Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
UOB My Digital Space Fokus Ciptakan Talenta Muda Digital
Event kompetisi coding UOB My Digital Space CODEFEST 2026 (dok. IDN Times/Shafira Andini)
  • UOB Indonesia bersama Ruangguru sukses menggelar CODEFEST 2026, menyeleksi 16.000 peserta jadi 29 pemenang dari berbagai daerah sebagai hasil program UOB My Digital Space yang fokus pada literasi digital dan coding.
  • Program ini tak hanya melatih kemampuan teknis coding, tapi juga membangun logika berpikir, kepercayaan diri, serta kolaborasi lintas daerah bagi siswa SD hingga SMA/SMK di seluruh Indonesia.
  • Berawal dari inisiatif UOB Singapura saat pandemi, kini Indonesia menjadi pelopor regional dengan memperluas program ke ranah edukasi digital dan kolaborasi antarnegara untuk mencetak talenta muda masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buat kamu yang belum tahu, UOB Indonesia baru saja sukses menggelar event UOB My Digital Space pada 27 Juni 2026 lalu. Dalam acara bertajuk CODEFEST, UOB berhasil mengumpulkan sekitar 29 finalis dari berbagai daerah di Indonesia untuk berkompetisi digital skill coding

CODEFEST sendiri adalah kompetisi nasional yang jadi panggung pembuktian bagi anak-anak yang sudah setahun belajar coding, literasi digital, hingga computational thinking melalui program UOB My Digital Space berkolaborasi dengan Ruangguru. CODEFEST ini menyasar siswa dari SD hingga jenjang SMA/SMK perlahan tapi pasti mencetak programer muda di bidangnya. 

IDN Times berkesempatan ngobrol langsung dengan perwakilan UOB Indonesia, Luke Ariefiandi Nugraha, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia soal perjalanan, tantangan, dan harapan UOB untuk generasi muda Tanah Air. Yuk simak!

1. Dari 16.000 peserta jadi 29 juara, hasil yang melampaui ekspektasi UOB sendiri

Para juara jenjang SMA event kompetisi coding UOB My Digital Space CODEFEST 2026 (dok. IDN Times/Shafira Andini)

Program UOB My Digital Space ini merupakan kolaborasi UOB Indonesia dengan Ruangguru. Program ini tentu gak jadi dalam semalam. Sudah setahun berjalan dan sejak diluncurkan pada 2025 lalu, UOB My Digital Space menargetkan 90 ribu anak dalam lima tahun, dan di tahun pertamanya ini sudah berhasil berdampak bagi lebih dari 16 ribu anak dari seluruh daerah di Indonesia. 

Dari jumlah itu, sekitar 9.000 siswa mendaftar untuk ikut CODEFEST ini, lalu disaring jadi 1.000, lalu para peserta disaring lagi untuk mengikuti bootcamp hingga tersisa 100 peserta, dan akhirnya terpilih 29 pemenang di puncak acara yang digelar Sabtu kemarin (27/06/2026) di Ice Palace Lotte Mall Kuningan, Jakarta.

"Kita lihat antusiasmenya juga luar biasa dari anak-anak, juga dari pihak sekolah. Termasuk orang tua juga," ungkap Luke. Ia mengakui awalnya banyak orang tua yang ragu.

“Mesti ikut apaan lagi nih anak saya," tapi setelah melihat programnya, mereka justru jadi antusias dan ikut mendukung. Yang paling membekas adalah bagaimana presentasi para juara benar-benar menunjukkan kompetensi yang dibutuhkan untuk masa depan bangsa dan ini yang membuat UOB berkomitmen membawa program ini terus ke tahun-tahun berikutnya,” jelasnya pada sesi interview bersama IDN Times.

2. Dari belajar coding hingga berkembang ke skill lainnya

Salah satu sesi presentasi jenjang SD dari event kompetisi coding UOB My Digital Space CODEFEST 2026 (dok. IDN Times/Shafira Andini)

UOB sendiri percaya bahwa kunci masa depan ASEAN, termasuk Indonesia, ada di generasi mudanya. Karena itu, meski teknologi terus berubah dan AI makin banyak diimplementasikan, coding tetap jadi main course-nya. Alasannya sederhana: di balik bahasa programming, coding sebenarnya soal melatih logika berpikir. Hal ini yang mendasari UOB memilih untuk fokus pada coding untuk generasi muda. 

"Coding ini kan sebenarnya mengenai logika berpikir. Jadi logika berpikir itu, mau itu coding, mau itu AI, mau itu digital technology apalagi yang akan kita hadapi di depan, itu akan selalu penting," jelas Luke. 

Tapi yang dikejar UOB ternyata lebih dari sekadar skill teknis. Banyak peserta belum tentu bercita-cita jadi programmer, dan menurutnya program ini justru jadi wadah eksplorasi sekaligus melatih kepercayaan diri, dimana ini terlihat lewat sesi sharing dan presentasi yang dibangun sejak di sekolah, bukan cuma di puncak CODEFEST kemarin. 

“Masih ada yang takut sampai nangis, tapi kan itu sesuatu pembelajaran. Kita juga sempat ketemu yang awalnya nangis, tapi akhirnya presentasi, sekarang yaudah, ternyata bisa," ceritanya. Nilai kolaborasi pun ikut tumbuh, ada peserta dari Aceh, Balikpapan, Semarang, Surabaya, Bali, hingga Papua yang awalnya tak saling kenal, justru jadi kompak dan saling bantu selama proses kompetisi.

3. Berawal dari Singapura saat pandemi, kini Indonesia jadi pelopor program regional

Event kompetisi coding UOB My Digital Space CODEFEST 2026 (dok. IDN Times/Shafira Andini)

Ternyata, UOB My Digital Space bukan program baru. Cikal bakalnya berasal dari program UOB Group di Singapura sekitar masa COVID-19, dengan fokus awal sebatas memberikan bantuan infrastruktur seperti laptop dan komputer ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Indonesia kemudian membawa program ini ke level berikutnya dan menjadi pelopor secara regional.

"Ini pengembangan yang baru," tegas Luke. Hal ini juga melahirkan kolaborasi cross-country, UOB Malaysia bahkan mengirim volunteer untuk memberikan sesi literasi keuangan langsung ke peserta di Indonesia, sejalan dengan inisiatif internal UOB yang sangat mendorong volunteerism antar negara. 

“Di Indonesia, kami membawa program ini ke level berikutnya, sebagai yang pertama kali menjalankannya seperti ini, sambil tetap berjalan secara regional. Jadi UOB My Digital Space bukan program baru, tapi ini adalah pengembangan baru dari program yang sudah ada,” katanya. Ia pun mengatakan jika ini adalah salah satu program flagship milik UOB yang masih terus dikembangkan dan dievaluasi.

4. Tema kompetisi berubah tiap tahun, dan kreativitas peserta sering melampaui brief

Absolute Winner berasal dari SMP di Bali dari event kompetisi coding UOB My Digital Space CODEFEST 2026 (dok. IDN Times/Shafira Andini)

Tahun ini, tema CODEFEST adalah financial literacy dan basic banking knowledge. Hasilnya di luar ekspektasi, sejumlah peserta membuat API untuk memantau IHSG, ada juga yang membuat aplikasi manajemen keuangan pribadi, lengkap sampai ke topik investasi. Gagasan dan ide-ide ini memang bisa dibilang di luar ekspektasi. 

Seperti juara pertama tingkat SMA yang berasal dari Malang yang mengusung tema investasi lengkap dengan prestasinya yang percaya diri dan interaktif. Sementara sang Absolute Winner yang berasal SMP di Bali mengusung aplikasi MyFin untuk mencatat keuangan pribadi, dan masih banyak lagi ide-ide menarik dari para finalis. 

"Itu sebenarnya tidak ada dalam brief, tapi mereka mengembangkan sendiri karena mereka bisa sampai ke situ, sampai ke investasi," kata Luke. Untuk tahun-tahun berikutnya, UOB bersama Ruangguru masih mengevaluasi apakah tema akan tetap berkisar pada financial literacy atau diperluas, termasuk evaluasi dari sisi platform yang digunakan peserta. 

Sementara soal masa depan para juara CODEFEST yang memang ada dari jenjang SD hingga SMA/SMK, ia menegaskan program ini lebih soal menanam fondasi jangka panjang ketimbang rekrutmen instan, mengingat peserta masih berstatus pelajar SD hingga SMA. 

"Buat saya sih ini kita menanam pondasinya dulu. Who knows, mungkin beberapa tahun dari sekarang mereka akhirnya memang jadi talenta yang sukses," ujarnya, sambil menambahkan bahwa banyak perusahaan lain pun membutuhkan talenta-talenta seperti ini, tidak hanya UOB.

5. UOB percaya masa depan digital Indonesia tidak bisa dibangun sendirian

Luke Ariefiandi Nugraha, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia dalam sesi interview dengan IDN Times (dok. IDN Times/Shafira Andini)

Di luar program edukasi, UOB juga punya pilar CSR lain seperti program seni “UOB Painting of the Year” yang puncaknya akan berlangsung September ini, serta program scholarship dan kerja sama dengan berbagai institusi lain. Namun untuk digital education, My Digital Space tetap menjadi program flagship sehingga tantangan UOB bukan membuat program baru, melainkan memperdalam dan memperluas eksekusi yang sudah ada.

Luke menutup dengan menegaskan bahwa tantangan digital masa depan, termasuk ancaman AI terhadap dunia kerja, tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. 

"Kita menyadari tantangan di masa depan ini nggak bisa di-solve hanya dengan kita sendiri, ini dibutuhkan benar-benar kolaborasi antara perusahaan-perusahaan seperti UOB, salah satunya juga dengan society dan juga dengan pemerintah, juga dengan sekolah-sekolah," tegasnya. 

Ia berharap langkah UOB ini bisa menimbulkan ripple effect yang mendorong institusi lain melakukan hal serupa demi mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian terlebih di bidang teknologi yang akan semakin berkembang ke depannya. 

Dalam puncak acara kemarin pun, tak hanya dihadiri para peserta terpilih, namun juga dukungan orangtua terkait kemampuan putra putri mereka di dunia coding. Jadi, tunggu CODEFEST tahun depan. Dan jangan lupa join UOB My Digital Space di sekolah daerahmu ya parents! (WEB/TAMA)

Editorial Team

Related Article