nabi paham bahwa hati bisa dilatih dengan tindakan. Doa mengubah energi dengki menjadi cinta. Dari kebiasaan ini hubungan tetap terjaga. Kamu belajar mengalahkan ego dengan cara yang lembut.

Banyak orang sulit mendoakan yang dianggap saingan. Rasulullah justru menjadikannya latihan spiritual. Kalau kamu rutin melakukannya, hatimu akan lebih dewasa. Doa membuat kita sadar bahwa rezeki diatur Allah. Nabi mengajarkan melihat orang lain sebagai saudara, bukan pesaing. Strategi ini sangat ampuh memutus lingkaran iri. Dari sinilah jiwa perlahan sembuh.

3. Menghindari kebiasaan membandingkan diri

ilustrasi orang baik (Pexels.com/Pixabay)

Rasulullah gak pernah mengukur nilai manusia dari harta dan popularitas. Beliau menilai dari takwa dan akhlak. Kalau kamu terus membandingkan pencapaian, hatimu gak akan tenang. Nabi mengajarkan fokus pada perjalanan diri sendiri. Setiap orang punya garis waktu berbeda. Dari pemahaman ini iri kehilangan bahan bakarnya. Kamu belajar menghargai proses pribadimu.

Dalam mendidik sahabat, Rasulullah menekankan keunikan masing-masing. Beliau gak memaksa semua orang menjadi sama. Kalau kamu memegang prinsip ini, hidup terasa lebih lega. Perbandingan berlebihan hanya melahirkan luka batin. Nabi menunjukkan bahwa standar utama adalah ridha Allah. Strategi ini membebaskan hati dari penjara sosial. Inilah cara menjaga kewarasan jiwa.

4. Memperbanyak introspeksi daripada mencari salah orang

Ilustrasi seseorang evaluasi diri sendiri (pexels.com/Ivan Oboleninov)

Rasulullah sibuk memperbaiki diri, bukan mengorek kekurangan orang lain. Beliau mengajarkan muhasabah sebagai kebiasaan harian. Kalau kamu terlalu fokus pada hidup orang, iri mudah tumbuh. Introspeksi membuat energi kembali ke dalam diri. Nabi menunjukkan bahwa perbaikan pribadi lebih penting. Dari sikap ini hati menjadi lebih bersih. Kamu belajar mengurus ladang sendiri.

Beliau gak membiarkan gosip menguasai majelisnya. Rasulullah menutup pintu pembicaraan yang merendahkan orang. Kalau kamu ingin bebas dari dengki, kurangi membahas hidup orang lain. Introspeksi menumbuhkan empati dan kesadaran. Nabi mengajarkan melihat kekurangan diri dengan jujur. Strategi ini menjaga hati tetap rendah. Dari sinilah kedamaian bermula.

5. Meyakini bahwa rezeki sudah diatur Allah

ilustrasi wanita muslim (pexels.com/Thirdman)

Rasulullah sangat kuat menanamkan iman tentang takdir rezeki. Beliau gak khawatir berlebihan pada bagian orang lain. Kalau kamu yakin setiap jatah sudah ditentukan, iri kehilangan tempat. Nabi mengajarkan bahwa gak ada rezeki yang tertukar. Keyakinan ini membuat hati lebih stabil. Dari iman lahir rasa cukup. Kamu belajar bersandar kepada Allah, bukan pada perbandingan.

Dalam hidupnya, Rasulullah tetap tenang meski sering dalam kekurangan. Beliau percaya Allah memberi sesuai kebutuhan terbaik. Kalau kamu memegang prinsip ini, dengki sulit menguasai. Nabi menunjukkan bahwa ketenangan adalah buah keyakinan. Rezeki orang lain gak akan mengurangi milikmu. Strategi ini menjadi benteng terakhir bagi hati. Dari sinilah kebahagiaan sejati tumbuh.

Rasa iri sebenarnya sinyal bahwa hati kamu sedang lelah. Rasulullah gak memarahi perasaan manusiawi itu, tetapi memberi jalan keluar yang nyata. Lima strategi tadi bisa kamu praktikkan pelan-pelan tanpa harus sempurna. Membersihkan hati memang proses panjang seperti mencuci noda yang menempel lama. Namun setiap langkah kecil sangat berarti di hadapan Allah. Kamu gak sendirian dalam perjuangan ini. Teladan Nabi selalu relevan untuk zaman apa pun.

Di tengah dunia yang gemar pamer pencapaian, menjaga hati menjadi tantangan besar. Rasulullah mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah ketika kamu mampu menaklukkan iri dalam diri. Bukan orang lain yang perlu dikalahkan, melainkan ego sendiri. Kalau hatimu bersih, rezeki sekecil apa pun terasa cukup. Hidup menjadi lebih ringan dan hubungan lebih hangat. Inilah makna kedewasaan spiritual yang sesungguhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy