Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Tips Mencegah Pelecehan Seksual di Pesantren, Santri Wajib Tahu!
ilustrasi santri (pexels.com/Noval Gani)

Pesantren dikenal sebagai tempat menuntut ilmu agama sekaligus membentuk karakter dan akhlak. Namun, seperti lingkungan pendidikan lainnya, pesantren juga perlu memiliki sistem perlindungan yang kuat agar para santri merasa aman dan nyaman selama belajar. Salah satu hal yang penting diperhatikan adalah pencegahan pelecehan seksual di lingkungan pesantren.

Pelecehan seksual bisa terjadi dalam berbagai bentuk, baik verbal, fisik, maupun melalui media digital. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan bersama oleh pengurus, santri, orang tua, hingga masyarakat sekitar. Berikut enam tips penting untuk mencegah pelecehan seksual di pesantren.

1. Bangun budaya berani bicara dan saling melindungi

ilustrasi santri (unsplash.com/Muh Makhlad)

Salah satu alasan kasus pelecehan sering sulit terungkap adalah karena korban merasa takut, malu, atau khawatir tidak dipercaya. Padahal, lingkungan pesantren seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berbicara.

Santri perlu diajarkan bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” terhadap tindakan yang membuat tidak nyaman. Selain itu, budaya saling menjaga antarsantri juga penting dibangun agar tidak ada yang merasa sendirian saat menghadapi masalah. Pengurus pesantren pun perlu menciptakan suasana yang terbuka sehingga santri tidak takut melapor ketika mengalami atau melihat tindakan yang mencurigakan.

2. Berikan edukasi tentang batasan tubuh dan consent

ilustrasi santri (pexels.com/Khoirur El-Roziqin)

Pendidikan mengenai batasan tubuh atau body boundaries penting diberikan sejak dini, terutama kepada remaja. Sebab, masih banyak yang belum memahami bahwa beberapa tindakan tertentu bisa termasuk pelecehan seksual, baik secara verbal maupun fisik.

Santri perlu memahami bahwa tubuh mereka adalah hak pribadi yang harus dihormati. Tidak semua sentuhan dapat dibenarkan, bahkan candaan bernuansa seksual sekalipun bisa termasuk bentuk pelecehan jika membuat seseorang merasa tidak nyaman. Edukasi seperti ini dapat dilakukan melalui kajian, seminar, maupun sesi konseling dengan penyampaian yang santun, mudah dipahami, dan sesuai dengan usia santri.

3. Pastikan ada sistem pelaporan yang aman

ilustrasi santri (pexels.com/Daneswara Eka)

Pesantren idealnya memiliki mekanisme pelaporan yang jelas dan mudah diakses. Misalnya, nomor pengaduan, kotak aduan, wali asuh, atau tim khusus perlindungan santri. 

Hal yang tak kalah penting adalah menjaga kerahasiaan korban. Jangan sampai korban justru mendapat tekanan sosial atau disalahkan setelah melapor. Jika sistem pelaporan aman dan terpercaya, santri akan lebih berani menyampaikan kejadian yang dialami sebelum masalah menjadi lebih besar.

4. Tingkatkan pengawasan di area tertentu

ilustrasi kegiatan santri (pexels.com/PPM Al-Hassan Putra)

Beberapa area dengan pengawasan minim bisa menjadi titik rawan terjadinya pelecehan. Karena itu, pengurus pesantren perlu memastikan pengawasan berjalan dengan baik, terutama di asrama, kamar mandi, ruang tertutup, atau area yang sepi.

Penerapan aturan jam kunjung, pemisahan area tertentu, hingga pemasangan CCTV di area umum dapat membantu meningkatkan keamanan lingkungan pesantren. Namun, pengawasan tetap harus memperhatikan privasi santri agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman.

5. Selektif dalam memilih pengajar dan pengurus

ilustrasi kegiatan santri (pexels.com/el jusuf)

Pencegahan juga perlu dimulai dari proses perekrutan tenaga pendidik dan pengurus pesantren. Latar belakang, rekam jejak, serta perilaku calon pengajar perlu diperhatikan dengan serius.

Selain itu, pihak pesantren sebaiknya rutin memberikan pelatihan tentang etika, perlindungan anak, dan pencegahan kekerasan seksual kepada seluruh staf. Lingkungan pendidikan yang sehat tidak hanya dibangun lewat aturan, tetapi juga melalui figur pengajar yang amanah dan profesional.

6. Orang tua jangan sepenuhnya lepas tangan

ilustrasi kegiatan santri (pexels.com/Muhaimin Abdul Aziz)

Meski anak tinggal di pesantren, orang tua tetap perlu aktif memantau kondisi mereka. Bangun komunikasi yang hangat agar anak merasa nyaman untuk bercerita tentang apa pun yang dialami selama di pesantren. Selain itu, orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih pendiam, takut kembali ke pesantren, mudah cemas, hingga mengalami penurunan kondisi mental maupun prestasi akademik.

Saat anak mulai bercerita, hindari langsung menghakimi atau menyalahkan. Dengarkan terlebih dahulu dengan tenang dan berikan dukungan emosional agar mereka merasa aman serta dipercaya. Kolaborasi yang baik antara orang tua dan pihak pesantren juga penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman bagi santri.

Itulah enam cara mencegah pelecehan seksual di pesantren. Isu ini sebaiknya tidak lagi dianggap tabu untuk dibahas, karena perlindungan dan keamanan santri merupakan hal yang sangat penting. Dengan edukasi yang tepat serta sistem perlindungan yang baik, pesantren dapat menjadi tempat belajar yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh santri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy