"Generasi milenial menghadapi dunia yang berbeda dalam hal ketidakstabilan finansial, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta tekanan media sosial. Menjadi orangtua saat ini memang lebih sulit, terutama dari segi biaya hidup dibandingkan masa lalu, meskipun sudah memperhitungkan inflasi," ujar Dr. Mona Amin, dokter anak dan parenting expert, dikutip dari HuffPost.
7 Hal yang Diinginkan Ortu Milenial agar Dipahami Generasi Sebelumnya

- Orangtua milenial menghadapi tantangan baru seperti tekanan ekonomi, media sosial, dan keseimbangan hidup, sehingga pola asuh perlu menyesuaikan perkembangan zaman tanpa dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
- Mereka menekankan pentingnya peran setara antara ayah dan ibu dalam pengasuhan, serta keterbukaan terhadap bantuan profesional demi menjaga keseimbangan keluarga dan kesehatan mental.
- Anak dipandang sebagai individu yang berhak dihormati; komunikasi empatik, pengalaman bersama keluarga, dan perhatian pada kesejahteraan emosional menjadi prioritas utama dalam pola asuh masa kini.
Setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda dalam membesarkan anak. Orangtua milenial pun tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Perbedaan inilah yang membuat pola pengasuhan terus berkembang dari waktu ke waktu.
Bukan berarti orangtua milenial menganggap pola asuh generasi sebelumnya salah. Mereka hanya berharap orangtuanya memahami bahwa tantangan keluarga masa kini sudah banyak berubah. Mulai dari tekanan ekonomi hingga kesehatan mental, berikut beberapa hal yang diinginkan orangtua milenial agar lebih dipahami oleh orangtua mereka.
1. Pola asuh perlu menyesuaikan perkembangan zaman

Orangtua milenial menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dituntut menyeimbangkan pekerjaan, keluarga dan berbagai ekspektasi sosial yang terus berkembang. Di saat yang sama, tekanan dari media sosial juga membuat banyak orangtua merasa perlu memenuhi standar parenting yang semakin tinggi.
Karena itu, banyak orangtua milenial berharap generasi sebelumnya tidak lagi membandingkan pola asuh masa kini dengan pengalaman di masa lalu. Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda sehingga cara membesarkan anak pun perlu terus menyesuaikan kebutuhan keluarga saat ini.
2. Mengasuh anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah

Orangtua milenial memandang bahwa mengasuh anak merupakan tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah. Keterlibatan ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak pun tidak lagi dianggap sebagai bantuan, melainkan bagian dari perannya sebagai orangtua.
Karena itu, pembagian tugas dalam rumah tangga menjadi hal yang semakin umum diterapkan. Mulai dari mengganti popok hingga menemani anak belajar, semua dapat dilakukan secara setara agar beban pengasuhan tidak hanya ditanggung oleh satu pihak.
3. Bantuan dalam mengasuh anak tidak selalu harus berasal dari keluarga

Konsep "dibutuhkan satu komunitas untuk membesarkan seorang anak" masih relevan bagi banyak orangtua milenial. Namun, dukungan tersebut tidak selalu harus datang dari keluarga karena bantuan profesional seperti pengasuh anak atau daycare juga dapat menjadi pilihan.
Menggunakan bantuan dari luar bukan berarti orangtua tidak mampu mengasuh anaknya sendiri. Justru, hal ini dapat membantu menjaga keseimbangan hidup dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga.
4. Kesehatan mental merupakan bagian penting dari pengasuhan anak

Berbeda dengan generasi sebelumnya, orangtua milenial lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Mereka menyadari bahwa kondisi emosional orangtua dapat memengaruhi pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi salah satu prioritas dalam kehidupan keluarga.
Tak hanya untuk diri sendiri, orangtua milenial juga lebih memperhatikan kesehatan emosional anak-anak mereka. Mereka mengajarkan anak untuk mengenali emosi, mengungkapkan perasaan dengan sehat, dan tidak merasa malu untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Hal-hal tersebut dipandang sebagai bagian penting dalam membesarkan anak yang bahagia dan tangguh.
"Banyak milenial memprioritaskan kesehatan mental mereka sendiri dan kesejahteraan emosional anak-anak mereka melalui terapi, mindfulness, serta komunikasi yang terbuka mengenai kesehatan mental,” ujar Dr. Mona Amin.
“Mereka ingin orangtuanya memahami bahwa kesehatan mental bukan lagi hal yang tabu, melainkan bagian penting dalam membesarkan anak yang bahagia dan tangguh," tambahnya.
5. Ekspektasi terhadap orangtua masa kini semakin tinggi

Menjadi orangtua saat ini tidak hanya soal memastikan anak tumbuh sehat dan mendapatkan pendidikan yang baik. Orangtua milenial juga dituntut untuk lebih terlibat dalam berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari pendidikan hingga perkembangan emosionalnya.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap orangtua masa kini juga semakin tinggi. Mereka diharapkan mampu menyeimbangkan peran sebagai orangtua, pekerja, dan individu sehingga tak sedikit yang merasakan beban mental yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
6. Menciptakan pengalaman bersama keluarga menjadi sebuah prioritas

Bagi banyak orangtua milenial, menciptakan kenangan indah bersama anak sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan materi. Karena itu, waktu berkualitas bersama keluarga menjadi salah satu hal yang diprioritaskan di tengah kesibukan sehari-hari.
Mereka percaya bahwa masa kecil anak tidak hanya dibentuk oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan bersama orang-orang terdekatnya. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal emosional yang positif bagi anak hingga tumbuh dewasa.
7. Anak adalah individu yang berhak dihormati

Orangtua milenial memandang anak sebagai individu yang memiliki emosi, pendapat, dan hak untuk didengarkan. Karena itu, mereka lebih menghargai batasan pribadi anak serta membiarkannya mengekspresikan perasaan dengan sehat.
Mereka juga tidak ragu meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada anak. Bagi orangtua milenial, rasa hormat dan komunikasi yang penuh empati perlu dicontohkan terlebih dahulu di dalam keluarga.
"Satu hal yang aku harap dipahami oleh orangtua kami adalah bahwa kami memperlakukan anak-anak dengan penuh rasa hormat dan memahami bahwa mereka adalah manusia yang berhak mengekspresikan emosinya,” ujar Jamilla Svansson-Brown, parenting advocate dan content creator, dikutip dari HuffPost.
“Menurutku, cara terbaik untuk mengajarkan anak menjadi pribadi yang menghormati orang lain adalah dengan terlebih dahulu memberikan rasa hormat kepada mereka," tambahnya.
Perbedaan pola asuh antar generasi adalah hal yang wajar terjadi seiring perubahan zaman. Pada akhirnya, semua orangtua memiliki tujuan yang sama, yakni membesarkan anak yang bahagia, sehat, dan tumbuh dengan penuh kasih sayang.














![[QUIZ] Seberapa Tajam Matamu? Cek dengan Tebak Karakter Upin & Ipin Ini](https://image.idntimes.com/post/20250526/image-15-38aaa07364b27568f6d9ac02c74958a2.jpg)







