Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Rasulullah Mengelola Waktu agar Tetap Produktif, Ikuti!

ilustrasi pengatur waktu
ilustrasi pengatur waktu (pexels.com/Anna Tarazevich)

Banyak orang merasa waktu 24 jam sehari gak pernah cukup. Pekerjaan menumpuk, urusan pribadi menunggu, sementara tubuh dan pikiran juga butuh istirahat. Akibatnya, produktivitas justru menurun karena waktu gak dikelola dengan baik. Padahal, produktif bukan soal sibuk terus-menerus, tetapi tentang bagaimana waktu digunakan secara sadar dan seimbang.

Rasulullah SAW adalah teladan luar biasa dalam mengelola waktu. Di tengah peran beliau sebagai pemimpin, pendidik, kepala keluarga, dan hamba Allah, Rasulullah tetap mampu menjalani semuanya dengan teratur. Gak ada waktu yang terbuang sia-sia, namun beliau juga gak hidup dalam tekanan. Cara Rasulullah memanfaatkan waktu sangat relevan untuk kehidupan modern. Kamu bisa meneladaninya agar tetap produktif tanpa kehilangan ketenangan.

1. Menyusun prioritas berdasarkan nilai, bukan sekadar kesibukan

ilustrasi seseorang menyelesaikan list pekerjaan (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi seseorang menyelesaikan list pekerjaan (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Rasulullah selalu mendahulukan hal-hal yang paling penting. Beliau gak menghabiskan waktu untuk hal yang gak membawa manfaat. Setiap aktivitas memiliki nilai dan tujuan yang jelas. Dengan prioritas yang tepat, waktu terasa lebih cukup. Kamu belajar bahwa gak semua kesibukan layak diperjuangkan.

Prioritas Rasulullah didasarkan pada nilai ibadah dan kemaslahatan. Urusan dunia dan akhirat dijalani secara seimbang. Beliau gak menunda kewajiban utama demi hal yang remeh. Dari sini kamu bisa menilai ulang aktivitas harian. Fokus pada yang bernilai akan membuat waktu lebih berkualitas.

2. Membagi waktu secara seimbang antara ibadah, kerja, dan keluarga

ilustrasi seseorang salat (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi seseorang salat (pexels.com/Thirdman)

Rasulullah gak menumpuk waktunya hanya untuk satu peran. Ada waktu khusus untuk ibadah, untuk umat, dan untuk keluarga. Pembagian ini membuat hidup beliau tetap harmonis. Gak ada satu aspek yang diabaikan. Kamu diajak melihat pentingnya keseimbangan dalam produktivitas.

Dengan pembagian waktu yang jelas, Rasulullah bisa hadir secara utuh di setiap peran. Saat bersama keluarga, beliau benar-benar hadir. Saat beribadah, beliau fokus dan khusyuk. Produktivitas gak berarti mengorbankan hubungan atau kesehatan. Justru keseimbangan membuat energi terjaga.

3. Memanfaatkan waktu pagi dengan aktivitas yang bermakna

ilustrasi seseorang dzikir (freepik.com/freepik)
ilustrasi seseorang dzikir (freepik.com/freepik)

Rasulullah sangat menghargai waktu pagi. Beliau memulai hari lebih awal dan memanfaatkan pagi untuk hal-hal penting. Waktu pagi digunakan untuk ibadah, persiapan, dan aktivitas produktif. Kebiasaan ini membuat hari berjalan lebih terarah. Kamu bisa merasakan dampaknya jika memulai hari dengan sadar.

Pagi hari memberi energi dan kejernihan pikiran. Rasulullah memahami bahwa waktu ini sangat berharga. Dengan memulai lebih awal, banyak hal bisa diselesaikan tanpa terburu-buru. Produktivitas pun meningkat secara alami. Kebiasaan ini masih sangat relevan untuk ritme hidup sekarang.

4. Gak menunda pekerjaan dan menghargai waktu luang

ilustrasi seseorang bekerja (pexels.com/Moose Photos)
ilustrasi seseorang bekerja (pexels.com/Moose Photos)

Rasulullah gak suka menunda hal yang bisa diselesaikan segera. Beliau memanfaatkan waktu dengan penuh kesadaran. Ketika ada waktu luang, digunakan untuk hal yang bermanfaat. Gak ada kebiasaan membuang waktu tanpa tujuan. Kamu belajar bahwa waktu luang juga bagian dari amanah.

Menunda pekerjaan sering membuat beban pikiran menumpuk. Rasulullah mengajarkan bahwa menyelesaikan tugas tepat waktu memberi ketenangan. Waktu luang pun bisa dinikmati tanpa rasa bersalah. Dari sini, produktivitas terasa lebih ringan. Waktu menjadi sahabat, bukan musuh.

5. Menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat

ilustrasi istirahat sejenak (pexels.com/EKATERINA BOLOVTSOV
ilustrasi istirahat sejenak (pexels.com/EKATERINA BOLOVTSOV

Meski sangat produktif, Rasulullah gak mengabaikan istirahat. Beliau memahami batas kemampuan tubuh. Waktu istirahat dijaga agar kesehatan tetap terpelihara. Produktivitas bukan berarti memaksakan diri. Kamu diajak untuk menghormati kebutuhan fisik dan mental.

Dengan istirahat yang cukup, Rasulullah tetap bugar menjalani aktivitas. Kelelahan berlebihan justru menghambat kinerja. Beliau mengajarkan bahwa tubuh adalah amanah. Menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab. Dari sinilah produktivitas jangka panjang terwujud.

Cara Rasulullah mengelola waktu menunjukkan bahwa produktif gak harus tergesa-gesa. Ada ketenangan, kesadaran, dan keseimbangan dalam setiap aktivitas. Waktu digunakan dengan niat yang jelas dan tujuan yang baik. Inilah kunci hidup yang teratur dan bermakna. Kamu gak perlu merasa kehabisan waktu jika tahu cara mengelolanya.

Di tengah tuntutan zaman sekarang, teladan Rasulullah terasa semakin relevan. Kamu bisa mulai dengan langkah kecil, seperti menyusun prioritas dan menghargai waktu pagi. Produktivitas yang sehat akan membawa ketenangan batin. Dari sinilah hidup terasa lebih terarah dan seimbang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Ide Dekorasi Area Balkon yang Cocok Jadi Tempat Relaksasi Pagi Hari

11 Jan 2026, 23:17 WIBLife